Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran Menuju Sertifikasi dengan Model GMD

Oleh : Dra. Elyusra, M. Pd.*

*Dosen Pengampu Mata Kuliah Kesusastraan dan Pembelajaran BSI di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

 

ABSTRAK

Pemerintah mengadakan sertifikasi dan uji kompetensi ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan. Bagian daripadanya adalah untuk peningkatan proses dan hasil pembelajaran di sekolah. Dalam kenyataan, sertifikasi dipersepsi secara salah oleh kalangan pendidikan, khususnya guru bahwa sertifikasi adalah tujuan. Sehingga dalam praktiknya, yang diupayakan adalah pemerolehan sertifikat profesinya bukan melaksanakan upaya-upaya peningkatan mutu pembelajaran. Akan tetapi, ada pula kalangan guru yang telah mempertunjukkan minat dan melaksanakan usaha perbaikan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakannya. Sejauh pengamatan penulis upaya tersebut belum optimal. Penyebabnya adalah pengetahuan dan wawasan yang masih terbatas tentang model yang dapat diterapkan, serta pelaksanaannya yang dilakukan secara sendiri-sendiri.

Ada beberapa model peningkatan proses dan hasil pembelajaran yang sudah dikembangkan, diantaranya PTK dan Lesson Study. Kedua model ini pelaksanaannya bersifat kolaboratif. Hal ini seiring dengan paradigma baru yang mulai dianut kalangan pendidikan, khususntya bidang pembelajaran. Pada kesempatan ini, penulis menawarkan satu model peningkatan proses dan hasil pembelajaran, yakni model GMD. Model ini merupakan cara meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan secara berkolaboratif antara Guru Pamong (GP), Mahasiswa Praktik (MP), dan Dosen Pembimbing lapangan (DPL) ketika pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan ( PPL ) oleh suatu LPTK di suatu satuan pendidikan atau sekolah. Adapun prosedurnya: 1) memilih mitra , 1) membuat perencanaan, 3) melaksanakan tindakan dan observasi 4) melaksanakan diskusi dan refleksi, 5) merencanakan pelaksanaan tahap / siklus 2, dan seterusnya.

Model GMD sangat mungkin dilaksanakan dan optimal mencapai hasil peningkatan kualitas pembelajaran, karena sistemnya tidak terlalu rumit dan alamiah. Model GMD pun kaya manfaat, diantaranya: Mengoptimalkan pencapaian tujuan Program PPL; Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah dan LPTK; Meningkatkan kerjasama profesional di antara pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah dan LPTK; Tumbuhnya pembudayaan mutu di lingkungan pendidikan; serta terlaksananya pengembangan profesional berkelanjutan.

Optimalisasi model ini akan dicapai apabila pihak LPTK dapat memasukkan program ini sebagai bagian dari program PPL. Pihak sekolah pun demikian, ada baiknya mengambil kesempatan masa pelaksanaan PPL di sekolah tersebut untuk melaksanakan upaya peningkatan proses dan hasil pembelajaran dengan Model GMD, tentunya.

1. Pendahuluan

Salah satu implikasi disahkannya UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah pelaksanaan sertifikasi. Tujuan dari sertifikasi adalah upaya peningkatan mutu pendidikan. Banyak pihak yang berpendapat bahwa kualitas pendidikan , pertama ditentukan oleh kualitas guru. Oleh sebab itu, tujuan peningkatan kualitas pendidikan akan tercapai apabila terjadi peningkatan kualitas guru dalam mengajar.

Perdebatan tentang keberdayaan program sertifikasi untuk meningkatkan kualitas guru sampai saat ini masih bergulir. Banyak pihak yang meragukan, bahkan pesimis, sertifikasi dapat meningkatkan kualitas guru. Hal tersebut disebabkan berbagai perilaku tidak wajar yang dipertunjukkan oleh pihak-pihak yang berhubungan dengan program tersebut. Pihak yang lebih banyak disoroti adalah pihak yang berhubungan langsung dengan sertifikasi tersebut, yaitu guru.

Perilaku guru yang mendapat sorotan tersebut adalah perilaku yang mengkonsepsi sertifikasi sebagai suatu tujuan. Para guru yang diusulkan sekolah mengikuti sertifikasi berlomba-lomba mempersiapkan portofolionya dengan semangat yang tinggi. Berbagai usaha dilakukan. Misalnya, mengikuti berbagai kegiatan ilmiah, seperti seminar dan pelatihan, melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran inovatif yang lengkap dengan disain pembelajarannya, mengikuti kegiatan MGMP, dan sebagainya. Pihak sekolah pun demikian, memberikan berbagai kemudahan atau fasilitasi yang dapat memperlancar proses sertifikasi guru tersebut. Secara kasat mata, aktivitas tersebut kelihatan baik. Akan tetapi, apabila dianalisis secara kritis dalam prakteknya terjadi penyimpangan-penyimpangan. Ada kecendrungan konsepsi, bahwa pemerolehan sertifikat pendidik adalah akhir dari semuanya.

Seorang guru menyatakan kepada penulis bahwa teman sejawatnya yang telah mendapatkan sertifikat pendidik memberinya berkas-berkas portofolio sambil menyatakan tidak membutuhkannya lagi. Kegiatan-kegiatan ilmiah dan pelatihan yang diikuti guru calon peserta sertifikasi semata-mata untuk memperoleh persyaratan sertifikasi, seperti piagam. Hal ini terlihat dari ketidaksungguhan guru mengikuti kegiatan itu, seperti tidak mengikuti acara sampai selesai, lebih senang apabila jadwal kegiatan diakhiri lebih awal, meninggalkan acara, dan sebagainya. Pelaksanaan pembelajaran inovatif dilaksanakan tanpa kajian yang mendalam. Yang penting, ada RPP-nya, karena itulah yang dibutuhkan sebagai dokumen portofolio.Kemudahan atau fasilitasi diberikan pihak sekolah pun tidak wajar, seperti memberikan pernyataan atau keterangan yang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Kecenderungan di atas harus diwaspadai. Fasli Jalal memperingatkan:

“Bagi bangsa dan pemerintah Indonesia senantiasa mewaspadai kecenderungan ini, bahwa jangan sampai sertifikasi menjadi tujuan. Oleh karenanya, semenjak awal harus ditekankan khususnya di kalangan pendidik, guru, dan dosen, bahwa tujuan utama adalah kualitas, sedangkan kualifikasi dan sertifikasi merupakan sarana untuk mencapai kualitas tersebut.

(http://sertifikasiguru.org/index.php?mact=News,cntnt01,detail,0&cntnt01articleid=69&cntnt01returnid=63)

Kecenderungan di atas, tentu tidak pula dapat diberlakukan secara merata. Sebagian guru ada yang memperlihatkan kesadaran dan niat meningkatkan kualitas pendidikan, serta berusaha melaksanakan pembelajaran yang bermutu atau berhasil. Dari diskusi dengan beberapa orang guru pamong yang membimbing mahasiswa praktik mengajar di beberapa sekolah di kota Bengkulu, penulis mendapatkan informasi bahwa sebagian guru antusias mendapatkan informasi tentang Model Pembelajaran Inovatif (MPI), Konsepsi Penelitian Tindakan Kelas (PTK), pemakaian peta konsep dalam pembelajaran, dan sebagainya. Akan tetapi, ada pernyataan guru yang menyatakan keraguan mereka melaksanakan upaya-upaya perbaikan mutu pembelajaran tersebut. Persoalannya, disebabkan wawasan konseptual yang belum memadai dan keraguan akan keberhasilannya atau takut gagal. Di lain pihak, mahasiswa yang telah memiliki pengetahuan tentang paradigma baru pembelajaran, misalnya pengetahuan tentang model-model pembelajaran inovatif, merasa ragu pula untuk menerapkannya. Mereka cenderung mengikuti “irama” guru pamong tadi. Setelah selesai masa paktik di sekolah ada mahasiswa yang menyatakan bahwa guru pamong mereka berminat melaksanakan PTK bersama. Selain dua pihak di atas, yakni guru pamong dan mahasiswa praktikan, ada Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Guru Pamong dan DPL bermitra membimbing mahasiswa praktikan berlatih melaksanakan kegiatan mengajar, menjalankan tugas-tugas keguruan dan nonkeguruan di sekolah. Ketiga pihak di atas, sangat potensial mewujudkan pelaksanaan pembelajaran yang berkualitas. Akan tetapi, apabila berjalan sendiri-sendiri sangatlah terbatas hasilnya. Oleh sebab itu, perlu ada usaha pemercepatan. Pemberdayaan potensi yang dimiliki ketiga pihak ini sangat memungkinkan mendatangkan hasil yang luar biasa dalam upaya peningkatan proses dan hasil belajar apabila dilaksanakan secara kolaboratif.

Isyu kolaboratif dewasa ini sedang menjadi trend. Manusia adalah makluk yang tidak dapat hidup sendiri-sendiri. Paradigma ini terimplikasi pada berbagai lini kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Pandangan tersebut diantaranya bahwa pekerjaan yang dilaksanakan oleh dua orang atau lebih mendatangkan hasil yang lebih baik daripada hasil pekerjaan yang dilaksanakan oleh satu orang. Manusia punya kekurangan disamping kelebihan yang dimilikinya. Oleh sebab itu, saling menunjang, berbagi, dan bekerja sama adalah solusi untuk keberhasilan yang maksimal.

2. Peningkatan Proses dan Hasil Menuju Pembelajaran yang Bermutu

Reigeluth (1983) mengatakan bahwa mutu atau kualitas pembelajaran dapat diukur dari tiga aspek, yaitu efektifitas pembelajaran, efisiensi pembelajaran, dan daya tarik pembelajaran. Konsep ini hadir dalam sistem pendidikan di Indonesia yang dikenal dengan PAKEM, kemudiaan mengalami revisi dan modifikasi, kini dikenal dengan PAIKEM. Mnemonik PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.

Pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan melakukan berbagai aktivitas belajar. Siswa tidak menerima pengetahuan dalam bentuk sudah jadi dari guru. Akan tetapi, pengetahuan dibangun atau dikonstruksi secara bertahap oleh siswa dalam dirinya. Guru berperan sebagai fasilitator, menyediakan pengalaman belajar yang dapat memperlancar proses perolehan hasil belajar tersebut.

Merujuk pada arti kata inovasi pada KBBI ( KBBI, 2001: 435) maka pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang memasukkan atau mengenalkan hal-hal baru; pembelajaran yang merupakan hasil pembaharuan, atau pembelajaran berdasarkan penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Peter M. Drucker seorang penulis terkenal dalam bukunya Innovation and Entrepreneuship mengemukakan lima prinsip inovasi. Secara singkat, kelima prinsip itu adalah: 1) inovasi memerlukan analisis, 2) inovasi sifatnya konseptual, 3) inovasi hendaknya bersifat simpel dan terfokus, 4) inovasi harus dimulai dengan yang kecil, dan 5) inovasi diarahkan kepada kepemimpinan atau kepeloporan (dalam Tilaar, 1999:356). Dengan demikian, dapat diartikan bahwa pembelajaran inovatif itu adalah pembelajaran yang berbeda dari yang dikenal sebelumnya, yang dirancang berdasarkan hasil kerja analisis, bersifat simpel, dan terfokus, pada suatu aspek pembelajaran, yang diarahkan pada kepemimpinan atau kepeloporan.

Kata kreatif pada singkatan di atas, mengacu pada kreativitas guru dalam menciptakan variasi-variasi dalam pembelajaran, atau melaksanakan pembelajaran secara tidak monoton. Kreativitas guru dapat menyentu semua aspek pembelajaran yang terlibat. Misalnya, guru menggunakan metode atau model penyampaian pembelajaran secara bervariasi, menggunakan bahan dari berbagai sumber belajar, menerapkan model-model belajar kelompok secara berganti-ganti, dan sebagainya.

Efektifitas pembelajaran dapat diartikan secara sederhana dengan pencapaian atau perwujudan hasil pembelajaran yang diharapkan. Paradigma baru pendidikan, memandang bahwa pembelajaran yang bermutu itu tidak saja dilihat dari hasil pembelajaran, tetapi juga dari proses pembelajaran. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi, bahwa hasil akhir pembelajaran itu ditandai dengan dimilikinya pengetahuan, keterampilan, nilai dasar yang direfleksikan dalam berpikir dan bertindak (Puskur, Balitbang, Depdiknas, 2002 dalam Muslich, 2007: 15-16). Upaya mewujudkan hasil pembelajaran ini mengacu pada prinsip multi-intelegensi serta menerapkan sistem penilaian secara holistik dan autentik.

Pada BAB IV Permen RI nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dinyatakan bahwa”

Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”

Agar standar proses sebagaimana dinyatakan di atas dapat diwujudkan maka:

“Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajar-

an, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran , dan

pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran

yang efektif dan efisien”.

Efisiensi pembelajaran adalah kesesuaian antara tujuan yang dicapai dengan hasil yang diperoleh. Degeng (1989: 172) mengatakan bahwa indikator utama yang digunakan untuk mengukur efisiensi pembelajaran adalah waktu, personalia, dan sumber belajar yang terpakai. Sedangkan daya tarik pembelajaran berkaitan dengan objek sikap, yakni sikap terhadap materi dan kegiatan pembelajaran. Hal ini ditandai dengan adanya kesukaan, kesenangan, pandangan positif, dan minat siswa terhadap materi dan kegiatan pembelajaran ( Depdiknas, 2008: 01-9).

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa peningkatan proses dan hasil pembelajaran tersebut tidak akan dapat dicapai apabila guru masih melaksanakan pembelajaran secara konvesional, yakni pembelajaran yang masih berpusat pada guru, cenderung menggunakan metode ceramah, penekanan pada hasil belajar ranah kognitif, kurang memperhatikan iklim pembelajaran dan proses yang ditempuh siswa. Oleh sebab itu, sudah saatnya perilaku mengajar guru diubah. Jalan yang ditempuh yakni melaksanakan upaya perbaikan mutu pembelajaran.

3. Model GMD

3.1 Orientasi Model

Upaya peningkatan proses dan hasil belajar pada saat ini umum dilakukan dengan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas ( classroom action research ). Pola kerja PTK bersifat kolaboratif ( collaborative) ( Kemmis & Mc.Taggart, 1988 ). Biasanya terdiri dari kalangan dosen di LPTK dengan guru di sekolah, atau antara guru dengan guru lain yang mengajar mata pelajaran yang sama di suatu sekolah ( Wiriaatmadja, 2006 ). Selain itu, ada Lesson Stady. Lesson Study adalah model alternatif pembinaan guru berkelanjutan untuk meningkatkan keprofesionalan melalui kesejawatan. Melalui Lesson Study dapat diketahui tingkat efektivitas dan efisiensi suatu tampilan pembelajaran ( Depdiknas, 2008 ).

Pada model ini penulis menawarkan penambahan satu unsur mitra lagi, yaitu mahasiswa praktikan di sekolah latihan. Jadi, Model GMD dimaksud merupakan kerja kolaboratif antara Guru Pamong (GP) dengan Mahasiswa Praktikan (MP) dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sebagai kolaboratornya di suatu sekolah latihan. Sejalan dengan tujuan PTK, Model GMD ini ditujukan untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran, agar pelaksanaan pembelajaran yang inovatif dapat ditingkatkan, serta dapat diaktualisasikan secara sistematis.

Menjadikan MP sebagai mitra dalam kegiatan ini sejalan dengan tujuan PPL yang hendak diwujudkan, bahkan dapat mengoptimalkan perwujudan tujuan tersebut, yaitu: 1) Menguasai keterampilan dalam mengatasi berbagai permasalahan yang muncul di lingkungan sekolah; 2) Mampu menerapkan berbagai keterampilan profesional keguruan secara utuh dan terpadu dalam situasi nyata; 3) Mampu menarik kesimpulan dan merefleksikan pelaksanaan proses pembelajaran ( Universitas Muhammadiyah Bengkulu, 2008 ). Di lain pihak, DPL dapat menjalankan Program Pengabdian kepada Masyarakat, berupa pengamalan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karakteristiknya terpenuhi, yakni: berdasar kebutuhan masyarakat, yakni masyarakat suatu satuan pendidikan, bersifat langsung, melembaga, profesional, dan melalui metode ilmiah. Bentuk peran yang dapat dijalankan seperti: pembimbingan ( Sutrisno, 2008). Selain itu, dapat pula DPL dengan GP bermitra melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas.

Model GMD ini dapat bermanfaat untuk: 1) Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah dan LPTK, sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pembelajaran secara berkelanjutan, dan 2) Meningkatkan kerjasama profesional di antara pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah dan LPTK. Di lain pihak, bagi Mahasiswa Praktikan, kegiatan ini: 1) lebih mengoptimalkan pelaksanaan tugas-tugas keguruan, selain praktik mengajar; 2) mengoptimalkan masa pengabdiannya di sekolah; 3) berkesempatan mendapatkan perluasan wawasan tentang konsep PTK yang sudak dipelajari dalam perkuliahan; dan 4) memperoleh bekal yang mantap apabila berminat melaksanakan PTK untuk penulisan skripsi. Bagi kedua lembaga pendidikan yang bermitra, tumbuh pembudayaan mutu di lingkungannya; serta terlaksananya pengembangan profesional berkelanjutan.

3.2 Rangkaian Kegiatan

Merencanakan langkah-langkah penelitian dan menetapkan peranserta mitra dapat merujuk pada prosedur PTK. Adapun prosedurnya: 1) memilih mitra , 1) membuat perencanaan, 3) melaksanakan tindakan dan observasi 4) melaksanakan diskusi dan refleksi, 5) merencanakan pelaksanaan tahap / siklus 2, dan seterusnya ( Wiriaatmadja, 2006 ).

1) Memilih Mitra

Masa pratik efektif mahasiswa yang relatif panjang, misalnya pada FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu, yakni selama lima bulan sangat memungkinkan model ini diterapkan. Dengan alokasi waktu ini, pihak-pihak yang terlibat dapat leluasa bekerja, untuk perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi dan seminasi. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, GP tentu sudah dapat mengetahui MP bimbingannya yang mampu dan dapat diajak bermitra, sebagaimana biasanya GP dapat menentukan MP yang langsung dapat ditugaskan mengajar di kelas pada minggu kedua ia berada di sekolah. Demikian juga dengan DPL. Minggu kedua setelah penyerahan MP ke sekolah, biasanya GP untuk MP telah ditetapkan oleh kepala sekolah. Dosen Pembimbing Lapangan pun sudah harus berkunjung ke sekolah untuk berkenalan dengan pamong dan menetapkan kerja sama dalam pembimbingan mahasiswa. Pada saat inilah kemungkinan kerjasama dapat ditetapkan.

Berdasarkan pengalaman penulis, DPL sebaiknya lebih proaktif. Misalnya, di suatu sekolah, setelah penulis mengajukan pertanyaan umum, misalnya: “kesulitan apa yang Ibu/Bapak temui dalam pembelajaran sastra ?” Maka, GP akan mengungkapkannya. Apabila DPL terus merespon, biasanya pembicaraan ini sudah berlanjut pada kesepakatan untuk kerja sama. Contoh, seorang GP mengungkapkan bahwa ketika pembelajaran menulis puisi berdasarkan objek langsung, terjadi siswa saling mencontoh, sehingga banyak puisi yang sama. Hal ini menyebabkan GP tadi kecewa dan sulit memberikan penilaian. Penulis menanyakan, bagaimana situasinya ketika pengamatan objek? Guru Pamong menjawab, memang waktu itu sebagian besar siswa mengamati sawah. Untuk mengatasinya, penulis menawarkan pembagian area pengamatan. Guru Pamong dapat menerimanya. Ketika penulis menyatakan ingin melihat karya siswa, GP menyatakan sudah tidak ada lagi, karena sudah dimusnahkan. Penulis menyatakan bahwa karya siswa itu merupakan dokumen penting, untuk menetapkan langkah perbaikan yang akan dilakukan. Dari diskusi awal ini, dapat dirasakan manfaatnya, bahwa: DPL mengetahui permasalahan praktis dalam pembelajaran, dan GP mendapatkan tambahan wawasan. Pembicaraan tadi diakhiri dengan rencana kerja sama dengan kesepakatan bahwa DPL berperan menulis proposal, sedangkan GP melaksanakan pembelajaran.

2) Membuat Perencanaan

Pada umumnya, para guru sudah mengidentifikasi permasalahan pembelajaran yang ditemui di kelasnya. Dengan demikian, dapat langsung ditentukan permasalahan pembelajaran yang pelaksanaannya bertepatan dengan jadwal program pelatihan di sekolah tersebut. Pada tahap ini, peran DPL lebih dominan. Sebagaimana dikemukakan Hollingsworth ( dalam Wiriaatmadja, 2006 ) hal ini dikarenakan aspek berikut:

1) Upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran ini, berorientasi inkuiri/penelitian, mengandung berbagai dimensi permasalahan mengenai model, ontologi, analisis, dan kendala yang membutuhkan rujukan dan bantuan lembaga perguruan tinggi.

2) Isi dan tujuan pembelajaran yang reflektif, aplikatif penelitian yang tepat dalam praktek, pilihan-pilihan yang terbuka untuk membangun pembelajaran yang baik, dan refleksi sebagai proses rekonstruksi berbagai pengalaman untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran juga memerlukan referensi akademik.

Tahap perencanaan ini dapat dilakukan secara bersama, antara GP, MP, dan DPL. Kajian kepustakaan dapat dilakukan oleh DPL, sedangkan GP melakukan analisis sumber belajar dan analisis siswa dan kebutuhannya. Mahasiswa Praktikan sudah dapat diajak berdiskusi dan membantu pekerjaan pada tahap perencanaan ini. Inti dari kegiatan ini adalah merencanakan pembelajaran. Agar hasilnya optimal, dapat diacu pemikiran berikut:

Perencanaan Pembelajaran adalah aktivitas memahami dokumen-dokumen normatif ( Permen 22, 23,24, lainnya), dan alternatif ( buku teks atau sumber lain), serta realitas kontekstual ( siswa dan kebutuhannya), dan selanjutnya mewujudkan hasil pemahaman itu menjadi dokumen aplikatif ( silabus dan RPP) yang siap dilaksanakan dalam pembelajaran di sekolah (http://suyonoum08.wordpress.com)

Rancangan penelitian dilengkapi dengan Silabus dan RPP serta instrumen-instrumen. Pada tahapan ini, mitra MP dapat berperan membantu, sejauh tidak mengganggu aktivitasnya menjalankan pelatihan di sekolah tersebut.

3) Pelaksanaan

Ketika akan melaksanakan tindakan pihak-pihak yang bermitra, GP, MP, dan DPL, mengadakan pertemuan untuk menyamakan pemahaman dan berlatih. Pada siklus 1, ada dua kemungkinan pihak yang melaksanakan pembelajaran, yakni GP atau MP. Apabila gagasan model pembelajaran dominan berasal dari DPL, maka dua pihak ini perlu mendapatkan penjelasan, bahkan perlu pelatihan. Jika disepakati GP melaksanakan pembelajaran, maka MP akan berperan sebagai observer/pengamat. Diingatkan oleh Wiriaatmadja (2006), bahwa melatih keterampilan dalam mengamati atau mengobservasi kelas sangat penting, agar pengamatan dapat dilakukan secara profesioanal.

Setelah tindakan, diadakan diskusi dan refleksi untuk dapat membuat perencanaan pelaksanaan tahap/siklus 2. Pada Tahapan ini semua pihak yang bermitra harus terlibat. Apabila memerlukan pelaksanaan siklus 2, tidak tertutup kemungkinan MP dapat berperan melaksanakan pembelajaran, karena telah mengamati GP melaksanakannya. Dosen Pembimbing Lapangan dapat memberikan masukan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Siklus dapat dihentikan apabila sudah mencapai saturasi, yakni keadaan kelas sudah stabil dan guru sudah menguasai keterampilan mengajar yang baru. Keputusan diambil setelah melakukan diskusi dengan para mitra.

3.3 Sistem Sosial

Sistem sosial menandakan hubungan yang terjalin diantara paramitra. Model ini menuntut agar antara GP, MP, dan DPL terdapat hubungan kolaboratif. Guru Pamong lebih banyak berperan pada pelaksanaan model dan urusan administrasi dengan pihak sekolah, apabila kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penelitian. Mahasiswa Praktikan yang memiliki kemampuan, bakat, dan minat dapat pula berperan melaksanakan pembelajaran, selain bertindak sebagai observer. Namun demikian, harus diingat jangan sampai mengganggu program pokoknya sebagaimana yang telah digariskan pada program PPL.

Demikianlah representasi abstrak dari proses, sistem, dan subsistem yang kongkrit model GMD. Semoga iraian di atas dapat memenuhi pendeskripsikan pilihan-pilihan dan analisis tampilan-tampilan pilihan itu.

4. Sertifikasi sebagai Konsekuensi Logis

Sudah saatnya kita memperbaiki alur berpikir kita untuk memperbaiki keadaan. Walaupun sudah terlanjur menjadi fenomena bahwa pemerolehan sertifikasi pendidik dijadikan tujuan, tetapi belum terlambat untuk memperbaikinya. Mari kita para pendidik dan tenaga kependidikan memperbaiki citra dan menumbuhkan harga diri. Para guru yang bertugas mendidik dan mengajar tentu sudah semestinya mempertunjukkan kepribadian yang baik. Pribadi yang senantiasa memperbaiki diri, khususnya memperbaiki diri dalam melaksanakan tugas dalam pembelajaran. Apabila hal ini sudah dicapai, konsekuensi logisnya uji kompetensi pasti berhasil dan sertifikat pendidik pasti diraih. Satu hal lagi, jangan lupa untuk tetap mengaktualisasikan kompetensi profesional tersebut.

5. Penutup

Sertifikasi merupakan kebijakan untuk intervensi langsung meningkatkan kualitas kompetensi guru, dalam hal ini kompetensi guru melaksanakan pembelajaran yang berkualitas, baik aspek proses maupun hasil pembelajaran. Alur pikirnya adalah guru menjalankan upaya-upaya perbaikan kualitas pembelajaran yang dilaksanakannya sampai berhasil sehingga dapat dinyatakan memiliki kompetensi profesional yang menjadi bagian persyaratan memperoleh sertifikasi tersebut. Ada beberapa model peningkatan kualitas pembelajaran yang sudah dikembangkan. Model GMD yang penulis tawarkan ini dapat menjadi alternatif yang pantas dicobakan. Banyak faktor pendukung untuk keberhasilannya, pelaksanaannya sangat memungkinkan, sistemnya tidak terlalu rumit, dan alamiah.

Peningkatan kualitas pembelajaran yang dapat dicapai dengan menerapkan model GMD dapat memperbaiki citra para pendidik yang dinyatakan sebagai pihak yang mempersepsi secara salah bahwa sertifikasi sebagai tujuan. Penerapan model ini secara terus-menerus, karena sangat memungkinkan, akan mendatangkan banyak manfaat bagi para pelakunya, yakni para guru, dosen, dan mahasiswa peserta PPL.

Kepada para Guru Pamong penulis sarankan untuk mencobakan model ini. Pada kesempatan ini penulis sampaikan pula kepada LPTK agar dapat mempertimbangkan pelaksanaan program perbaikan kualitas pembelajaran dengan model GMD ini menjadi bagian dari progran Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

Daftar Pustaka

Degeng, I Nyoman Sodana. 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel. Jakarta: Depdikbud.

Depdiknas. 2008. Perangkat Pembelajaran KTSP SMA . Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.

Depdiknas. 2008. Program Perluasan dan Penguatan Lesson Study di LPTK, Buku 2 Panduan Penyusunan Proposal. http://209.85.175.104/search?q=cache:v5y6WEWLTYQJ

Depdiknas. 2006. “Pembelajaran Berbasis Kontekstual”.

Kemmis & Mc.Taggart. 1988. The Action Recearch Planner. Victoria: Deakin University.

Jalal, Fasli. 2008. “Sertifikasi Guru untuk Mewujudkan Pendidikan yang Bermutu”. Makalah

dalam Seminar Pendidikan yang Diselenggarakan oleh PPS Unair, 28 April 2007 di Surabaya.(http://sertifikasiguru.org/index.php?mact=News,cntnt01,detail,0&cntnt01articleid=69&cntnt01returnid=63

Muslich, Masnur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta. Bumi Aksara.

Peraturan Pemerintah RI, Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Sinar Grafika.

Reigeluth, C.M. 1983. “Instructional Design: What isit And Why is it?” dalam C.M.

Reigeluth ( Ed. ). Instructional design Theories and Models: An Overview of Their Current Status. Hillsdale, N.J.: Lowrence Erlbaum Associates.

Sutrisno. C. Imam. 2008. Teknik Penyusunan Proposal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. E-mail:ci_sutrisno@plasa.com. diakses 18 November 2008.

Suyono. 2008. “Siasat Perencanaan pembelajaran”. http://suyonoum08.wordpress.com

diakses 8 November 2008.

Tilaar, H.A.R.. 1999. “Inovasi Pendidikan untuk Berpartisipasi dalam masyarakat Kompetitif Era Globalisasi” dalam Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam

Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.

Wiriaatmadja, Rochiati . 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s