Mengembangkan Sikap Profesionalisme dengan Melaksanakan Inovasi Pembelajaran Sastra di LPTK

Oleh: Elyusra*

*Dra. Elyusra, M.Pd. pengampu mata kuliah Kesusastraan dan Perencanaan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

 

ABSTRAK

Makalah ini membahas tentang mengembangkan sikap profesionalisme dengan melaksanakan inovasi pembelajaran. Mengembangkan sikap profesionalisme dan melaksanakan inovasi pembelajaran sangat terkait dengan aspek kognitif . Oleh sebab itu, pada makalah ini diungkapkan tentang konsepsi sikap profesionalisme dan inovasi pembelajaran. Sikap profesionalisme adalah komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu. Inovasi pembelajaran berkenaan dengan berbagai aspek pembelajaran yang dijalankan dengan prinsip: analisis, sifatnya konseptual, simpel dan terfokus, dari yang kecil, dan diarahkan pada kepeloporan.Seorang inovator diingatkan untuk tidak bersikap paling pintar, jangan berbuat terlalu banyak, dan jangan memiliki harapan yang terlalu muluk.Kondisi yang memungkinkan terlaksananya inovasi adalah: berkat hasil kerja, di atas kekuatan sendiri, serta berefek ekonomi dan masyarakat. Inovasi pembelajaran sastra di LPTK hendaknya dijalankan dengan mengacu pada dokumen-dokumen normatif, dokumen alternatif, dan realitas kontekstual suatu seting pembelajaran. Sebagai refleksi, beberapa inovasi pembelajaran yang telah dilaksanakan dalam pembelajaran sastra di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu adalah: Meningkatkan fasilitasi terhadap mahasiswa yang bermasalah; Merancang pembelajaran dengan teori elaborasi; Melaksanakan penilaian autentik: menyeimbangkan penilaian proses dan hasil, mencapai standar yang tinggi, menggunakan teknik penilaian portofolio, melaporkan hasil belajar secara analitik; Menggunakan teknik mencatat peta konsep.

 

1. Pendahuluan

Di dalam Undang-Undang RI nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan; Kedudukan dosen sebagai tenaga profesional pada jenjang perguruan tinggi bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Demikian mulianya amanah yang diemban dosen. Akan tetapi, berat pula tanggung jawab yang harus dijalankan. Dengan demikian, profesionalisme dosen saat ini perlu disikapi secara cermat dan handal.

Profesionalime adalah komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu (Danim,2002: 23). Pemikiran-pemikiran ke arah itu telah banyak diangkat ke permukaan terutama pada forum-forum ilmiah semacam seminar ini. Saat ini pun kita bertemu untuk melaksanakan hal yang sama. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa, kita terus-menerus mengembangkan strategi untuk menjalankan profesi kita. Selain itu, dapat pula bermakna bahwa upaya kita belum mencapai taraf yang maksimal.Kenyataan ini sejalan pula dengan pemikiran Danim ( 2002:21) di atas, bahwa berdasarkan penghampiran secara sosiologis, keprofesionalan yang ideal sesungguhnya tidak ada dalam kenyataan atau tidak pernah akan tercapai.

Sikap profesionalisme hendaknya terwujud dalam perbuatan yang didasarkan pada pendirian. Perbuatan atau tindak-tanduk itu, merupakan pula ciri profesi atau ciri orang yang profesional. Dengan demikian, dosen sebagai pengampu mata kuliah sastra di LPTK seyogianya mewujudkan sikap profesionalisme itu dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Perwujudan yang dimaksud adalah berupa perbuatan bukan kata-kata. Secara umum dinyatakan berupa menjalankan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Secara spesifik, dapat pula dilakukan sembari menjalankan tugas melaksanakan pembelajaran. Dalam hal ini berupa aktivitas melaksanakan IP (Inovasi Pembelajaran) sebagaimana yang akan dibahas dalam makalah ini.

Penulis berkeyakinan bahwa sebagian besar peserta seminar tidak merasa asing lagi dengan ide ini. Boleh jadi sudah merasa familiar, karena sudah sering didengar bahkan diperbincangkan. Namun demikian, kenyataan lainnya di lapangan belum menunjukan aktivitas yang nyata. Inovasi Pembelajaran dan PTK masih jauh dari tugas-tugas yang dijalankan dosen. Alasan yang diutarakan cukup beragam. Secara umum, menyangkut dua hal, yakni wawasan kognitif yang belum memadai yang berdampak pada penguasaan keterampilan yang minim dan kompetensi afektif yang belum terbina. Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang konsepsi IP dalam kerangka sebagai suatu upaya yang sangat mungkin dilaksanakan dan refleksi penulis terhadap pelaksanaan IP yang pernah dilakukan. Dengan ini diharapkan dapat menimbulkan penyadaran pada diri kita bersama bahwa melaksanakan IP merupakan bagian penting sikap profesionalisme seorang dosen sebagaimana yang diamanahkan pada Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tersebut.

Pembahasan ini diharapkan akan membangun paradigma kita tentang sikap profesionalisme profesi dosen, membangun paradigma kita tentang IP sebagai bagian integral dari tugas utama kita, dan memotivasi kita melaksanakan IP seiring melaksanakan tugas melaksanakan pembelajaran betapapun sederhananya.

2. Sikap Profesionalisme

Sikap merupakan suatu katagori pada ranah afektif. Ia berarti perbuatan yang

berdasarkan pada pendirian. Pendirian seseorang sering didasarkan pada pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian, ada interaksi faktor kognitif dengan sikap. Sikap yang apriori terhadap suatu objek dapat menghambat pencapaian suatu kompetensi kognitif. Sebaliknya, untuk mengubah suatu sikap diperlukan pemahaman yang sifatnya kognitif. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa untuk mewujudkan sikap profesionalisme dengan melaksanakan IP dibutuhkan pemahaman yang bersifat kognitif terhadapnya.

Profesionalisme tidak hanya sebatas komitmen yang diikrarkan. Lebih dari itu, hendaknya terwujud dalam upaya terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakan dalam menjalankan suatu profesi. Beberapa pemikiran dari Danim (2002: 21- 26 ) yang gayut dengan permasalahan ini, sebagaimana diungkapkannya:

1) Seseorang yang profesional melakukan pekerjaan secara otonom;

2) Para profesional mengabdikan diri pada pengguna jasa dengan disertai rasa tanggung jawab atas kemampuan profesionalnya itu;

3) Kinerja yang dipertunjukkan para profesional dimuati oleh unsur-unsur kiat atau seni yang menjadi ciri tampilan profesional ditambah dengan kemampuan intuitif

4) Para profesional senantiasa mengembangkan kepribadiannya.

5) Pengakuan profesional disertai bukti rill, yang dapat berupa karya ilmiah atau produk kerja.

Penciri profesional di atas akan semakin berkembang apabila dihubungkan dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik.

3. Paradigma Baru tentang Proses Belajar – Mengajar

Paradigma atau petunjuk adalah suatu teori, perspektif, atau kerangka berpikir yang menentukan bagaimana kita memandang, menginterpretasikan, dan memahami aspek-aspek kehidupan. Untuk bisa mencapai tujuan dengan benar, kita membutuhkan peta yang baik dan tepat. Jadi, paradigma bisa dikatakan sebagai peta dalam perjalanan kita dalam kehidupan.

Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah. Teori, penelitian dan pelaksanaan kegiatan belajar- mengajar membuktikan bahwa para guru sudah harus mengubah paradigma pengajaran. Pendidik perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar berdasarkan beberapa pokok pemikiran sebagai berikut: 1) Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh pembelajar; 2) Pembelajar membangun pengetahuan secara aktif; 3) Pengajar perlu berusaha mengembangkan kompetensi siswa; 4) Pendidikan adalah interaksi pribadi di antara para pembelajar dan interaksi antara guru dengan pembelajar ( Lie, 2002: 4-5 ).

Paradigma baru pengajaran menempatkan proses belajar-mengajar sama pentingnya dengan apa yang dipelajari. Bahkan ada yang berpendapat, bahwa cara mengajarkan lebih penting dari apa yang dipelajari. Eric Jensen, penulis Super Teaching dan penemu Super Camp, yakin bahwa dua unsur utama yang mempengaruhi proses belajar adalah keadaan dan strategi. Yang ketiga tentunya isi. “Keadaan” menciptakan suasana yang tepat untuk belajar. “Strategi” menunjukkan gaya atau metode presentasi. “Isi” adalah topiknya. Dalam setiap mata pelajaran Anda akan mendapatkan ketiganya (Dryden dan Vos, 2004: 307). Suyatno menegaskan: Keberhasilan pembelajaran adalah penguasaan metode pembelajaran”. Hernowo ( 2004: 312 dan 35 ) mengatakan, “kesadaran bahwa bagaimana mengajarkan adalah sama penting dengan apa yang akan diajarkan”. Oleh sebab itu, ia mengingatkan: Guru, pada masa kini, sudah tidak lagi layak jika hanya duduk atau berdiri dan berkata-kata”.

Berdasarkan paradigma baru tentang proses belajar-mengajar di atas, dapat dipahami bahwa inovasi pembelajaran adalah suatu keharusan.

4.Inovasi Pembelajaran

Inovasi adalah pemasukan atau pengenalan hal-hal baru; pembaharuan; atau penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Pembaharuan tersebut, dapat berupa gagasan, metode, atau alat (KBBI, 2001: 435). Dikatakan Zakaria ( Universitas Muhammadiyah Bengkulu , 2007) bahwa tidak ada perubahan di dalam bidang apapun tanpa inovasi yang dilakukan secara terus- menerus. Dijelaskan pula bahwa inovasi pembelajaran adalah sesuatu yang baru mengenai pembelajaran. Pembaharuan tersebut mencakup berbagai aspek pembelajaran, dapat berupa visi, misi, tujuan, program, layanan, metode, teknologi, proses, dan evaluasi pembelajaran.

Pengertian inovasi pembelajaran tentu tidak hanya sebatas melakukan sesuatu yang sebelumnya belum dilakukan pada suatu pembelajaran. Dosen dituntut melakukan yang lebih dari itu. Dikatakan Joice dan Weil “ Inovasi dalam pendidikan sering dihubungkan dengan pembaharuan yang berasal dari hasil pemikiran kreatif, temuan dan modifikasi yang memuat ide dan metode yang dipergunakan untuk mengatasi suatu permasalahan pendidikan (dalam Situmorang dan Sinaga, www.geocities.com/J_Sains/Vol I _No.3.html#_toc156796043). Diingatkan pula oleh Zakaria, bahwa” inovasi yang dilakukan dapat mencapai tujuan agar pembelajaran di perguruan tinggi berlangsung dengan efektif, efisien, menarik, menyenangkan, dan terjamin secara optimal kualitas yang telah dijanjikan ( UMB, 2007).

Peter M. Drucker seorang penulis terkenal dalam bukunya Innovation and Entrepreneuship mengemukakan lima prinsip inovasi:

1. Inovasi memerlukan analisis berbagai kesempatan dan kemungkinan yang terbuka. Artinya suatu inovasi hanya dapat terjadi kalau kita mempunyai kemampuan analisis.

2. Inovasi sifatnya konseptual, artinya yang bermula dari suatu keinginan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan yang dapat diterima oleh masyarakat. Artinya bahwa aktor inovasi tersebut haruslah mempunyai persepsi terhadap kebutuhan masyarakat yang cocok dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di mana dia hidup.

3. Inovasi hendaklah bersifat simpel dan terfokus. Simpel artinya harus sederhana dan terarah.

4. Inovasi harus dimulai dengan yang kecil. Tidak semua inovasi dimulai dengan ide-ide yang sangat besar yang tidak terjangkau oleh kehidupan nyata manusia. Dari keinginan yang kecil untuk memperbaiki suatu kondisi atau suatu kebutuhan hidup ternyata kelak mempunyai impact yang sangat luas terhadap kehidupam manusia selanjutnya.

5. Inovasi diarahkan kepada kepemimpinan atau kepeloporan. Inovasi selalu diarahkan bahwa hasilnya akan menjadi suatu pelopor dari suatu perubahan yang diperlukan. Apabila tidak demikian maka intensi suatu inovasi kurang jelas dan tidak memperoleh apresiasi dalam masyarakat.

( dalam Tilaar, 1999:356 )

Ada beberapa hal yang tidak boleh kita perbuat dalam melaksanakan suatu inovasi:

1) Kita janganlah bersikap yang paling pintar ( keminter ), artinya inovasi tidak akan terjadi apabila kita menganggap diri kita yang paling pintar, yang paling berhak mengadakan perubahan.

2) Jangan berbuat terlalu banyak sekaligus. Mulailah dengan yang kecil dan sederhana, sebab yang kecil dan yang sederhana merupakan batu loncatan untuk inovasi bagi hal-hal yang lebih besar. Yang sederhana berakar di dalam kebutuhan yang nyata dari kebutuhan masyarakat untuk sesuatu yang lebih baik.

3) Inovasi jangan mempunyai harapan yang muluk untuk mengubah masa depan. Mulailah dengan kondisi yang ada untuk diubah.

Kondisi-kondisi yang memungkinkan terlaksananya suatu inovasi:

1) Inovasi adalah suatu hasil kerja. Tanpa bekerja, tanpa berbuat, tidak terjadi inovasi. Dalam hal ini inovasi menuntut suatu keberanian untuk bertindak meskipun keberanian semata-mata belumlah cukup. Keberanian yang didukung suatu pemikiran konseptual yang berencana dan tentunya dengan suatu harapan bahwa kegiatan kita akan menghasilkan sesuatu.

2) Inovasi harus berdiri di atas kekutan sendiri. Artinya, inovator adalah orang yang mempunyai keyakinan yang teguh atas apa yang diperbuatnya dan apa yang diharapkan dari tindakannya itu. Seorang inovator haruslah mempunyai kepribadian yang kuat oleh karena hanya dengan demikian dia tidak mudah putus asa tetapi terus- menerus berusaha dan yakin akan keberhasilan kegiatannya.

3) Inovasi adalah suatu efek di dalam ekonomi dan masyarakat. Artinya, inovasi tersebut harus dekat dengan pasar atau dengan kebutuhan pasar ( market driven ). Hal ini berarti inovasi adalah atas permintaan pasar. Permintaan pasar dalam hal ini berarti konsep tersebut sesuai dengan kebutuhan pasar.

Yang menciptakan inovatif pembelajaran di perguruan tinggi adalah para perancang pembelajaran dan para pengajar. Zakaria (2007 : 1) mengatakan pula bahwa suatu perubahan dapat dinyatakan sebagai inovasi pembelajaran, apabila memenuhi kriteria : 1) apabila diciptakan sendiri oleh lembaga atau personil pada suatu lembaga, 2) tidak harus diciptakan oleh lembaga atau personil pada suatu lembaga. Ia menegaskan bahwa posisi dosen berada pada kedua-duanya.

5. Acuan Melaksanakan Inovasi Pembelajaran untuk Aspek Kemampuan Bersastra

Inovasi pembelajaran hendaknya didahului oleh proses mamahami beragam dokumen normatif, seperti peraturan meteri dan dokumen alternatif ( buku teks atau sumber lain) serta realitas kontekstual ( mahasiswa dan kebutuhannya), dan selanjutnya mewujudkan hasil pemahaman itu menjadi dokumen aplikatif ( silabus dan RPP) yang siap dilaksanakan dalam pembelajaran (http://suyonoum08.wordpress.com)

Dalam Permen RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, bab IV pasal 19 dinyatakan:

“Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat,minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Kegiatan belajar-mengajar (KBM) berdasar Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) hendaknya dijalankan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :

1) Berpusat pada siswa; 2) Belajar dengan melakukan; 3) Mengembangkan kemampuan sosial; 4) Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan; 5) Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah; 6) Mengembangkan kreativitas siswa; 7) Mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu an teknologi, 8) Menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik; 9) Belajar sepanjang hayat; 10) Perpaduan kompetisi, kerfa sama, dan solidaritas (Muslich, 2007: 24-25 ).

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah:

1) Disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik (guru), agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional

2) Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai KD.

3) Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.

4) Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik, yaitu kegiatan peserta didik dan materi ( Depdiknas, 2008: 01, 18-19 ).

Rambu-rambu pada acuan-acuan yang telah disampaikan di atas, sebenarnya telah ada pada pemikiran- pemikiran para ahli pembelajaran sastra yang dikemukakan jauh sebelum diberlakukannya KBK. Pemikiran-pemikiran tersebut berupa prinsip-prinsip pembelajaran sastra yang sejalan dengan dokumen-dokumen normatif di atas dan mengandung aspek-aspek pembelajaran inovatif. Oleh sebab itu, dalam merancang pembelajaran sastra ( inovatif ), perlu diperhatikan prinsip-prinsip tersebut.

Situasi pembelajaran yang memungkinkan termilikinya kemampuan apresiasi bagi para pembelajar adalah yang memenuhi beberapa hal sebagai persyaratan. Persyaratan tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Wardani (1981: t.h.) berikut:

1. Tujuan pembelajaran sastra dikuasai dengan jelas oleh pengajar serta benar–benar dijadikan arah dalam segala kegiatan sastra

2. Siswa diberi kesempatan dan didorong untuk bergaul (dalam arti menelusuri dan menghayati ) cipta sastra.

3. Teori dan sejarah sastra disajikan sebagai dasar untuk penanaman apresiasi, bukan sebagai beban yang memberati mahasiswa.

4. Tuntunan ke arah apresiasi diberikan secara teratur dan terencana.

5. Di samping jam-jam tatap muka terdapat juga kegiatan penunjang yang diprogramkan secara teratur.

6. Tersedia sarana dan prasarana yang lengkap terutama perpustakaan yang lengkap dengan berbagai cipta sastra.

7. Dalam penilaian, aspek sikap/apresiasi juga diikutsertakan.

6. Inovasi Pembelajaran Sastra di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu, suatu Refleksi

Penulis mulai dengan intuitif. Dua puluh tahun yang lalu, sebagai seorang dosen muda ( dalam rangka inovasi pembelajaran, tiga tahun terakhir ini penulis sudah menggunakan istilah pengampu matakuliah ) baru mulai mengajar, serta rasa idealisme yang kental, penulis tidak dapat menerima konsepsi dan persepsi mahasiswa tentang hakikat kuliah yang berarti ingin mendapatkan nilai namun tidak peduli dengan aktivitas belajar. Dalam pembelajaran kajian sastra, misalnya kajian terhadap sebuah novel, ketika dicek pada saat akan berdiskusi ternyata hanya beberapa orang mahasiswa saja yang membaca novel tersebut. Secara intuitif, penulis tidak dapat membiarkan hal itu terjadi, karena tidak sesuai dengan hakikat belajar. Mahasiswa tersebut tidak berproses. Sebagai hukuman, mahasiswa tersebut tidak diperbolehkan mengikuti perkuliahan. Intuisi itu ternyata benar. Sejak diberlakukannya KBK pada tahun 2004 bahwa penilaian harus mencakup penilaian proses dan hasil.

Secara intuitif, penulis berkeinginan mahasiswa yang lulus pada suatu mata kuliah yang penulis ampu, lulus dengan standar yang dapat “diadu”. Untuk itu, mahasiswa yang penguasaannya di bawah standar yang telah ditetapkan, standar yang cukup tinggi, harus mengulang. Intuitif itu benar lagi. Pembelajaran berbasis KBK yang dijalankan dengan pendekatan kontekstual menggunakan sistem penilaian autentik. Salah satu komponennya adalah mencapai standar yang tinggi ( Elaine, 2002: 149-177 ).

Perilaku mengajar, keputusan pembelajaran di atas, penulis refleksi. Apakah tepat menghukum mahasiswa dengan cara demikian? Dalam hati penulis berucap: “Mungkin kesalahannya tidak pada mereka”, lalu bagaimana? Melalui pendidikan berkelanjutan yang penulis lakukan dengan model reflektif (Elyusra,2008) ternyata fasilitasi yang penulis berikan masih kurang. Dengan demikian, kesalahan tidak sepenuhnya pada mahasiswa. Hal ini diperkuat oleh penjelasan Prof. DR. Degeng pada suatu seminar yang menyatakan bahwa menghukum mahasiswa bukanlah suatu jalan keluar, bahkan sebaliknya, menambah satu masalah lagi bagi mahasiswa tersebut. Sekali lagi, intuisi itu kembali benar. Dua tahun terakhir ini, dapat dipastikan bahwa paling kurang 90% mahasiswa menikmati dan mengalisis bahan ajar berupa novel yang dipelajari. Strategi fasilitasi yang penulis lakukan adalah melakukan pengecekkan secara bertahap.

Berdasarkan PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 ayat 3 dan Pedoman sertifikasi guru 2005, pada kompetensi profesional guru pemula dinyatakan bahwa mahasiswa calon guru harus menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang mencakup substansi dan metodologi bidang ilmu serta materi kurikulum sekolah .Pembelajaran secara konvensional dengan teknik ceramah dan tanya jawab tidak mungkin mewujudkan hal di atas.

Inovasi yang penulis lakukan adalah dengan melaksanakan pembelajaran yang dirancang berdasarkan Teori Elaborasi, dijalankan dengan tujuh prinsip, yaitu: 1) Menyajikan kerangka mata kuliah pada fase atau pertemuan pertama; 2) Bagian-bagian yang tercakup kedalam kerangka isi dielaborasi secara bertahap; 3) Bagian yang terpenting hendaknya dielaborasi pertama kali; 4) Kedalaman dan keluasan elaborasi hendaknya dilakukan secara optimal; 5) Pensintesis hendaknya diberikan setelah setiap kali melakukan elaborasi, 6) Jenis pensintesis hendaknya disesuaikan dengan tipe isi mata kuliah; 7) Rangkuman hendaknya diberikan sebelum setiap kali menyajikan pensintesis ( Degeng, 1989).

Empat tahun terakhir ini penulis telah mengembangkan pemakaian teknik mencatat peta konsep, baik sebagai media pembelajaran maupun sebagai bentuk laporan tugas meringkas materi. Pemakaian teknik mencatat peta konsep memungkinkan satu topik tersaji pada satu halaman kertas (Elyusra, 2008). Aktivitas belajar membuat ringkasan materi dalam bentuk peta konsep merupakan salah satu komponen penilaian dengan bobot 5%. Penilaiannya dilaksanakan dengan teknik penilaian berbasis Kelas. Dengan teknik ini, mahasiswa membuat dan memiliki ringkasan semua materi perkuliahannya.

Hasil belajar mahasiswa dilaporkan secara analitik. Sebagai contoh, hasil belajar mata kuliah Apresiasi dan Kajian Puisi T.A. 2008-2009 dilaporkan dengan komponen penilaian dan bobot sebagai berikut: Kehadiran 5%; Partisipadi dalam PBM 10%; Meringkas materi pembelajaran 5%; Mengkaji puisi dengan pendekatan semiotik 10%; Mengkaji puisi dengan pendekatan strukturalisme-Genetik 10%; Ujuan Tengah Semester 10%; Memiliki buku kumpulan puisi, menikmatinya, dan mengungkapkan identifikasinya secara lisan 10%; Membuat kliping puisi 10%; Membacakan puisi 5%; Menulis puisi 10%; Ujian Akhir semester 15%.

Model pelaporan hasil belajar yang demikian, dapat menginformasikan secara lengkap dan jelas ( transparan) tentang kompetensi yang telah dicapai mahasiswa serta banyak memberikan kemudahan baik kepada mahasiswa maupun pengampu mata kuliah. Bagi mahasiswa yang BL (Belum Lulus) pada saat mengikuti program remedial semester pendek, cukup mempelajari ulang kompetensi yang belum tuntas. Dari respon secara lisan yang dikemukakan mahasiswa, model ini sangat berterima.

Mulai tahun 2008 penulis melaksanakan pembelajaran kajian sastra dengan bentuk laporan tugas berupa makalah atau artikel dengan menerapkan kaidah penulisan ilmiah sepenuhnya dan menggunakan penilaian portofolio. Inovasi ini dilakukan berdasarkan tuntutan KBK dan dalam rangka mengintegrasikan penelitian pada semua mata kuliah.

7. Penutup

Mengembangkan sikap profesioanal bagi seorang dosen hendaknya dilakukan secara terus-menerus. Satu cara dapat diwujudkan dengan melaksanakan inovasi pembelajaran. Inovasi pembelajaran sastra di LPTK seyogianya dijalankan seorang dosen berdasarkan pemahaman terhadap konsepsi sikap profesioanalisme dan inovasi pembelajatan. Sikap profesioanal adalah komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu.

Inovasi pembelajaran sastra di LPTK akan berhasil apabila dilaksanakan dengan memperhatikan acuan nomatif, acuan alternatif, serta realitas kontekstual. Inovasi pembelajaran berkenaan dengan berbagai aspek pembelajaran yang dijalankan dengan prinsip: analisis, sifatnya konseptual, simpel dan terfokus, dari yang kecil, dan diarahkan pada kepeloporan.Seorang inovator diingatkan untuk tidak bersikap paling pintar, jangan berbuat terlalu banyak, dan jangan memiliki harapan yang terlalu muluk.Kondisi yang memungkinkan terlaksananya inovasi adalah: berkat hasil kerja, di atas kekuatan sendiri, serta berefek ekonomi dan masyarakat. Sebagai refleksi, beberapa inovasi pembelajaran yang telah dilaksanakan dalam pembelajaran sastra di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu adalah: Meningkatkan fasilitasi terhadap mahasiswa yang bermasalah; Merancang pembelajaran dengan teori elaborasi; Melaksanakan penilaian autentik: menyeimbangkan penilaian proses dan hasil, mencapai standar yang tinggi, menggunakan teknik penilaian portofolio, melaporkan hasil belajar secara analitik; Menggunakan teknik mencatat peta konsep.

Daftar Pustaka

Danim, Sudarwan. 2002. Inovasi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Degeng, I Nyoman Sonada. 1989. “Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel”. Jakarta: Depdikbud.

Depdiknas. 2008. “Panduan Umum Pengembangan Silabus” dalam Perangkat Pembelajaran Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan KTSP SMA. Jakarta: Depdiknas.

Drayden & Vos. 1999. Evolusi cara Belajar. Terjemahan Word++ Translation Service.2004. Bandung: Penerbit Kaifa.

Elyusra. 2008. “Model Reflektif dalam Pengembangan Profesional Berkelanjutan: Refleksi Pengalaman Praktis Mendesain Kontrak Perkuliahan”, Makalah dalam Seminar Internasional dengan Tema Pengembangan Profesional Berkelanjutan (Continued Professonal Development) yang Diselenggarakan oleh FKIP Universitas Bengkulu, 6 Desember 2008.

Elyusra. 2007. “Model Elaborasi dan Peta Konsep pada Perkuliahan Teori Sastra, Suatu Inovasi Pembelajaran di LPTK”, Makalah dalam Seminar Nasional dengan Tema Pembinaan dan Pengembangan Bahasa yang Diselenggarakan oleh FKIP Universitas Bengkulu, 19 November 2008.

Hernowo. 2004. Bu Slim & Pak Bil Membincangkan Pendidikan di Masa Depan. Bandung:MIC.

Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning: Mempraktikan Cooperatif Learning di ruang-ruang kelas. Jakarta: Grasindi.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.

Peraturan Pemerintah RI, Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Suyono.2008.Siasat Perencanaan Pembelajaran, (http://Suyonoum08.wordpress.com, download tanggal 8/11/2008.

Tilaar, H.A.R.. 1999. “Inovasi Pendidikan untuk Berpartisipasi dalam Masyarakat Kompetitif Era Globalisasi” dalam Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.

Johson, Elaine. 2002. Contextual Teaching and Learning. California: Corwin Press.

Wardani, I.G.A. 1981. “Pengajaran Sastra” Jakarta: Departemen P dan K.

Zakaria, 2007. “Strategi Inovasi dan Penjaminan Mutu Pembelajaran” dalam Pelatihan Inovasi Pembelajaran. Bengkulu: Panitia Pelatihan Inovasi Pembelajaran bagi Dosen Perguruan Tinggi Swasta dalam Lingkungan Kopertis Wilayah II.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s