Gempa,Kain Basahan,dan Ayat-ayat Cinta

Gempa,Kain Basahan,dan Ayat-ayat Cinta

Karya: Bunda Guru

Aku biasanya terburu-buru kalau mandi ketika hendak keluar rumah. Waktu yang sangat sempit. Seorang ibu rumah tangga dan juga berkarir. Aku mengajar di salah satu perguruan tinggi di kota ini. Seorang ibu dari empat orang anak yang masih kanak-kanak. Pekerjaan rumah tangga yang hampir seluruhnya ditangani sendiri. Selain pekerjaan mene-rika pakaian, adalah kewajibannku. Alhamdulillah, beberapa pekerjaan dibantu suami. Walaupun tidak tetap, namun bantuan suami ini sangat meringankan aku. Demikian juga bantuan dari Ayuk Mida, walaupun orangnya sangat tidak disiplin, bantuannya menerika pakaian meringankan juga.

Bantuan dari anak-anak, sepertinya masih belum bisa diharapkan, bahkan bantuan mereka sering pula membuat pekerjaannku menjadi bertambah, seperti tadi. Karena ada mahasiswa yang datang untuk bimbingan, pekerjaan memasak yang hanya tinggal menggoreng tempe kuserahkan kepada mereka. Setelah selesai menggoreng tempe, masing-masing memasak pula makanan yang mereka inginkan. Ternyata yang bungsu mencobakan resep baru informasi dari temannya. Daging ayam yang sudah diungkap dipotong-potong kecil kemudian ditambahkan telur yang dikocok lepas serta dibubuhi sedikit penyedap rasa. Makannya ditambahi saos tomat dan sambal. Yang lain seperti biasa, berkreasi juga dengan telur dengan memanfaatkan beberapa lembar roti tawar sisa sarapan pagi. Setelah itu, dapur jadi berantakan. Aku terpaksa memberesinya terlebih dahulu. Akhirnya mandi terburu-buru.

Aku senantiasa mengajarkan kepada anak-anakku untuk langsung meletakkan handuk ke jemuran di samping setelah selesai mandi. Ajaran itu sulit kulaksanakan pada diriku sendiri. Setelah selesai mandi, handuk yang kupakai tetap di dalam kamar mandi. Rasanya untuk meletakkan handuk ke jemuran kain di samping rumah aku tak punya waktu, karena harus segera berpakaian dan berangkat. Handukku akan kuletakkan di jemuran itu kalau sudah kembali dari bepergian. Atau, kalau sedang ada anak-anak di rumah yang dapat kumintai bantuan.

Hampir seminggu ini, setelah selesai mandi aku ke jemuran di samping. Tentu meletakkan handuk yang baru saja aku pakai. Di rumah sedang tidak ada yang dapat kumintai bantuannya. Akan tetapi, bukan itu alasannya. Bukan pula karena aku menerapkan ajaranku kepada anak-anakku untuk diriku sendiri. Dua-duanya tidak. Yang lebih memaksaku ke jemuran itu adalah kain basahan yang kupakai mandi. Tidak mungkin kain itu tetap di kamar mandi. Selain tidak ada tempat meletakkannya, tentu baunya menjadi tidak enak kalau tetap di kamar mandi. Lama-lama, kain basahan yang tidak dikeringkan tentu akan jamuran. Selain tidak enak dipakai, juga tidak sehat.

Pekerjaan meletakkan kain basahan ke jemuran kain itu membuat aku semakin kekurangan waktu saja. Ini merupakan sesuatu yang baru, aku sering teledor. Kadang-kadang ketika berkaca mengenakan jilbab, aku ingat kain basahanku masih di kamar mandi. Agar tidak jadi benar-benar lupa, biasanya aku segera ke kamar mandi mengambil kain basahan itu dan langsung pula ke jemuran kain meletakkannya. Hari ini aku kembali lupa. Kuingat kain basahanku ketika aku menarik motor ke luar pagar untuk berangkat kerja. Aku terpaksa masuk lagi ke rumah, ke kamar mandi dan mengambil kain basahanku untuk diletakkan di jemuran. Aku merasa tidak enak kalau nanti terlihat oleh anak-anakku kain basahan itu aku letakkan di sangkutan baju di kamar mandi. Biasanya anak-anak kalau pulang sekolah memakai kamar mandiku untuk pipis. Maklum, anak-anak. Cari yang mudah dan dekat. Kalau ke kamar mandi mereka, berarti harus ke lantai atas.

***

Ketika aku di parkiran motor, ada sms yang masuk. Ternyata dari Ayuk Mida. Dia mengatakan akan menerika dan menanyakan apakah ada orang di rumah. Aku mengatakan datang saja karena aku langsung pulang. Aku memperhitungkan aku akan duluan sampai di rumah. Ternyata kami sampai berbarengan, karena ia diantar suaminya.

Aku membuka pintu rumah. Ayuk Mida ke jemuran mengangkat pakaian karena semuanya telah kering. Dia ke kamar di sebelah dapur, meletakkan pakaian dari jemuran tadi dan memanaskan strikaan. Aku langsung ke kamar dan mengganti pakaian. Jam menunjukkan pukul satu siang. Pikiranku mengatakan sebaiknya shalat dulu. Biar dapat awal waktunya. Akan tetapi, kok rasanya perut lapar sekali. Dalam situasi seperti ini, biasanya aku melakukan pilihan seperti yang banyak dikatakan teman-teman. Mereka mengatakan: “ Lebih baik ingat shalat ketika makan daripada ingat makan ketika sedang shalat”. Aku mempertimbangkan lagi. Mengapa aku harus memanjakan diri dengan kenyamanan seperti ini. Memang tidak salah, bahkan saran itu pun pernah kudengar dari seorang ustazah di pengajian. Akan tetapi, pada pembahasan lebih lanjut pilihan itu adalah pilihan orang cengeng atau orang awam. Apa sih beratnya menunda makan selama waktu shalat. Kan jauh lebih ringan bila dibandingkan dengan menahan makan dan minum selama sehari di bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan menjelang. Dengan pengorbanan yang sedikit itu dapat diperoleh manfaat yang cukup besar. Selain dapat melaksanakan shalat di awal waktu, pilihan ini pun dapat diperhitungkan sebagai pengejahwantahan atau ekspresi rasa cinta kepada Allah. Aku kuatkan hatiku. Aku melangkah ke kran air yang ada di tempat cuci-cuci di dapur. Aku berwudhu.

Ketika akan mengangkat takbir dengan niat shalat zuhur ada sesuatu yang menyelinap ke dalam pikiranku. Aku dalam keadaan lapang. Aku punya cukup panjang waktu. Waktu setengah hari telah kumanfaatkan untuk menyelesaikan kewajibanku selaku seorang ibu rumah tangga. Urusan rumah sudah selesai. Kewajibanku sebagai seorang pekerja juga sudah tunai. Bukankah waktu yang ada ini sebaiknya kupakai untuk menyemai amalan. Semoga saja kebaikkannya dapat kutuai. Aku perbaiki niatku. Kuniatkan sunah rawatib dua rakaat sebelum Zuhur.

Doaku seperti biasanya, senantiasa kuminta diberi kesehatan, umur yang panjang dan riski yang lancar, serta terhindar dari bencana, buat diriku, keluargaku, dan sahabatku. Dalam berdoa aku ingat sebentar lagi akan masuk Ramadhan. Berarti telah setahun dinding retak dihadapanku ini. Dinding yang retak karena goyangan gempa setahun yang lalu. Tepat pada malam satu Ramadhan. Pengalaman pertama menghadapi gempa yang paling kuat. Bagiku, suami dan anak-anakku. Gempa yang membuat retak-retak semua dinding rumah ini dan kamar ini adalah yang terparah. Belum diperbaiki karena harus dibuka semua. Hal ini butuh banyak biaya dan sampai sekarang belum tersedia. Aku sangat sadar hal ini sangat berbahaya. Tak ada lagi kekuatan dinding ini. Sekali lagi digoyang gempa dengan kekuatan yang sama, semuanya akan terbuka. Aku tak melihat usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki ini, selain usaha yang dilakukan suamiku sebagai tindakan jaga-jaga. Beberapa tiang dipasang di luar untuk menahan dan memberikan kekuatan pada dinding yang retak. Retak yang ringan telah diperbaiki dengan melakukan pembobokan dan memasukkan besi-besi sebagai perakitnya. Aku pun sangat menyadari kekuatannya tidaklah seberapa. Oleh karena itu, aku senantiasa berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan pada rumah ini agar terhindar dari bahaya gempa.

Doaku sekarang kuutarakan dengan rasa cemas yang sangat. Betapa tidak, Ramadhan semakin dekat, sedangkan trauma akibat itu masih lekat. Aku usahakan pula menjalankan zikir Asmaul Husna. Asma Allah, Ar Rahim, yang dibaca sebanyak seratus kali setelah shalat dapat melindungi diri dari semua bencana dan malapetaka, dan seluruh makhluk akan mengasihani. Insya Allah. Pernah pula kujalankan permohonanku dengan Asma Allah Al-Halim. Asma Allah ini ditulis di kertas kemudian dituangi air,lalu air tersebut dipercikkan atau diusapkan pada dinding rumah agar terhindar dari bencana. Pengetahuan tentang itu koperoleh dari sebuah buku saku yang berjudul Rahasia -Manfaat Asmaul Husna.

***

Selesai shalat hp di meja kerjaku berdering. Rupanya dari suamiku. Ia menanyakan apakah aku sudah di rumah. Dia khawatir aku lupa hari ini Ayuk Mida menerika. Aku katakan pula Ayuk Midanya sedang menerika.

Ketika aku meletakkan kembali hpku, pandanganku tertuju pada novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Novel fenomenal sepanjang sejarah kesusastraan Indonesia. Hanya tertinggal empat poin dari karya J.K. Roling, Harry Potter.Terakhir kubaca seminggu yang lalu. Batasnya pada akhir bab 22. Bagian yang kubaca beberapa kali, peristiwa romantis malam pertama tokoh Fahri dan Aisha. Bagian yang kukagumi pada novel ini yang sama sekali tak kutemui pada filmnya. Bagian ini pula yang telah merubah cara mandiku seminggu terakhir ini. Mandi dengan basahan. Pelajaran yang disampaikan pengarang, yang kupetik dari ungkapan tokoh Aisha. Bagian itu menyatakan:

“… sejak kecil ibu mengajariku agar memiliki rasa malu kepada Allah melebihi rasa malu pada manusia. Ibu menanamkan untuk tidak telanjang bulat di manapun juga. Meskipun sedang sendirian di kamar tidur atau kamar mandi. Jika mandi ibu mengajarkan pakai basahan. Orang-orang pilihan, kata ibu, jika mandi tetap memaki basahan, tidak telanjang bulat. Ibu berkata: ‘Jika kita malu aurat kita dilihat orang, maka pada Allah kita harus lebih merasa malu.’

Menurut cerita ibu, dan ibu dari nenek, di zaman Nabi lalu, ketika Nabi tahu ada orang mandi tidak memakai sarung, beliau langsung naik mimbar dan menyuruh umatnya untuk menutup aurat ketika mandi.

Alhamdulillah sejak sebelum akil baligh aku telah terbiasa untuk mandi dengan tetap memakai basahan yang menutup aurat atas dan aurat bawah….”

Aku membaca kembali sepintas halaman itu. Kini kurasakan semakin teguh keyakinanku. Aku bersyukur telah mendapatkan pengetahuan agama ini, walaupun tidak melalui jalur yang biasa. Belum pernah aku mendapatkan pemahaman sesempurna ini tentang menutup aurat ketika mandi. Memang aku pernah membaca dan mendengar. Tetapi lewat begitu saja. Tak ada bekasnya. Lain dengan yang ini.Cara dakwah seorang sastrawan. Cara yang melewati fungsi sastra secara teori. Secara teori, sastra tidak ditujukan agar pembacanya langsung melakukan aksi, tetapi lebih ditujukan untuk mengundang kontemplasi. Akan tetapi, aku harus mempercayai ini. Setelah berkontemplasi langsung beraksi. Inilah hidayah dari Illahi. Tak ada alasan untuk tak mensyukuri.

Pengalaman ini ternyata tak kualami sendiri. Dari beberapa blog yang kubaca ketika akses internet tadi malam, ternyata ada yang mengungkapkan hal yang sama. Menggunakan basahan mandi setelah membaca novel Ayar-ayat Cinta.

***

Aku ke dapur. Ayuk Mida hampir menyelesaikan separuh strikaannya. Aku tanyakan padanya apakah ia mau makan. Dia menyatakan masih kenyang karena makan sebelum berangkat tadi. Makanku terasa nikmat. Pindang ayam dan sambal ditambah kerupuk sudah jadi kesukaanku akhir-akhir ini. Jam di dinding menunjukkan lewat pukul dua. Berarti sudah agak kesiangan aku makan. Aku ingin nambah, tetapi kuusir keinginan itu. Kusadari berat badanku semakin bertambah. Untuk kepuasan makan siang itu, kunikmati dua buah jeruk.

Aroma jeruk sampai rupanya ke hidung Ayuk Mida. Dia bertanya:

“Makan jeruk Buk?”

Aku jawab: “iya”.

“Sisakan aku Buk, katanya.

“Iya” jawabku.

Aku ke tempat strikaan. Kulihat rok dalamanku terbentang di meja. Sedang distrika. Ayuk Mida bertanya:

“Buk, seingatku setahun aku menrika di sini belum pernah aku menrika rok dalaman ini. Apakah ibuk memakai rok ini sekarang. Menurut Aku, baju Ibu tak ada yang tipis, rasanya tak ada yang tembus pandang yang harus pakai dalaman.

“Memang tidak kupakai untuk dalaman. Aku juga tidak betah lagi pakai dalaman rok itu”.

“Lalu untuk apa Buk?”

“Untuk basahan”.

“Biasanya ibuk pakai basahan apa?”

“Biasanya tidak pakai, paling-paling pakai celana dalam saja.”

“Kini kok pakai Buk? Ngapa Buk?”

“Sadar, karena dapat pelajaran baru. Lagi pula Bulan puasa semakin dekat. Kalau gempanya ngulang lagi, bagaimana? Pas waktu sedang mandi, telanjang lagi.” Aku masih ingat Yuk, tahun lalu itu, aku belum sempat mandi. Aku mau ke kamar mandi, tiba-tiba ada goncangan, gempa itu. Sampai siang besoknya aku tak berani mandi, karena rumah ini rusak berat. Sangat tersiksa rasanya tidak bisa mandi. Untung tetangga di depan memahami aku. Dia menawarkan mandi di rumahnya. Waktu itu dia baru selesai mandi. Di sanalah aku mandi Yuk. Waktu itu aku pakai kain basahan, karena gempa susulan masih sering terjadi. Untung saja selama aku mandi tidak ada gempa susulan. Hari-hari berikutnya aku mandi di kran dekat jemuran samping ini. Ya, karena tidak di kamar mandi dan khawatir gempa susulan aku pakai kain basahan, kain sarung. Beberapa minggu setelah itu, setelah kembali mandi di kamar mandi aku masih memakai kain basahan. Karena sudah merasa aman, bulan-bulan berikutnya tidak lagi. Dan baru mulai minggu ini.

“ Buk, banyak kejadian waktu gempa tahun yang lalu itu, orang sedang mandi telanjang lari ke luar rumah. Mungkin karena sangat cemas, dan tidak memikirkan lagi keadaan dirinya.”

“Jadi bagaimana Yuk?”

“ Ya, sampai di luar itulah baru menyadarinya, malu, lalu jongkok menahan malu. Akhirnya tetangga yang mengambilkan kain.”

“Itulah Yuk, sebaiknya memang harus melaksanakan perintah agama, tetapi karena godaan setannya kuat, akhirnya yah meninggalkan suruhan itu. Padahal aku pernah baca bahwa seseorang yang telanjang bulat akan ditinggalkan malaikat, karena malaikat malu berada di dekat orang itu.”

“Jadi dalaman ini untuk basahan Buk?”

“Ya, iyalah. Ayuk mandi pakai basahan atau tidak ?”

“Tidak, Buk.”

“ Pakailah Yuk! Kelak kalau gempanya ngulang lagi, apa mau telanjang ke luar rumah?”

“ Ai Ibuk nih, nakuti ajo. Nanti aku pakai basahan Buk.”

“ Sudah selesai Yuk?”

“ Ya, tinggal satu ini.”

“ Mana basahan aku tadi, Yuk? Aku mau mandi.”

Ayuk Mida menyerahkan basahan yang disetrikanya tadi.

“ Yuk besok tak usah disetrika, mubazir. “

“ Iya Buk. Tadi kan belum tahu.”

Ayuk Mida melepaskan kabel listrik setrikaan. Aku ke kamar mengambil uang untuk ongkosnya. Setelah Ayuk Mida pergi aku mandi. Sudah pasti pakai basahan.

Bengkulu, 12.30 wib, 23 Agustus 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s