Strategi E-CM-CL untuk Peningkatan Kualitas Proses dan Hasil Belajar pada Mata Kuliah Teori Sastra di LPTK

Oleh: Dra. Elyusra, M.Pd.*

*Pengampu mata kuliah Perencanaan Pembelajaran BSI dan Kesusastraan di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu, pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

 

I. Pendahuluan

Mata kuliah Teori Sastra merupakan mata kuliah yang ditujukan membina kompetensi mahasiswa dalam hal memahami teori kesusastraan yang mencakup hakikat sastra, unsur-unsur atau lapis normanya, jenis (genre) sastra, dan kriteria untuk membedakan jenis sastra.Mata kuliah ini berkategori tipe struktur konseptual. Konsep-konsep tersebut merupakan konsep abstrak.

Dalam mengasuh mata kuliah Teori Sastra peneliti menemukan bahwa beberapa prinsip pembelajaran yang diperlukan sebagai penunjang keberhasilan perkuliahan tidak berjalan secara optimal. Sebagian besar mahasiswa tidak memiliki handout atau buku-buku referensi. Selama proses perkuliahan berlangsung, mahasiswa hanya mencatat materi perkuliahan dari presentasi dosen. Di samping itu, aktivitas mahasiswa untuk bertanya dan mengajukan pendapat sangat rendah. Jika dosen mengajukan pertanyaan, tidak terlihat kemauan dan kemampuan mahasiswa untuk memberikan respon dengan cepat.

Kondisi lain yang sangat mengkhawatirkan pula, yaitu pemahaman konsep mahasiswa sangat rendah terhadap materi perkuliahan dan mahasiswa sering pula miskonsepsi. Apabila diajukan pertanyaan setelah mempelajari suatu konsep, mahasiswa menyatakan belum paham. Pertanyaan yang diajukan pada saat apersepsi, dijawab mahasiswa dengan membacakan buku catatannya. Dalam menjawab pertanyaan waktu ujian (ujian tengah semester dan ujian akhir semester), jawaban yang diberikan mahasiswa seringkali ngawur atau miskonsepsi. Misalnya, jawaban mahasiswa terhadap pertanyaan pengertian kesatuan dalam keragaman sebagai kaidah sastra adalah walaupun terdapat berbagai macam suku bangsa, agama, dan budaya di nusantara tetapi semuanya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan. Padahal pengertian konsep tersebut adalah suatu karya sastra dibangun oleh berbagai unsur namun masing-masing unsur tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Bahkan makna suatu unsur sangat ditentukan eleh keberadaan unsur lain. Misalnya, novel dibangun oleh unsur tema, penokohan, alur, dan sebagainya. Tema bermakna dalam kaitannya dengan unsur lain. Banyak pula mahasiswa yang mempertukarkan definisi suatu konsep dengan definisi konsep yang lain, misalnya definisi sastra dengan definisi teori sastra.

Hasil Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester sangat rendah. Setengah dari jumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), 64 yang ditetapkan . Hal ini disebabkan mereka tidak hafal konsep, miskonsepsi, dan memberikan jawaban yang tidak cocok dengan pertanyaan. Ini berarti rendahnya tingkat pemahaman dan retensi mahasiswa. Permasalahan ini harus diatasi mengingat LPTK sebagai penghasil tenaga guru professional. Materi mata kuliah Teori Sastra harus dipahami dan dihafal mahasiswa mengingat materi tersebut merupakan sumber bahan ajar bagi calon guru dan menjadi prasyarat mengikuti mata kulian lanjutan seperti mata kuliah kajian, Apresiasi, dan Kritik Sastra.

Beberapa penyebab kesulitan belajar di atas diantaranya sebagai berikut.

a) Mata kuliah Teori Sastra ditawarkan pada semester satu, sebagai masa transisi bagi mahasiswa, yakni peralihan dari cara belajar di SMA yang masih sangat tergantung kepada guru. Di perguruan tinggi mahasiswa sangat dituntut belajar mandiri, sedangkan fasilitasi berupa bimbingan dan petunjuk dari dosen sudah berkurang.

b) Pembelajaran sastra di SMA bersifat apresiatif. Misalnya, siswa belajar mengidentifikasi alur sebuah cerpen. Materi konsep alur secara menyeluruh tidak menjadi tekanan dalam pembelajaran. Dengan demikian, mahasiswa belum biasa mempelajari suatu objek/ konsep sampai ke seluk-beluknya, sedangkan bantuan dosen untuk pembelajaran ini masih kurang.

c) Penyebab yang sangat mendasar, yaitu konsep-konsep yang dipelajari dalam mata kuliah Teori Sastra semuanya merupakan konsep abstrak yang tingkat kesulitan pemahamannya lebih tinggi dari tingkat kesulitan memahami konsep-konsep abstrak.

d) Kebiasaan belajar dan kebiasaan menghadapi ujian di sekolah sebelumnya telah membentuk kebiasaan belajar seperti: menyalin atau mencatat materi kuliah hanya saat mengikuti perkuliahan saja dan tanpa proses pemahaman terlebih dahulu, tidak berusaha membina kebiasaan membaca, tidak akrab dengan bahan bacaan berupa literatur atau buku-buku yang digunakan, kurang mau atau kurang mampu mengajukan pertanyaan atau menge- luarkan pendapat pemahaman. Kemungkinan aspek-aspek pembelajaran ini belum dikelola secara maksimal oleh dosen.

Beberapa permasalahan di atas perlu diatasi dengan melakukan inovasi dalam pembelajaran. Konsep-konsep dalam mata kuliah teori sastra perlu dijelaskan secara elaboratif , untuk mempermudah proses pemahaman mahasiswa terhadap konsep yang dipelajari perlu bantuan-bantuan tertentu dari dosen, dan demi mempertahankan retensi perlu adanya teknik menghafal yang sesuai. Usaha di atas,dilaksanakan dengan pemakaian beberapa pendekatan dan metode pembelajaran yang relevan. Adapun stategi dimaksud berupa variasi pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran, yaitu strategi berbasis Theory Elaboration ( Elaborasi), Concept Maps ( Peta Konsep) dan Circuit Learning ( Belajar Memutar). Selanjutnya gabungan atau variasi penulis sebut dengan strategi E-CM-CL.

Secara teori , strategi E-CM-CL dapat memberikan pengayaan khasanah strategi pengorganisasian dan pengelolaan pembelajaran yang dapat menumbuhkan pemikiran inovatif dan kreatif lebih lanjut di kalangan praktisi dan ahli yang berkecimpung dalam pengembangan teori pembelajaran di bidang kesusastraan. Untuk kepentingan praktis, strategi E-CM-CL sangat relevan dengan tuntutan praktis kurikulum karena dilandasi oleh pola pembelajaran kolaboratif yang esensinya mengandung prinsip-prinsip pembelajaran menurut kaidah teori belajar konstruktivisme. Strategi E-CM-CL dapat dirujuk, dijadikan strategi alternatif, dan diaplikasikan bagi dosen pengajar Teori Sastra yang lain dan dosen lain yang mengampu mata kuliah berkarakteristik sama, mencakup mata kuliah bertipe struktur konseptual, struktur prosedural, dan struktur teoritik.

Komponen strategi E-CM-CL di atas telah banyak diujicobakan pada berbagai mata pelajaran/ mata kuliah di berbagai tingkat pendidikan. Secara umum, penggunaan komponen strategi variatif di atas mendatangkan hasil yang signifikan.. Penelitian penerapan teori elaborasi dengan keseluruhan komponennya dan penelitian penerapan komponen teori elaborasi secara terpisah dapat meningkatkan proses dan hasil belajar. Pemakaian peta konsep dalam pembelajaran untuk menstruktur materi dan sekaligus sebagai teknik mencatat dapat meningkatkan hasil belajar, sedangkan pelaksanaan belajar memutar dapat menghemat waktu belajar dan mempertahankan retensi. Penerapan Circuit Learning ( Belajar Memutar) yang berkolaborasi dengan penggunaan Concept Maps ( Peta Konsep) dilaporkan oleh DePorter, dkk. (2000) dapat menghemat waktu belajar, terutama dalam menyalin informasi dan mengulangi catatan. Dalam pembelajaran Teori Sastra dengan strategi E-CM-CL, belajar memutar dilaksanakan dengan teknik bervariasi, seperti tanya jawab dan permainan. Tujuannya untuk menghindari monotonitas dan untuk mewujudkan pembelajaran yang menarik. Dilaporkan oleh Svantesson (2004) data emperik tentang konstribusi penggunaan peta konsep tidak hanya berasal dari lapangan pendidikan, tetapi juga dari bidang profesi yang lain.

II. Orientasi Model

2.1 Strategi Pembelajaran

Strategi yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran disebut Strategi pembelajaran (Sudjana,2000). Untuk di peguruan tinggi, Tampubolan (2001) menyebutkan dengan strategi perkuliahan, yang menjelaskan prosedur (langkah–langkah) yang ditempuh, metode yang digunakan, serta sarana–sarana yang diperlukan untuk mencapai Tujuan Mutu Perkuliahan (TMP). Diungkapkan lebih jauh oleh Sudjana ( 2000:).

“ Strategi pembelajaran mencakup penggunaan pendekatan metode dan teknik, bentuk media, sumber belajar, pengelompokkan peserta didik, untuk mewujudkan interaksi edukasi antara pendidik dengan peserta didik, antara peserta didik, dan antara peserta didik dengan lingkungan, serta upaya pengukuran terhadap proses, hasil / dan atau dampak kegiatan pembelajaran “.

Selain aspek–aspek di atas, strategi pembelajaran juga mencukup perencanaan dan penetapan tujuan kegiatan (Sudjana, 2000). Pendek kata, sebagaimana ditegaskan kembali oleh Sudjana (2001) strategi pembelajaran dapat diberi arti sebagai penetapan semua aspek yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran. Suwardi (1997) menyatakan bahwa perangkat stretegi pembelajaran yaitu: 1) prinsip pembelajaran 2) pendekatan pembelajaran , 3) metode pembelajaran , 4) seleksi bahan ajar, 5) evaluasi .

Dalam menyusun suatu rencana pembelajaran, Reigeluth (1983) membagi strategi pembelajaran ke dalam tiga macam , yaitu strategi perorganisasian, strategi penyampaian, dan strategi pengelolaan. Dengan demikian, berarti bahwa dalam menentukan suatu strategi pembelajaran yang akan ditentukan harus mencakup:

· Pengorganisian bahan pembelajaran (strategi pengorganisian).

· Bagaimana informasi harus disampaikan (strategi penyampaian).

· Bagaimana mengelola kegiatan belajar mahasiswa (strategi pengelolaan).

Dalam pembahasan ini, strategi pembelajaran diartikan sebagai kegiatan penyusunan informasi, penyampaian informasi atau materi pembelajaran, sekaligus mencakup kegiatan pengelolaan belajar mahasiswa.

2.2 Materi Mata Kuliah Teori Sastra

Dikemukakan oleh Pradopo (2002) bahwa :

“Teori sastra adalah bidang studi yang berhubungan dengan teori kesusastraan, seperti studi tentang apakah kesusastraan itu, bagaimana unsur-unsur atau lapis normanya; studi tentang jenis sastra (genre), yaitu apakah jenis satra dan masalah umum yang berhubungan dengan jenis sastra, kemungkinan dan criteria untuk membedakan jenis sastra, dan sebagainya”

Berdasarkan batasan yang diberikan Pradopo di atas, materi mata kuliah Teori Sastra lebih lanjut dielaborasi dengan menambahkan detail bagian-bagian atau uraian-uraian penjelas. Materi mata kuliah Teori Sastra tersebut mencakup: hakikat sastra, konvensi sastra dan sistem bahasa, unsur-unsur pembangun sastra, teori puisi-teori fiksi dan teori drama, kritik sastra serta aliran dalam kesusastraan. Keseluruhan materi mata kuliah Teori Sastra ini dapat dilihat pada lampiran 1, Silabus Mata Kuliah Teori Sastra.

Horn (dalam maryumis, 2003) mengemukakan pengertian, konsep merupakan rangkaian kata-kata/ kalimat dalam suatu bahan kajian yang secara rasional dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti : nama, definisi,contoh, dan lain-lain.

2.3 Teori Elaborasi

Teori elaborasi pengajaran dikemukakan Reigeluth dan Stein (1983) mengunakan tujuh komponen strategi, yaitu: 1) urutan elaboratif untuk struktur utama pengajaran , 2) urutan prasyarat pembelajaran ( di dalam masing-masing subjek pelajaran), 3) summarizer (rangkuman). 4) syintherizer, (sintesa) 5) analogi, 6) cognitive strategy activator (pengaktif strategi kognitif), 7) kontrol belajar .

Sebagaimana diungkapkan Degeng (1989) pengembang-pengembang teori pengajaran sesudah Gagne, seperti Rugeluth, Merrill, dan Bunderson memperkenalkan karakteristik lain dari struktur mata kuliah yang didasarkan pada hubungan-hubungan yang ada antarbagian isi mata kuliah. Secara umum, struktur mata kuliah dapat dideskripsikan atas struktur konseptual, struktur prosedural. struktur teoritik.

Struktur konseptual adalah suatu struktur yang menunjukkan hubungan lebih tinggi /lebih rendah di antara konsep-konsep. Struktur konsep memuat konsep-konsep mata kuliah untuk mencapai kompetensi orientasi konseptual. Tiga tipe penting dari struktur konseptual adalah taksonomi bagian, taksonomi jenis, matrik atau tabel. Berdasarkan uraian di atas, mata kuliah Teori Sastra tergolong mata kuliah bertipe konseptual taksonomi bagaian. Taksonomi bagian adalah struktur konseptual yang menunjukkan bahwa konsep-konsep merupakan bagian dari suatu konsep yang lebih umum.

Prasyarat pembelajaran didefinisikan sebagai struktur yang menunjukkan konsep-konsep yang harus dipelajari sebelum konsep lain bisa dipelajari. Oleh sebab itu, ia menampilkan hubungan prasyarat belajar untuk suatu konsep. Rangkuman merupakan tinjauan kembali (review) terhadap materi yang telah dipelajari untuk mempertahankan retensi. Fungsi rangkuman untuk memberikan pernyataan singkat mengenai materi yang telah dipelajari dan contoh-contoh acuan yang mudah diingat untuk setiap konsep. Rangkuman yang diberikan di akhir suatu perkuliahan dan hanya merangkum materi yang baru dipelajari disebut rangkuman internal (internal summarizer), sedangkan rangkuman semua materi beberapa kali perkuliahan disebut rangkuman eksternal (within set summarizer).

Pensintesis (synthesizer) adalah komponen strategi elaborasi yang berfungsi untuk menunjukkan kaitan-kaitan di antara konsep-konsep . Pensitesis penting karena akan memberikan sejumlah pengetahuan tentang keterkaiatan antarkonsep, memudahkan pemahaman,meningkatkan kebermaknaan dengan menunjukkan konteks suatu konsep, memberikan pengaruh motivasional, serta meningkatkan retensi (Degeng, 1989).

Analogi adalah komponen strategi penting dalam pembelajaran karena mempermudah pemahaman dengan cara membandingkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dikenal mahasiswa ( Reigeluth dan Stein, 1983b). Pemakaiannya lebih efektif apabila disampaikan di awal pembelajaran ( Degeng,1989).

Pengaktif strategi kognitif adalah keterampilan-keterampilan belajar yang di-perlukan mahasiswa untuk mengatur proses-proses internalnya ketika ia belajar, mengingat, dan berpikir yang terdiri atas dua cara: pengadaan melalui perancangan pengajaran dan menyuruh mahasiswa menggunakannya. Penggunaan gambar, diagram., mnemonik, analogi, dan parafrase, serta pertanyaan-pertanyaan penuntun dapat memenuhi maksud ini.

Menurut Merrill ( dalam Degeng,1989) konsepsi kontrol belajar mengacu pada kebebasan mahasiswa dalam melakukan pilihan dan pengurutan terhadap isi mata kuliah yang dipelajari (content control), komponen strategi pengajaran yang digunakan (display control),dan trategi kognitif yang ingin digunakannya (conscious cognition control). Berbagai komponen teori elaborasi di atas, seperti: ran gkuman, pensitesis, analogi, memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan kontrol belajar.

Pembelajaran yang dirancang berdasarkan Teori Elaborasi dijalankan dengan tujuh prinsip, yaitu: 1) Menyajikan kerangka mata kuliah pada fase atau pertemuan pertama; 2) Bagian-bagian yang tercakup kedalam kerangka isi hendaknya dielaborasi secara bertahap; 3) Bagian yang terpenting hendaknya dielaborasi pertama kali; 4) Kedalaman dan keluasan elaborasi hendaknya dilakukan secara optimal; 5) Pensintesis hendaknya diberikan setelah setiap kali melakukan elaborasi, 6) Jenis pensintesis hendaknya disesuaikan dengan tipe isi mata kuliah; 7) Rangkuman hendaknya diberikan sebelum setiap kali menyajikan pensintesis ( Degeng, 1989).

Merrill (1983) mengemukakan empat bentuk presentasi, yakni presentasi primer, presentasi sekunder, presentasi tampilan proses, dan presentasi tampilan prosedur. Adapun bentuk-bentuk presentasi primer ditinjau berdasarkan spesifitas (kekhususan) materi dan dimensi harapan responsif mahasiswa terdiri atas: presentasi jeneralitas, contoh, ekspositif dan inkuisitif Dikatakan lebih lanjut, bahwa keempat jenis presentasi primer tersebut dapat dielaborasi dengan sejumlah presentasi sekunder. Adapun jenis-jenis presentasi sekunder tersebut adalah: Elaborasi prasyarat, informasi tambahan mengenai konsep-konsep komponen yang membentuk jeneralitas; Elaborasi kontekstual, informasi tambahan berupa latar belakang kontekstual atau historis. Elaborasi mnemonik, alat bantu memori untuk membantu mahasiswa mengingat. Menurut Meier (2002) diantaranya akronim, akrostik sanjak, gerakan fisik; Elaborasi matemagenik, alat penarik perhatian, seperti panah, warna, huruf tebal, grafik; Elaborasi representasi, atau presentasi alternatif, yakni penggambaran dengan suatu bentuk/cara lain; dan Umpan balik atau pengetahuan mengenai hasil yang dicapai.

2.4 Concept Maps (Peta Konsep)

Sebagaimana diungkapkan DePorter, dkk. (2000) bahwa metode mencatat yang baik harus membantu kita mengingat perkataan dan bacaan, meningkatkan pemahaman terhadap materi, membantu mengorganisasi materi, dan memberikan wawasan baru. Concept Maps ( peta konsep) memungkinkan terjadinya semua itu. Peta konsep dikembangkan Tony Buzan pada tahun 1970-an merupakan teknik memetakan konsep atau teknik mencatat informasi yang disesuaikan dengan cara otak memproses informasi yang memfungsikan otak kanan dan otak kiri secara sinergis (bersamaan dan saling melengkapi) sehingga informasi lebih banyak dan lebih mudah diingat ( DePorter, dkk. 2000 dan DePorter dan Hernacki, 2002). Svantesson (2004) mengatakan teknik ini dapat digunakan untuk membuat ringkasan buku dan ringkasan kuliah serta ketika membutuhkan struktur.

Telah diungkapkan di atas, mata kuliah Teori Satra termasuk tipe struktur konseptual anatomi bagian. Keseluruhan materi mata kuliah Teori Sastra merupakan struktur konsep-konsep yang jumlahnya cukup banyak. Selain jumlah yang banyak, boleh dikatakan semua konsep itu merupakan konsep abstrak. Kondisi ini menuntut adanya teknik mencatat yang dapat menjalankan fungsi sebagai peringkas materi kuliah, memudahkan proses mencatat dan menghafal informasi dan menimbulkan kesenangan dalam belajar.

Peta konsep berbentuk suatu gambar keseluruhan dari suatu topik. Gagasan utama diletakkan di tengah-tengah halaman dan sering dilengkapi dengan lingkaran, persegi, atau bentuk lain.Dari gagasan utama, ditambahkan cabang-cabang untuk setiap point atau gagasan utama. Jumlahnya bervariasi tergantung dari jumlah gagasan atau segmen. Tiap-tiap cabang dikembangkan untuk detail dengan menuliskan kata kunci atau frase dan dapat pula berupa singkatan.Sedangkan simbol-simbol dan ilustrasi-ilustrasi dapat ditambahkan untuk menambatkan ingatan yang lebih baik. Ditambahkan pula bahwa peta konsep terbaik adalah peta konsep yang warna-warni dan menggunakan banyak gambar dan simbol; biasanya tampak seperti karya seni

( DePorter, dkk. 2000, DePorter dan Hernacki, 2002, Svantersson, 2004).

Dalam pembelajaran Teori Sastra, pencatatan dengan peta konsep memungkinkan komponen Teori Elaborasi terlaksana secara optimal. Untuk melaksanakan elaborasi-elaborasi dosen menambahkan cabang-cabang pada konsep yang hendak dielaborasi. Cara mencatat ini digunakan dosen pada saat presentasi untuk membuat catatan di white board. sekaligus sebagai teknik pengaktif strategi kognitif mahasiswa, dan mahasiswa menggunakannya pula sebagai sistematika pelaporan tugas meringkas materi/ bahan ajar pada tugas terstruktur, serta sebagai teknik mencatat materi presentasi di dalam kelas.

Metode mencatat peta konsep ini sejalan dengan Teori Elaborasi. Keduanya dijalankan secara terintegrasi dan di antaranya ada jalinan saling mendukung.

2.5 Circuit Learning ( Belajar Memutar)

Metode belajar memutar ini dikembangkan oleh Jhon Tellier, seorang fasilitator Quantum Teaching dan konsultan pendidikan. Tellier mengembangkannya untuk menghemat waktu belajar terutama untuk menghadapi ujian, bagi pembelajar yang jadwal belajarnya padat. Selanjutnya DePorter, dkk. Mengembangkan metode ini untuk mengoptimalkan pemakaian teknik mencatat dengan peta konsep ( DePorter. Dkk. 2000)

Belajar memutar dilaksanakan dengan tahapan-tahapan yang sejalan dengan strategi elaborasi dan teknik mencatat peta konsep di atas. Materi kuliah atau bahan ajar yang telah dipelajari pada perkuliahan pertama atau tatap muka intensif pertama dicatat dalam bentuk peta konsep. Peta konsep ini merupakan elaborasi gagasan yang merupakan bagian topik atau konsep penyusun mata kuliah Teori Sastra. Dengan demikian, topik Teori Sastra telah punya satu cabang, hasil elaborasi yang berisikan rincian atau detail. Pada perkuliahan kedua, mahasiswa mengulang informasi perkuliahan pertama setelah itu mereka menambahkan satu cabang dan memasukkan informasi yang bersangkutan.. Pada pertemuan ketiga, mahasiswa mengulang materi kuliah sebelumnya, pertemuan pertama dan kedua, dan menambahkan satu cabang lagi. Sepanjang semerter berjalan mahasiswa meneruskan pola ini mengulang dan menambahkan, mengulang dan menambahkan.

Minggu pertemuan terakhir, seminggu sebelum pelaksanaan ujian, mahasiswa menciptakan kembali peta konsep di luar kepala, termasuk warna-warnanya, penempatan kata, dan simbol dari peta konsep yang asli. Kegiatan ini sangat membantu menanamkan informasi dalam benak mereka. Setelah menyelesaikan peta konsep, mahasiswa dapat membandingkannya dengan peta konsep yang asli untuk melihat seberapa banyak informasi yang benar dan bagian mana yang perlu diperhatikan.

2.6 Kualitas Pembelajaran

Degeng (1989) mengatakan “tingkat retensi lebih tepat dipakai pada pembelajaran yang menekankan ingatan. Merrill (1983) dengan taksonomi hasil belajarnya mengemukan tiga tingkat unjuk kerja, yaitu: mengingat, menggunakan dan menemukan. Dengan orientasi kompetensi yang akan dibina dan tipe materi mata kuliah Teori Sastra, maka unjuk kerja mahasiswa dimaksud adalah: mengingat konsep dan menggunakan konsep.

Reigelut (1983) mengatakan bahwa kualitas pembelajaran dapat diukur dari tiga aspek, yaitu efektivitas pembelajaran, efisiensi pembelajaran dan daya tarik pembelajaran.

2.7 Aktivitas Mahasiswa dan Dosen

Gulo (2002) mengungkapkan berbagai aktivitas belajar berada dalam rentangan antara tak bermakna dan penuh makna (meaningful learning) tergantung pada modus kegiatan belajar yang dilakukan. Bila diklasifikasikan, ada tiga kelompok aktivitas belajar, yakni: belajar reseptif (menerima), belajar menemukan terpimpin dan belajar menemukan mandiri. Pada ketiga kelompok ini terdapat porsi aktivitas yang berbeda yang dilakukan dosen dan mahasiswa. Semakin besar porsi aktivitas yang dilakukan mahasiswa maka semakin tinggi tingkat kebermaknaan belajar tersebut. Pendapat lain menyatakan bahwa aktivitas belajar yang dilakukan mahasiswa berbanding tegak lurus dengan hasil belajar. Dengan demikian, hasil belajar yang baik akan tercapai apabila mahasiswa melakukan aktivitas belajar yang bergerak ke kontinum penuh makna dalam hal ini mengarah pada kutub belajar mandiri.

Secara umum yang menjadi ciri penting belajar mandiri adalah tanggung jawab sendiri, sesuai dengan kecepatan sendiri, dan belajar yang berhasil, kesemuanya berdasarkan sasaran belajar khusus, dan bermacam-macam kegiatan dengan beraneka sumber belajar yang berkaitan (Kemp,1994).

Selain itu dikatakan pula oleh Pannen (1997b), bahwa:

“Ketidakhadiran dosen, tidak adanya pertemuan tatap muka di kelas, dan ketidakhadiran teman-teman sesama mahasiswa bukan merupakan ciri utama dari belajar mandiri. Yang menjadi ciri utama dalam belajar mandiri adalah pengembangan dan peningkatan keterampilan dan kemampuan mahasiswa untuk melakukan proses belajar secara mandiri, tidak tergantung pada faktor-faktor dosen, kelas, teman dan lain-lain. Peran utama dosen dalam belajar mandiri sebagai konsultan dan fasilitator, bukan sebagai otoritas dan satu-satunya sumber ilmu”.

Aktivitas dosen dalam pembelajaran ditujukan untuk memfasilitasi dan memotivasi mahasiswa untuk belajar. Karena di waktu SMA mahasiswa hanya mengenal buku paket semata, maka terhadap mahasiswa semester satu, fasilitasi dosen berupa kemudahan mengakses materi kuliah sangatlah penting, demikian juga bimbingan atau petunjuk untuk memudahkan mahasiswa membaca dan mempelajari materi kuliah.

Aktivitas dosen lebih kompleks lagi, sebagaimana tersirat dari prinsip-prinsip pembelajaran berdasar teori elaborasi, teknik peta konsep, dan metode belajar memutar yang telah diutarakan di atas. Selama perkuliahan berlangsung, dosen melakukan aktivitas seperti menyampaikan kerangka topik pembelajaran, mengelaborasi bagian-bagian topik perkuliahan dengan kedalaman dan keluasan yang optimal, membuat catatan untuk lebih memvisualkan topik yang sedang dipelajari dan membantu memori mahasiswa disamping melakukan pensitesis dan memberikan rangkuman, serta melakukan pengulangan terhadap materi yang telah dipelajari untuk mempertahankan retensi.

III. Model Pembelajaran Teori Sastra dengan Strategi E-CM-CL

Berdasarkan kajian pustaka di atas, pembelajaran Teori Sastra dengan strategi E-CM-CL dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Penyajian kerangka mata kuliah. Kerangka mata kuliah disampaikan pada perkuliahan intensif pertama saat melakukan kontrak perkuliahan. Penyampaiannya dalam bentuk peta konsep. Pada pertemuan ini, dilakukan pembekalan strategi kognitif mahasiswa berupa keterampilan pembuatan catatan dengan metode peta konsep. Konsep peta konsep dielaborasi sedemikian rupa secara persuasif dengan elaborasi kontekstual. dan elaborasi analogi.. Untuk pemercepat perolehan keterampilan ini , presentasi didukung dengan latihan membuat peta konsep berdasarkan teks bacaan yang berisi materi kuliah elaborasi tahap pertama..

2) Elaborasi tahap pertama. Elaborasi tahap pertama adalah elaborasi bagian satu atau cabang pertama dari topik Teori Sastra, yakni konsep-konsep dasar sastra dan studi sastra. Berdasarkan materi yang telah disampaikan kepada mahasiswa, secara klasikal dilakukan pemahaman materi tersebut dan membuat ringkasannya dalam bentuk peta konsep. Elaborasi tiap-tiap cabang dari topik “konsep-konsep dasar Sastra dan Studi Sastra” dilakukan secara optimal dengan ragam elaborasi yang relevan.Elaborasi diakhiri dengan rangkuman dan pensintesis internal.

3) Pertemuan ketiga, setelah elaborasi tahap pertama, dilakukan peninjauan terhadap peta konsep materi pembelajaran elaborasi tahap pertama (circuit learning). Setelah ini, dilakukan elaborasi lanjutan dari cabang pertama, (elaborasi tahap kedua) sampai elaborasi dirasa mencukupi. Perkuliahan ini diakhiri dengan rangkuman dan pensintesis eksternal.

4) Pertemuan keempat dimulai dengan peninjauan semua materi yang telah dipelajari (circuit learning). sambil memberikan Feed back. Pembelajaran dilanjutkan dengan elaborasi sampai pada tingkat yang mencukupi sesuai dengan kompetensi yang akan dibina. Tetap menggunakan peta konsep, baik oleh dosen maupun mahasiswa. Sepanjang pembelajaran dosen senantiasa mengaktifkan strategi kognitif mahasiswa, dengan peninjauan peta konsep yang dibuat mahasiswa serta pembekalan strategi kognitif lain yang dibutuhkan mahasiswa.

5) Perkuliahan seperti tahap keempat di atas berlangsung sampai pertemuan seminggu

sebelum Ujian Tengah Semester (UTS) dilaksanakan.

6) Seminggu sebelum UTS, mahasiswa menciptakan peta konsep yang mencakup seluruh materi yang telah dipelajari. Mahasiswa membuatnya secara berulang-ulang sampai hafal. tidak melihat lagi peta konsep yang asli.

IV. Penutup

Prestasi belajar yang dicapai mahasiswa terkait dengan banyak aspek pembelajaran, seperti dosen, aktivitas belajar yang dilakukan, dan perancangan pembelajaran. Optimalisasi berbagai aspek pembelajaran ini akan berperan apabila disesuaikan dengan karakteristik mata kuliah dan mahasiswa. Berdasarkan pembahasan di atas dapat dipahami strategi E-CM-CL akan mampu memberikan kemudahan belajar yang lebih banyak kepada mahasiswa dan mengoptimalkan fungsi fasilitator dosen kepada mahasiswa sehingga berpeluang menghasilkan pengaruh yang lebih besar terhadap prestasi belajar mahasiswa.

Straregi E-CM-CL akan membentuk kebiasaan belajar untuk mencapai tingkat pemahaman tinggi terhadap materi kuliah karena mahasiswa menguasai konteks konsep-konsep yang dipelajari. Aktivitas mencatat bukan lagi sekedar tindakan refleks semata sebagai pengisi waktu di saat dosen melakukan presentasi. Mencatat dengan teknik peta konsep dilakukan setelah proses pengolahan informasi berlangsung secara sadar dan terpahamkan sehingga catatan menjadi pertanda materi telah dipelajari dan dikuasai. Kegiatan mengulangi materi yang telah dipelajari di dalam kelas secara bersama-sama di bawah bimbingan dosen dapat menimbulkan kesenangan dalam belajar. Aktivitas belajar ini akan menambahkan kesadaran kepada mahasiswa bahwa suatu (materi) akan menjadi hafal apabila diulang-ulang. Nilai atau kesadaran ini relevan untuk mencapai keberhasilan belajar pada mata kuliah yang lain. Aktivitas mengulang materi kuliah akan menjadi agenda rutin mahasiswa setiap minggu.Dengan demikian, kepanjangan Sistem Kebut Semalam sebagai kepanjangan dari SKS ( Sistem Kredit Semester ) yang diplesetkan akan terhapus.

Daftar Pustaka

Degeng, I Nyoman Sodana.(1989). Ilmu Pengajaran Taksonomi Variable. Jakarta : Depdikbud

DePorter, Dobbi, dkk. (1999). Quantum Teaching: Mempraktekan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Terjemahan Ary Nilandari. (2000). Bandung: Mizan Media Utama

DePorter & Hernacki.(1992) Quantum Learning. Terjemahan Alwiyah Abdurrahman. 2002 Bandung: Kaifa

Maryunis, Aleks, (2003), Penggunaan Peta Informasi untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar Mata Kuliah Strategi Belajar Mengajar Matematika, Jurnal Pembelajaran, volume 26, nomor 2, Juni 2003, halaman 77-91

_______. (2003). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa SLTP Menggunakan Strategi Pemetaan Konsep, Forum Pendidikan, volume 28, nomor 3, September 2003, hal 235-248

Merrill, M.D. (1983). “Component Display Theory” dalam C.M. Reigeluth (Ed). Instructional – Design Theories and Models: An Overview of Their Current Status. Hillsdale, N.J: Lawrence Erlbaum Associates.

Pannen, Paulina, (1997b). “Belajar Mandiri” dalam Mengajar di Perguruan Tinggi. Jakarta: Depdikbud.

Pradopo.Rachmat Djoko, (2002). Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta : Gama Media

Reigeluth, C.M. (1983). “Instructional Design: What is it And hy is it?”

dalam C.M. Reigeluth (Ed.). Instructional Design Theories and Models: An Overview of Their Current Status. Hillsdale, N.J: Lowrence Erlbaum Associates.

Reigeluth, C.M. dan Stein, F.S. (1983). “The Elaboration Theory of

Instructional” Dalam C.M. Reigeluth (Ed.). Instuctional – Design Theories and Models: An Overview of Their Current Status. Hillsdale, N.J: Lowrence Erlbaum Associates.

Slameto, (1991), Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester (SKS), Jakarta: Bumi Aksara.

Sudjana. (2000). Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah Production

_______. (2001). Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah

Production

Suwardi, (1997), “Seputar Pembelajaran sastra di SLTP” dalam Widyaparwa. Nomor 19,Oktober 1997. Yokyakarta.

Suyatno. (2004). Teknik Pembelajaran Bahasa Dan Sastra. Surabaya:SIC

Svantesson, Ingemar. (1989) Learning Maps and Memory Skills. Terjemahan Bambang Prajoko. (2004). Jakarta : Gramedia.


* Pengampu mata kuliah Perencaan Pembelajaran BSI dan Kesusastraan di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s