Model Reflektif dalam Pengembangan Profesional Berkelanjutan: Refleksi Pengalaman Praktis Mendesain Kontrak Perkuliahan

Oleh : Dra. Elyusra, M. Pd.*

*Dosen Pengampu Mata Kuliah Kesusastraan dan Pembelajaran BSI di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

ABSTRAK

Tuntutan peningkatan profesioanalitas dosen dewasa ini semakin tinggi. Untuk itu, dosen dihadapkan pada persoalan melaksanakan pengembangan profesionalnya secara berkelanjutan. Dari berbagai model pengembangan profesional yang dikembangkan, model reflektif merupakan alternatif yang perlu dicobakan.Model reflektif, yaitu pendekatan yang berbasis pada dosen, berupa aktivitas menjadi peneliti, seperti membaca, bertukar pendapat, melakukan observasi, melakukan analisis kritis, dan merefleksikan pengalaman praktis mereka sekaligus meningkatkannya. Suatu contoh hasilnya adalah desain Kontrak Perkuliahan yang inovasi, memotivasi, dan islami yang penulis kembangkan berikut ini.

Dalam pelaksanaannya, model ini dapat mendatangkan hasil yang optimal karena kemampuan belajar mandiri yang telah melekat pada pribadi dosen tersebut. Adapun faktor-faktor lain, seperti: pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan; kompetensi yang akan ditingkatkan dapat sesuai dengan tugas yang diemban dosen; tidak melalui prosedur yang berbelit, melelahkan, bahkan sering menyebabkan patah arang. Disamping itu, ada sejumlah faktor penghambat yang perlu disiasati, seperti:1) dosen tidak memiliki motivasi untuk meningkatkan profesionalnya; 2) dosen tidak terampil mengatur waktu; 3) dosen tidak merasakan kekurangan dirinya; dan 4) dosen tidak mau mengikhlaskan sebagian penghasilannya untuk biaya pengembangan profesional itu, bahkan enggan mengeluarkan tunjangan profesi yang telah diperolehnya .

Pengembangan profesional berkelanjutan dengan model reflektif hanya menuntut kesadaran dari dosen akan profesinya. Oleh sebab itu, sangat disarankan kepada para dosen untuk membina kompetensi tersebut.

Kata kunci: Model reflektif, pengembangan profesional berkelanjutan, kontrak perkuliahan inovatif, memotivasi, dan islami

The Reflective Model of Developing Sustainable Professionalism: The Reflection of The Practiced Experience in Designing Course Contracts

By: Elyusra, M.Pd

(Lecturer of FKIP UMB)

ABSTRACT

The demands of developing the lecturers’ professionalism right now is more increasing, so the lecturers are faced to problems in developing their sustainable professionalism. From many various of the reflective models in developing professionalism; the reflective model is an alternative that need to be tried out. The reflective model means an approach which is based on lecturers; such as an activity of doing research, like reading books, conducting discussion, doing observation, conducting critical analysis and also reflect their practice experience and increase it.

An example of the result is an innovation, motivated and Islamic in designing course contracts which is developed by the writer. In conducting, this model can get the optimal result of self learning because the ability in self learning is in lecturers themselves. The other factors such as the choosing information based on their needs, competences which can be increased are suitable with lecturers’ tasks without complicated procedure and tiring that can cause disappointement. Besides, there are several inhibiting factors that should be solved such as : 1) unmotivated lecturers to increase their professionalism, 2) lecturers ineffectively in managing time schedule.3) the lecturers do not realize of their imperfectness. 4)The lecturers do not participate in following seminars, buy some books to increase their professionalism.

Developing sustainable professionalism with reflective model just demands the lecturers’ awareness of their profession. It is suggested to the lecturers to build those competences.

Key words: The Reflective Model, Developing Sustainable Professionalism, Innovative Course Contracts, Motivation and Islamic.

1. Pendahuluan

Dinyatakan pada pasal 27 UU RI No. 14 Th. 2005 tentang Undang-undang Guru dan dan Dosen bahwa salah satu beban kerja dosen yaitu merencanakan pembelajaran. Mendesain Kontrak Perkuliahan atau Kontrak Pembelajaran ( KP ) adalah aktivitas yang harus dilakukan dosen setelah selesai menyusun silabus . Kegiatan setelah ini adalah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP) dan merancang media pembelajaran.

Pada dasarnya yang dimaksud dengan kontrak perkuliahan atau kontrak pembelajaran adalah rancangan perkuliahan yang disepakati bersama oleh mahasiswa dan dosen (Suciati, 1997b:12-5). Kesepakatan tersebut pelaksanaannya di awal semester, tepatnya pada pertemuan atau perkuliahan pertama. Kesepakatan mencakup seluruh aspek pembelajaran yang akan dilaksanakan dan diberlakukan selama satu semester, seperti kompetensi yang akan dicapai, literatur yang akan digunakan, tugas yang harus dipenuhi mahasiswa dan sistem penilaian yang akan diberlakukan.

Dosen yang profesional harus tanggap terhadap kebutuhan mahasiswa dan memberikan pelayanan terhadapnya. Sebagaimana dikatakan oleh Rektor Universitas Semarang, Ari Soegito MM., “Seorang dosen tidak perlu mimpi dan merasa paling hebat dan berkualitas kalau belum memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada peserta didik. Mau tidak mau dosen harus mampu menyusun rancangan pengajaran,….” Dalam hal ini, satu diantaranya adalah membuat dan melaksanakan kontrak perkuliahan.

Di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu kegiatan kontrak perkuliahan ini dilaksanakan dalam bentuk penyampaian deskripsi mata kuliah, tugas yang harus dikerjakan mahasiswa, literatur yang dipakai, sistem penilaian, serta konsekuensi keterlambatan dan syarat mengikuti ujian akhir semester. Akan tetapi, Kontrak Perkuliahan tersebut tidak tertulis, disampaikan dosen secara lisan. Secara tersirat, pada Jurnal Perkuliahan ( KP ) dosen mencantumkannya sebagai kegiatan awal semester di bawah tajuk pengantar perkuliahan, perkenalan dengan mahasiswa atau perkuliahan pendahuluan. Berdasarkan pengamatan penulis, hanya ada dua orang dosen yang menuliskan kegiatan kontrak perkuliahan pada perkuliahan pertama. Satu diantaranya melaksanakan secara lisan saja ( Arsip FKIP UMB, 2007). Fakta ini menginformasikan bahwa di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu menyusun Rancangan Perkuliahan Pembelajaran dalam bentuk teks tertulis, dan membagikannya kepada mahasiswa pada perkuliahan pertama masih sangat jauh dari kodisi ideal.

Perilaku seorang dosen dalam pembelajaran tidak hanya didasarkan pada wawasan kognitif yang dimiliki, tetapi juga menyangkut sikapnya terhadap objek perilaku tersebut. Demikian juga, perilaku dosen dalam hal merancang KP sangat terkait erat dengan pengetahuan dan wawasan dosen tersebut tentang hakikat Kontrak Perkuliahan (KP) serta apresiasinya terhadap aktivitas tersebut. Apapun alasannya, dosen yang tidak membuat KP dan tidak melaksanakannya tidaklah dapat dibenarkan. Oleh sebab itu, untuk merekonstruksi paradigma dan peningkatan profesional dosen sebagai pengampu mata kuliah, melakukan pengembangan profesional berkelanjutan tidaklah dapat ditawar-tawar lagi.

Model pengembangan profesional yang dipilih dosen akan efektif apabila model tersebut sesuai dengan dirinya. Banyak model pengembangan profesional yang dapat dijadikan alternatif pilihan, seperti model mentoring, model “dari teori ke praktik”, dan model reflektif atau inkuiri. (Danim, 2002:45). Pada tulisan ini, penulis akan mengemukakan refleksi pengembangan profesional berkelanjutan model refleksi yang penulis lakukan dalam mendesain KP yang inovatif, memotivasi, dan islami.

Kontrak Perkuliahan hendaknya tidak hanya diasosiasikan kepada aturan-aturan yang mengikat mahasiswa dan dosen, disamping sanksi-sanksi yang akan diberlakukan apabila pihak tertentu melanggar suatu aturan. Kontrak perkuliahan haruslah dimodifikasi sedemikian rupa dengan harapan dapat membangkitkan motivasi belajar mahasiswa menuju pembelajaran yang berhasil. Hal ini akan tercapai apabila dosen sebagai pengembang kurikulum mempertimbangkan karakteristik lembaga tempat ia mengemban tugas. Dalam hal ini FKIP, Universitas Muhammadiyah Bengkulu sebagai lembaga pendidikan amal usaha masyarakat di Muhammadiyah. Religiusitas adalah penciri setiap lini kehidupan kampusnya. Nuansa akademiknya adalah berbasis Al islam dan Kemuhammadiyahan. Salah satu perwujudannya adalah pembelajaran yang Islami.

Berdasarkan pemikiran-pemikiran di atas, pengembangan KP sebagai produk rancangan pembelajaran yang berbasis semangat berinovasi seorang dosen, hendaknya membangkitkan motivasi belajar mahasiswa dan bernuansa islami. Adapun keprofesionalan dosen sebagai pengembangnya dapat diperoleh melalui pengembangan profesional berkelanjutan dengan model reflektif.

Sejalan dengan pengembangan profesional berkelanjutan dengan model reflektif di atas, penulisan makalah ini menempuh jalan yang sama, yaitu melalui studi pustaka dengan analisis kritis, dan mengembangkannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Khusus untuk bahan model-model kontrak perkuliahan yang telah dikembangkan diakses dari situs-situs di internet pada website beberapa dosen dari berbagai perguruan tinggi.

2. Model Refleksi dalam Pengembangan Profesional Berkelanjutan bagi Pengampu Mata Kuliah di Perguruan Tinggi

Pengembangan profesionalitas dosen merupakan suatu hal yang strategis. Banyak pihak yang berkepentingan dengan itu. Hal ini dapat dipahami karena dosen tidak hanya sebagai tenaga kependidikan yang mendidik tenaga kependidikan tingkat pendidikan di bawah perguruan tinggi bahkan sebagai pendidik calon dosen. Akhir-akhir ini profesional dosen dituntut dalam program pelatihan guru-guru dalam pelaksanaan sertifikasi. Bahkan, tidak lama lagi, profesionalitas dosen kembali dituntut dalam pelaksanaan program pendidikan profesi guru.

Menjadi persoalan sekarang adalah peluang pengembangan profesional itu. Tidak dapat dipungkiri, dan telah menjadi rahasia umum, bahwa setelah memasuki lapangan kerja tugas berat yang telah menghadang membuat dosen terperangkap ke dalam rutinitas menghadapi mahasiswa menyebabkan ia sulit mencari peluang untuk membenahi diri sendiri. Pelbagai kegiatan pengembangan profesional telah berkembang sedemikian rupa, seperti pendidikan dan pelatihan. Akan tetapi, pilihan itu membawa beberapa konsekuensi pada tatanan tugas yang sedang dijalankan, seperti harus meninggalkan kelas-kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan demikian, pendidikan dan pelatihan dalam periode yang lama tentu tidak dapat terus-menerus diikuti dosen. Oleh sebab itu, perlu ada model pengembangan profesional yang lebih memungkinkan, model yang efektif, efisien, dan menarik.

Danim ( 2002:45 ) menuturkan bahwa :

“ Di Amerika serikat, pengembangan tenaga kependidikan yang efektif dilakukan dengan menerapkan beberapa model. Berdasarkan hasil studi pustaka (library research) yang dia lakukan, Crandall (ERIC Digest, April 1994 ) mengemukakan model-model efektif pengembangan profesioanal guru. Pertama, model mentoring, yaitu para praktisi atau guru berpengalaman merilis pengetahuannya atau melakukan aktivitas mentor kepada praktisi yang kurang berpengalaman. Kedua, model olmu terapan atau model “dari teori ke praktik”, berupa penautan antara hasil-hasil riset yang relevan dengan kebutuhab-kebutuhan praktis. Ketiga, model inkuiri atau model reflektif, yaitu pendekatan yang berbasis pada guru-guru, yaitu mereka harus aktif menjadi peneliti, seperti membaca, bertukar pendapat, melakukan observasi, melakukan analisis kritis, dan merefleksikan pengalaman praktis mereka sekaligus meningkatkannya.

Penulis berpendapat, model reflektif berpeluang besar mencapai tingkat keberhasilan. Pelbagai aktivitas, membaca, bertukar pendapat, melakukan observasi, kritis, dan merefleksikan pengalaman praktis dan meningkatkannya, lebih mungkin dilaksanakan dosen. Aktivitas itu tidak menuntut waktu dan tempat yang khusus. Ia dapat dilaksanakan seirama dengan gerak rutinitas dosen. Kebutuhan akan suatu informasi, misalnya tentang desain perangkat pembelajaran dapat diakses dari bahan-bahan tertulis atau situs-situs internet. Apabila membutuhkan pembelajaran lebih lanjut dapat menemui teman sejawat untuk bertukar pendapat. Setelah itu dapat pula melakukan refleksi, baik secara pribadi maupun dengan pihak lain. Dengan demikian, tingkat ketuntasan sangat tinggi yang berdampak pula pada kepuasan kerja.

Model reflektif, dilaksanakan dengan konsep belajar mandiri. Akan tetapi, tidak berarti belajar sendirian tanpa kehadiran pihak lain. Kegiatan-kegiatan tersebut tetap melibatkan pihak lain. Dengan demikian, prinsip pembelajaran efektif, keterlibatan secara aktif dan belajar bersama ( learning tugether ) dapat terpenuhi.

Model refleksi lebih luas lagi peluang keberhasilannya sehubungan dengan faktor-faktor pendukung berikut yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran efektif: 1) Aspek kompetensi yang akan ditingkatkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dosen ( pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan ). Misalnya, bagi dosen yang berasal dari non-FKIP, tentu sangat membutuhkan pendalaman lebih lanjut tentang kompetensi mendesain perangkat pembelajaran; 2) Kompetensi yang akan ditingkatkan dapat sesuai dengan tugas yang diemban dosen, seperti dengan mata kuliah yang sedang diampunya, penelitian yang sedang dilaksanakan, atau dengan tugas-tugas struktural yang sedang diamanahkan kepadanya ; 3) Dosen sudah memiliki kemampuan awal yang memadai untuk belajar mandiri. Para dosen semuanya telah berkompetensi akademik jenjang S1 dan telah banyak yang menyelesaikan program S2 bahkan S3. Pengalaman menempuh pendidikan ini, tidak dapat lagi diragukan efektivitasnya untuk melakukan belajar mandiri; 4) Motivasi yang dimiliki adalah motivasi intrinsik. Seseorang yang belajar dengan motivasi intrinsik hasilnya jauh lebih baik dari yang bermotivasi ekstrinsik; 5) Tidak melalui prosedur yang berbelit, yang melelahkan, bahkan sering menyebabkan patah arang. Kesempatan mengikuti pelatihan dengan biaya lembaga tentu bersifat kompetitif. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan memperolehnya. Jadi, tidak setiap kesempatan yang ada berpeluang untuk didapatkan setiap dosen. Apalagi apabila ajang kompetitif itu diwarnai pula oleh praktek-praktek kolusi dan nepotisme.

Disamping faktor-faktor pendukung di atas, tentu model ini punya kelemahan-kelebahan pula. Kelemahan tersebut terutama disebabkan tidak terpenuhinya beberapa faktor pendukung di atas, seperti: 1) dosen tidak memiliki motivasi untuk meningkatkan profesionalnya; 2) Dosen tidak terampil mengatur waktu; 3) Dosen tidak merasakan kekurangan dirinya; dan 4) dosen tidak mau mengikhlaskan sebagian penghasilan untuk biaya pengembangan profesional itu, bahkan mengeluarkan tunjangan profesi yang telah diperolehnya .

Mengatasi beberapa hambatan dan mendorong optimalnya pelaksanaan pengembangan profesional model reflektif , perlu kesadaran bagi dosen yang telah melaksanakannya untuk menciptakan iklim pengembangan profesional model reflektif di lingkungan kerjanya. Hal ini dapat dilaksanakan dengan mengekspos temuan-temuan hasil pengembangan profesional yang telah dimilikinya, mendiskusikan, dan menggunakannya untuk pemecahan masalah bersama yang dihadapi. Selain itu, perlu pula disadari bahwa sesuatu pembaharuan sering kali tidak langsung dapat diterima pihak lain. Jadi, perlu kesungguhan dan kesabaran dalam menjalankannya,

3. Mendesain Kontrak Perkuliahan yang Inovatif, Memotivasi, dan Islami sebagai Hasil Pengembangan Profesional Berkelanjutan Model Reflektif

Uraian berikut adalah desain KP yang dikembangkan melalui proses pengembangan profesional berkelanjutan dengan model reflektif yang penulis lakukan. Aktivitas yang dilakukan adalah: membaca literatur yang relevan, melakukan analisis kritis, mengembangkannya dalam mengampu mata kuliah, dan merefleksikan pengalaman praktis ini dalam kegiatan seminar sekarang ini.

Inovasi pembelajaran adalah suatu keharusan. Dikatakan Zakaria ( Universitas Muhammadiyah Bengkulu , 2007) bahwa tidak ada perubahan di dalam bidang apapun tanpa inovasi yang dilakukan secara terus- menerus. Ia menjelaskan pula bahwa inovasi pembelajaran adalah sesuatu yang baru mengenai pembelajaran. Salah satu diantaranya menyangkut hal praksis pembelajaran pada manajemen kelas, yakni layanan kepada mahasiswa dalam bentuk pelaksanaan kontrak perkuliahan dan membagikan naskahnya kepada mahasiswa, membicarakannya dan menyepakatinya.

Pengertian inovasi pembelajaran menghendaki dosen melakukan yang lebih dari itu. Dikatakan Joice dan Weil “ Inovasi dalam pendidikan sering dihubungkan dengan pembaharuan yang berasal dari hasil pemikiran kreatif, temuan dan modifikasi yang memuat ide dan metode yang dipergunakan untuk mengatasi suatu permasalahan pendidikan( dalam Situmorang dan Sinaga, http://www.geocities.com/J_Sains/VolI _No.3.html#_toc156796043). Diingatkan pula oleh Zakaria, bahwa” inovasi yang dilakukan dapat mencapai tujuan agar pembelajaran di perguruan tinggi berlangsung dengan efektif, efisien, menarik, menyenangkan, dan terjamin secara optimal kualitas yang telah dijanjikan ( UMB, 2007).

Hal di atas berarti, Kontrak Perkuliahan yang merupakan hasil pemikiran kreatif berdasarkan temuan dan modifikasi bukan hasil ciplakan atau hasil tindak plagiat. Berbagai kebijakan yang diambil dan ditetapkan mengacu kepada visi dan misi lembaga perguruan tinggi bersangkutan. Pada suatu KP yang merupakan hasil kreativitas akan terekpresikan kepribadian dosen yang bersangkutan. Misalnya, sanksi yang diberikan atas pelanggaran, berat atau ringan, sangat dipengaruhi oleh karakter dosen tersebut dan kesediaan mahasiswanya. Selanjutnya, ada kesediaan dari dosen untuk senantiasa melakukan revisi. Satu lagi, KP yang dirancang tidak semata-mata untuk mengikat, tetapi lebih ditujukan pada niat untuk memotivasi. Secara umum sebagai penjaminan berjalannya proses pembelajaran sebagaimana mestinya.

3.1 Hakikat Kontrak Perkuliahan

Sebagainama telah diutarakan di atas, pada dasarnya yang dimaksud dengan kontrak perkuliahan adalah rancangan perkuliahan yang disepakati bersama oleh mahasiswa dan dosen (Suciati, 1997: 12-5). Kontrak perkuliahan yang disebut Tampubolon ( 2001:302) sebagai Rancangan Mutu Perkuliahan (RMP), merupakan jabaran selektif dari kurikulum berdasarkan kebutuhan pelanggan, terutama mahasiswa dan dunia kerja, dan waktu yang tersedia (sks). Soewalni (www.lpp.uns.ac.id/web/moodle/moodledata/60/AA/) menegaskan lebih lanjut bahwa Kontrak Perkuliahan atau Pembelajaran adalah “Kesepakatan yang mengikat antara dosen dan mahasiswa mengenai berbagai aspek pembelajaran melalui interaksi dan pengelolaan pembelajaran secara efektif dengan ‘sanksi’ ( secara edukatif). Sebagaimana telah diutarakan di atas, KP yang merupakan tindakan inovasi pembelajaran hendaknya memenuhi syarat mampu memotivasi mahasiswa untuk belajar, sebagaimana diamanatkan pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 19 yang berbunyi: “ Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa….”.

Tujuan Kontrak Pembelajaran sebagaimana dikemukakan Soewalni

(www.lpp.uns.ac.id/web/moodle/moodledata/60/AA/) adalah untuk: 1) mengembangkan kolaborasi dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran; 2) mempertanggungjawabkan tugas dosen dan mahasiswa dalam pengelolaan pembelajaran; 3) meningkatkan komitmen bersama dalam mencapai kompetensi melalui pembelajaran yang berkualitas. Ditambahkan Tampubolon (2001:297), yang tak kalah pentingnya, KP bertujuan sebagai pedoman bagi mahasiswa untuk belajar mandiri dan mempersiapkan diri sebelum pertemuan di kelas, sehingga dapat juga disebut sebagai cara untuk mengembangkan kemandirian mahasiswa.

Berdasarkan paradigma baru pembelajaran, dosen yang berpandangan bahwa membuat KP bukanlah suatu keharusan tidaklah dapat dibenarkan. Membuat rancangan KP merupakan beban kerja dosen. Lebih dari itu, KP memiliki beberapa fungsi atau manfaat. Sebagaimana dikemukakan oleh Suciati ( 1997:12-4 ) manfaat atau fungsi Kontrak Perkuliahan dapat menjelaskan peranan dan tanggung jawab dan meningkatkan efisiensi belajar. Selanjutnya dikatakan pula bahwa KP merupakan cara yang paling efektif untuk membantu mahasiswa mendiagnosa kebutuhan belajar, merancang kegiatan belajar, mendefinisikan dan memilih bahan belajar yang relevan dan cara belajar tepat, dan menjadi terlatih untuk melakukan evaluasi pribadi. Ditambahkan oleh Soewalni bahwa KP dapat mendorong mahasiswa mencari informasi referensi dan mendukung pencapaian kompetensi melalui pendekaran SCL (www.lpp.uns.ac.id/web/moodle/moodledata/60/AA/)

Kontrak Perkuliahan selain memuat hal-hal di atas perlu diperluas dengan ketentuan-ketentuan lain yang dapat menjamin pelaksanaan perkuliahan berlangsung sebagaimana mestinya, memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa, serta berkemampuan mencapai hasil belajar yang tinggi. Oleh sebab itu, sangatlah penting didesain KP dengan sistematika yang menyangkut kelengkapan komponen KP, dengan cara penyampaian yang elegan.

Dalam buku pegangan utama Program Applied Approach( Program AA ) Bagian IV Bab XII, dikemukakan bahwa “Kontrak Perkuliahan perlu memuat informasi tentang : 1) manfaat mata kuliah, 2) Deskripsi perkuliahan, 3) Tujuan Instruksional, 4) organisasi materi, 5) strategi perkuliahan, 6) Materi/bahan bacaan perkuliahan, 7) tugas-tugas, 8) kriteria penilaian, dan 9) jadwal perkuliahan, dengan menyebutkan topik bahasan dan bahan bacaan yang relevan” ( Suparman, 1997). Soewalni S. selaku instruktur Program Pelatihan Applied Approach ( AA ) di Lembaga Pengembangan Pendidikan UNS tahun 2007 menambahkan cover dan mengganti tujuan instruksional dengan kompetensi dasar dan indikator. Penggantian ini dapat dipahami sebagai pengacuan pada istilah dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (www.lpp.uns.ac.id/web/moodle/moodledata/60/AA/)

Desain KP sangat mencerminkan kepribadian penulisnya, yakni pengampu mata kuliah bersangkutan. Oleh sebab itu, selain mengacu pada ketentuan rancangan yang telah ada, KP suatu mata kuliah diwarnai pula oleh kepribadian penulisnya. Dari beberapa model perancangan KP yang dibuat pengampu mata kuliah di beberapa perguruan tinggi memiliki komponen yang mengacu pada Program AA tersebut, disamping ada penambahan seperti: Aturan Perkuliahan dan Persyaratan lain di luar persyaratan Universitas. Aturan tersebut dirancang dosen dan disepakati dengan mahasiswa (www.pepiediptyana.wordpress.com) (pepiedipyana@yahoo.com).

3.2 Kontrak Perkuliahan yang Memotivasi

Kontrak perkuliahan yang memotivasi tentu tidak hanya mengacu pada pengertian suatu kesepakatan atau perjanjian yang bersifat mengikat dan memiliki sanksi belaka, sebagaimana yang banyak dianut dosen selama ini. Kontak Perkuliahan yang memotivasi akan terwujud apabila dilandasi dengan niat untuk membelajarkan mahasiswa. Berbagai strategi memotivasi terintegrasi pada berbagai komponen yang ada. Dasar penetapan berbagai kebijakan pada setiap komponen hendaknya dikemukakan secara logis, persuasif, dan eufemis. Aspek memotivasi ini akan mudah terwujud apabila dosen mampu menyampaikannya dengan cara yang santun dan menggugah.

Adapun prinsip-prinsip penulisan Kontrak Perkuliahan yang memotivasi tersebut:

1) Penyampaian Logis

Pembelajaran berbasis kompetensi menghendaki mahasiswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran dengan melakukan berbagai aktivitas, yang dikenal dengan peralihan dari teacher center learning ke student center learning. Diantara konsekuensi tersebut adalah bertambahnya beban belajar mahasiswa di luar kelas, baik untuk membaca dan mempelajari materi, mengerjakan berbagai latihan atau tugas. Oleh karena itu, agar mahasiswa tidak merasa terbebani dosen hendaknya menyampaikan pula dasar pengambilan kebijakan tersebut. Misalnya, dengan menyampaikan manfaat kompetensi yang dicapai melalui pembuatan tugas untuk mengikuti perkuliahan lanjutan dan pelaksanaan tugas sebagai praktikan pada saat mengikuti Program Pengabdian dan Pengalaman di Sekolah ( P3S ) atau tugas sebagai guru di lapangan kerja.

2) Penyampaian secara Persuasif

Pembelajaran di perguruan tinggi menggunakan pendekatan konstruktivisme. Salah satu aplikasinya adalah: materi yang berupa konsep, prinsip dan prosedur harus dibaca dan dipelajari sendiri oleh mahasiswa sebelum perkuliahan intensif dilaksanakan. Dari kaca mata mahasiswa sering pula hal ini dipandang sebagai tugas yang membebani. Lebih lagi, bagi mahasiswa yang terbiasa mengikuti perkuliahan dengan metode penyampaian berupa presentasi dosen / ekspositori. Kemukakanlah kepada mahasiswa bahwa dengan membaca materi pada literatur yang telah ditetapkan sebelum mengikuti perkuliahan lebih memberikan hasil yang optimal. Misalnya, dengan mengatakan:

“ Tugas utama Anda adalah membaca materi kuliah ini sebelum perkuliahan dimulai. Itu sangat penting. Tujuannya adalah agar konsep-konsep kesusastraan yang abstrak beserta contoh-contohnya yang tersaji secara deskriptif pada buku-buku atau referensi rujukan dapat leluasa Anda cermati. Dengan demikian, sangatlah memungkinkan pemahaman terhadapnya dengan baik” ( Elyusra,2007a).

3) Penyampaian secara Eufemis

Penyampain secara eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa kasar, yang dianggap tidak menyenangkan. Pada banyak KP yang didisain, penyampaian aturan perkuliahan atau norma akademik cenderung disampaikan secara keras. Misalnya:

“ Mahasiswa wajib mengikuti kuliah 75%; Segala bentuk kecurangan akan membatalkan nilai komponen tersebut; Tugas apapun yang terlambat tidak diterima; Menyontek pada saat UTS dan UAS, menandatangani presensi kuliah mahasiswa lain yang tidak hadir, plagiat, kecurangan akan dikenakan sanksi yaitu digugurkan nilai UTS dan UAS”

(www.pepiediptyana.wordpress.com) (pepiediptyana@yahoo.com).

Adapun perubahan redaksi aturan perkuliahan di atas dapat penulis usulkan sebagai berukut:

1) Anda dapat mengikuti Ujian Akhir Semester apabila menghadiri perkuliahan intensif sebanyak 75%.

2) Kecurangan yang dilakukan mahasiswa akan merugikan mahasiswa bersangkutan, yakni berupa pembatalan nilai.

3) Bertekatlah untuk menyelesaikan dan menyerahkan tugas tepat pada waktunya. Keterlambatan, berarti kegagalan memperoleh nilai.

4) Usaha Anda pada UTS dan UAS akan sia-sia apabila Anda melakukan kecurangan berupa: menyontek pada saat ujian

( UTS dan UAS ); plagiat; menandatangani presensi teman Anda.

4) Penyampaian dengan cara yang santun dan menggugah

Prinsip ini sangat penting dalam konteks pembelajaran. Komunikatif maksudnya adalah sesuatu yang diutarakan atau disampaikan dosen dapat diterima atau sampai kepada mahasiswa sebagaimana yang dimaksudkannya. Bahasa yang santun, adalah menyampaikan maksud dengan budi bahasa yang halus dan baik, sedangkan cara yang menggugah adalah penyampaian sesuatu yang dapat merangsang pikiran mahasiswa untuk melakukan aktivitas belajar bermakna. Kontrak Perkuliahan yang menggugah adalah yang bermanfaat bagi mahasiswa. Bandingkanlah dua cara penyampaian komponen tugas berikut ini.

Cara A:

Pada perkuliahan ini mahasiswa diberi 3 macam tugas utama, yakni :

1. Melakukan diskusi kelas tentang materi yang telah diajarkan. Setiap kelompok menyampaikan argumentasinya / permasalahan tentang materi yang telah diajarkan.

2. Melakukan penelitian atau pembahasan Media Cetak Lokal maupun Nasional(1 minggu). Tugas ini kemudian dipresentasikan di kelas.

3. Melaksanakan tugas perorangan, yakni, menulis Berita dengan Menggunakn Konsep 5W+1H, dan menentukan Judul dan Lead Berita (http://images.okybasastrasia.multiply.com/attachment/0/Rn1kZgoKCowAABg3T581/)

Cara B:

Tugas, O, Ye !

Apabila diberikan tugas, sambutlah itu dengan gembira ! Suarakan dengan lantang sambutan Anda dengan ungkapan O,Ye! Mengapa? Tugas berarti kesempatan emas bagi Anda untuk mendemonstrasikan kemampuan Anda. Tugas yang Anda kerjakan dengan baik, berarti tabungan skor Anda untuk penilaian akhir.

Sebagian besar materi kita adalah konsep dan prosedur. Kalau tipe materi ini, jelas, Anda harus membaca dan mempelajarinya sendiri sebelum perkuliahan dilaksanakan. Dengan demikian, alokasi tatap muka yang sangat terbatas dapat dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih bermakna, seperti menampilkan keterampilan apresiasi yang dibina, mendiskusikannya, saling menilai dan mengomentari untuk tampil prima di saat pengambilan nilai.

Selain tugas di atas, yang tak kalah pentingnya Anda hendaknya senantiasa membiasakan diri melakukan pelbagai kegiatan apresiasi ysng terstruktur dan atas inisiatif sendiri, baik secara pribadi maupun dalam tim. Usahakan setiap tugas mendapat nilai yang tinggi. Hal ini, sangat mungkin, karena waktu penyelesaiannya relatif panjang, Anda bebas mengerjakannya sesuai tipe belajar Anda, fasilitasi dapat Anda peroleh dari berbagai pihak, seperti dari teman, dari pengampu mata kuliah, dan dari pihak-pihak lain. Tetapi ingat, secara halal!

Anda tentu tidak sabar lagi ingin mengetahui tugas-tugas itu. Ibuk yakin itu! Anda adalah manusia senang tantangan. Betul kan? Tugas selengkapnya seperti tertera pada daftar di bagian akhir. Sebelum Anda melihat daftar tugas, suarakan dengan lantang : O, Ye!

( Elyusra, 2007b : 4)

Contoh A dan B di atas sama-sama mengisyaratkan ada lebih dari tiga tugas yang harus dikerjakan mahasiswa. Akan tetapi, daya memotivasi secara santun dan menggugah pda keduanya memiliki kualitas yang jauh berbeda.

3.3 Kontrak Perkuliahan yang Islami

Universitas Muhammadiyah Bengkulu merupakan amal usaha persyarikatan Organisasi Muhammadiyah di bidang pendidikan. Sebagai lembaga yang berlandaskan Al Islam, maka pembelajaran di perguruan tinggi ini mensyaratkan nuansa islami sebagai pencirinya. Dengan demikian, nilai-nilai keislaman harus menjadi landasan penetapan kebijakan, teraplikasi dalam kehidupan akademiknya, dan terimplikasi dalam kehidupan sivitas akademikanya ( Statuta Universitas Muhammadiyah Bengkulu, ).

Berpedoman pada ketentuan di atas, KP harus dirancang berdasarkan nilai-nilai keislaman disamping memperhatikan pula aturan-aturan kemuhammadiyahan. Hal ini mewarnai penetapan berbagai komponennya, sistem yang digunakan, serta kesepakatan yang diambil. Kontrak perkuliahan yang islami akan memberikan arah pada penciptaan pembelajaran atau perkuliahan yang bersuasana kemuhammadiyahan dan bernuansa islami.

Sebagaimana telah disampaikan di atas, bahwa KP yang islami adalah KP yang dirancang dengan mempertimbangkan nilai-nilai keislaman pada seluruh komponen dan aspeknya. Dengan demikian, pembahasan ini dapat mencakup penetapan keseluruhan komponen Kontrak Perkuliahan yang telah dikemukakan di atas. Adapun KP yang islami itu,bercirikan sebagai berikut:a)Kontrak Perkuliahan yang tertulis dan disepakati.; b) Memberikan perhatian yang proporsional pada pencapaian tujuan pembelajaran ranah afektif ; c) Menetapkan aturan secara adil;

d) Mengembangkan iklim kooperatif, tidak semata-mata kompetitif; e) Menjadikan dosen sebagai model pembelajaran; f) Dengan semangat Optimis Menetapkan target yang tinggi; g)Senantiasa direvisi –hijrah.

4. Contoh Kontrak Perkuliahan yang Berinovasi, Memotivasi dan islami

Dapat diakses pada website penulis : bundaguru.wordpress.com

5. Penutup

Dosen sebagai pengampu mata kuliah di Perguruan tinggi adalah tenaga kependidikan yang dituntut senantiasa melakukan pengembangan profesional berkelanjutan. Banyak metode efektif yang telah dikembangkan. Akan tetapi, efektivitas itu sangat tergantung pula pada kepribadian dosen tersebut. Salah satu model yang dapat digunakan secara luas adalah model refleksi. Model ini berbasis dosen itu sendiri, dapat dilaksanakan tanpa harus meninggalkan kelas-kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Model ini dapat berjalan dengan motivasi intrisik dan rasa rela berkorbanan yang cukup tinggi dari pelakunya. Semua itu tentu dapat dipenuhi apabila dosen tersebut telah memenuhi kualifikasi seorang dosen.

Pengembangan profesional berkelanjutan dengan model refleksi hanya menuntut kesadaran dari dosen akan profesinya. Oleh sebab itu, sangat disarankan kepada para dosen untuk membina kompetensi itu.

Referensi

Damami, Muhammad. 2008. “Menulis”, dalam Suara Muhammadiyah. No. 03/TH.KE-93/ 1-15 Februari 2008.

Danim, Sudarwan. 2002. Inovasi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Elyusra. 2007a. Kontrak Perkuliahan Mata Kuliah Teori Sastra, Semester I , T.A. 2007-2008. Bengkulu: FKIP ,Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Elyusra, 2007b. Kontrak Perkuliahan Mata Kuliah Apresiasi sastra, Semester III A dan IIIB, T.A. 2007-2008. Bengkulu: FKIP, Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Gafari, M.Oky Fardian. 2007. Kontrak Kuliah Mata Kuliah Kepenyiaran Semester Genap 2006-2007.(http://images.okybasastrasia.multiply.com/attachment/0/ Rn1kZgoKCowAABg3T581)download tanggal 24/12/07.

Hamid dan Diptyana. 2006. Kontrak Pembelajaran Mata Kuliah Akutansi Sektor Publik Jurusan Akutansi SI STIE Perbanas Surabaya, Semester Genap 2006/2007. (http//www.pepiediptyana.wordpress.com) (pepiediptyana@yahoo.com). download tanggal 24/11/07.

Soewalni. 2007. Kontrak Perkulihan / Pembelajaran, Program Pelatihan Applied Approach (AA) Lembaga Pengembangan Pendidikan UNS 2007. (www.lpp.uns.ac.id/web/moodle/moodledata/60/AA/)

Suciati. 1997. “Kontrak Perkuliahan” dalam Depdikbud. Mengajar di Perguruan Tinggi. Jakarta:Depdiknas.

Susilo, Willy. 2003. Motivasi Intrinsik untuk Meraih Sukses Abadi. PT Vorqistatama.

Tampubolon, Daulat. 2001. Perguruan Tinggi Bermutu. Paradigma Baru Manajemen Pendidikan Tinggi Menghadapi Tantangan Abad ke-21. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Zakaria, 2007. Strategi Inovasi dan Penjaminan Mutu Pembelajaran. Bahan Pelatihan Inovasi Pembelajaran bagi Dosen Perguruan Tinggi Swasta dalam Lingkungan Kopertis Wilayah II di Bengkulu, 24-25 April 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s