Masa Orientasi Siswa, Sebuah Fenomena

Masa Orientasi Siswa (MOS) adala suatu kegiatan untuk mengantar siswa ke jenjang pendidikan baru yang menjembatani siswa baru mengenali berbagai kekhususan dari jenjang pendidikan barunya, baik berupa lingkungan fisik, lingkungan sosial, maupun isi dan cara belajar yang berbeda dengan lingkungan pendidikan sebelumnya. MOS dilaksanakan berdasarkan surat Dirjen Dikdasmen No. 5181/C/MN/1998 tanggal 12 Juni 1998 perihal kegiatan hari-hari pertama siswa baru SMP atau SMA. MOS dilaksanakan secara mandiri oleh pihak sekolah, tanpa campur tangan pihak lain.

Salah satu sekolah yakni SMK Kehutanan Samarinda, mengemukakan tujuan MOS mereka yaitu mendapatkan kesan positif dan menyenangkan tentang lingkungan sekolahnya yang baru. Sekolah lainnya juga melaksanakan MOS dengan tujuan umum yang tidak jauh dari itu.

Pada praktiknya di lapangan, MOS berlangsung dengan menyenangkan apabila diamati oleh pihak sekolah, seperti kepada sekolah dan wakil-wakilnya. Akan tetapi, setelah pihak sekolah berlalu, kegiatan mulai berubah menjadi ajang perpeloncoan dan balas dendam senior kepada junior.

Beberapa kasus dalam MOS rata-rata merupakan kekerasan fisik seperti tinjuan, pukulan, serta hukuman fisik yang melelahkan. Tetapi ada juga kegiatan yang bertujuan untuk membuat siswa malu, seperti dijemur tanpa baju, disuruh berlari dengan celana pendek, bernyanyi di tengah lapangan seorang diri, dan lain sebagainya. Mulai dari yang hanya menyebabkan luka goresan, sampai yang mengakibatkan cidera fisik dan psikologi yang berat. Tak jarang, siswa yang telah mengalami cidera psikologi

Siti Masruroh, seorang pemerhati pendidikan yang juga merupakan Kabid PPTK Dinas Pendidikan Pekalongan, Jawa Tengah, menerangkan bahwa seharusnya MOS itu menciptakan kesan pertama yang menyenangkan, agar tercipta image dan memunculkan kecintaan dan motivasi yang tinggi serta kebanggaan para siswa pada sekolah yang menjadi rumah kedua bagi mereka.

MOS yang atraktif, informatif, dan komunikatif tentu sangat diinginkan oleh siswa baru. Tetapi, ini tergantung pihak sekolah, ingin menyelenggarakan MOS yang atraktif, informatif, dan komunikatif, atau melaksanakan MOS yang penuh dengan senioritas dan balas dendam.

MOS sangat perlu dilakukan, karena segudang manfaat dan mudahnya proses pelaksanaan. Dalam waktu singkat, seorang siswa baru dapat mengenal sekolahnya berikut guru-guru dan kakak-kakak tingkatnya. MOS sangat perlu dilaksanakan, jika atraktif, informatif, dan komunikatif. Jika tidak, MOS tidak boleh dilaksanakan karena segudang manfaat tadi berubah menjadi bencana yang mengancam fisik dan jiwa sang siswa baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s