KEMBANG PEPAYA DAN KECUPAN TUPAI

KEMBANG PEPAYA DAN KECUPAN TUPAI

Oleh: Bunda Guru

Urap termasuk sayur yang sering dibuat bunda. Biasanya sayur yang disiapkan bunda untuk itu berupa kangkung, toge, kacang panjang, dan tak lupa mentimun. Mentimun memberikan aroma yang khas, menimbulkan aroma yang segar sehingga dapat menambah nafsu makan. Sayuran tadi semuanya disiapkan dalam porsi yang kecil saja, karena kalau sudah digabungkan semuanya akan menjadi banyak. Biasanya kangkung cukup satu ikat, toge sekitar dua genggam. Mentimun disiapkan bunda biasanya dua buah yang berukuran sedang. Bunda sangat telaten memilih mentimun yang masih muda. Bila dimakan sangat segar. Namun demikian, sesekali bunda sering meleset juga memilih mentimun itu. Bukan meleset memilih yang muda, tetapi meleset terpilih yang rasanya pahit. Kalau sudah terbeli yang pahit, mentimun tersebut tidak jadi dicampurkan ke dalam sayuran urap tadi karena tidak ada yang bersedia memakannya. Sayang juga rasanya melihat mentimun muda lagi masih segar itu harus masuk ke tempat sampah. Apa boleh buat. Biasanya itu yang dikatakan bunda.

Kacang panjang yang dibutuhkan biasanya juga satu ikatan kecil pula. Aku pernah menghitung jumlah kacang panjang dalam satu ikatan kecil itu. Ternyata satu ikat kecil kacang panjang berjumlah sepuluh …. Sepuluh apa ya? Apa ya… sebutan untuk satu satuan kacang panjang? Disebut satu biji, rasanya kurang tepat. Ia bukan berupa biji- bijian. Biji kacang panjang ada di dalam buahnya itu, dan jumlahnya ada beberapa biji pula. Kalau satu buah, rasanya kurang cocok pula. Bukan seperti jeruk atau mangga. Aku pun belum sempat mendengarkan bunda menyebut sebutan untuk satu satuan kacang panjang. Kalau kakak- kakakku, Kak Fajri atau Kak Hafiz yang ditugaskan membantu merebus kacang panjang, bunda cuma menyebut jumlahnya saja. Biasanya bunda mengatakan “Cukup satu ikat saja”, atau “satu ikat setengah”.

Hal ini mendorong aku untuk mencari tahu. Aku menuju lemari buku di ruang keluarga rumah kami. Di sana ada tiga buah lemari dua pintu yang diletakkan berjejer di dinding sebelah kanan kalau kami masuk dari pintu samping rumah. Aku sudah hafal tempat bunda meletakkan kamus itu, yakni dalam lemari yang di pinggir yang dekat pintu, bukan yang dekat tangga menuju lantai atas. Kamus itu pun dipajang di sebelah kanan, kalau kita menghadap ke lemari tersebut, kamus ada pada rak kedua dari bawah. Jadi, sejajar dengan pandangan mata, sehingga mudah untuk mendapatkannya.

Aku membuka kamus, kucari halaman kata- kata yang dimulai dengan huruf [k]. Ternyata kata- kata tersebut berada pada halaman 484. Akan tetapi, tidak akan ditemukan nomor halaman tersebut lho. Halaman pertama kata berhuruf awal [k] pada kamus tidak diberi nomor halaman. Sama dengan halaman pertama suatu bab pada karya ilmiah. Jadi, halaman 484, aku ketahui karena pada halaman berikutnya tertulis angka 485. Tentu dengan segera aku menelusuri kata- kata dengan suku kata pertamanya [ka-], untuk menemukan kata “kacang”. Halaman 484 berakhir dengan kata “ka.bi.sat., yang berarti “tahun yang jumlah harinya 366 hari. Halaman berikut berakhir dengan kata “kaca”. Aku balik lembaran, membaca ke halaman 486, masih lanjutan penjelasan tentang “kaca”. Di pertengahan kolom duanya aku temukan kata “kacang”. Aku perlambat telusuran jari telunjukku, dan berhenti ketika bertemu kata “ _ panjang”. Keterangannya adalah “kacang yang pohonnya melilit, buahnya panjang berbiji-biji, dipakai untuk sayur”. Ternyata digunakan kata buah untuk menyebut kacang panjang tadi. Akan tetapi, ketika kuucapkan “buah kacang panjang” kok telingaku merasa janggal dengan ucapan itu?

Lalu apa ya sebutan yang enak didengar untuk satuan kacang panjang? Apakah memang buah? Untuk sementara aku putuskan menyebutnya “buah”. Hari ini aku sudah belajar mengakses informasi. Tanpa perintah guru! Jadi belajar dengan kesadaran sendiri. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk mencari informasi lebih lanjut tentang sebutan untuk satuan kacang panjang yang lainnya di dalam buku tata bahasa Indonesia. Kami punya buku itu.

Berbeda halnya dengan mentimun yang pahit tadi, ada satu macam sayur lagi yang senantiasa ditambahkan bunda ketika membuat urap, yakni daun pepaya dan kembangnya. Daun pepaya dan kembangnya berasa pahit, bahkan menurut lidahku pahitnya sangat pahit. Aku jadi ingat. Aku segera meludahkannya ketika pertama kali mencoba. Namun, aku melihat bunda sangat nikmat menyantapnya. Apalagi ketika memakan kembang pepaya tersebut. Seperti ada sensasi tersendiri yang dirasakan bunda ketika memakan bunga pepaya tersebut. Makanan kembang yang bentuknya dan warnanya cukup cantik. Ayah juga demikian. Kata bunda rasa pahit itu nanti akan masuk ke dalam darah di dalam tubuh kita, sehingga nyamuk tidak mau menggigit karena tidak enak menghisap darah yang rasanya pahit.

Pagi ini aku melihat bunda mengeluarkan bungkusan plastik dari dalam kulkas yang berisi bunga pepaya. Dari tadi bunda sudah menyianggi kangkung dan kembang panjang. Keduanya sudah dicuci dan ditiriskan. Demikian juga dengan toge. Kembang pepaya dari dalam plastik dikeluarkan bunda. Tampak masih sangat segar. Bunga pepaya itu dipetik bunda sore kemarin setelah bunda merumput di samping rumah. Pekerjaan yang disukai bunda sebagai ganti kegiatan olah raga. Aku mengamati bunda menyiangi bunga pepaya itu, memotongnya dari tangkainya yang cukup besar. Aku perhatikan bunda memetik bunga yang sudah mekar yang berwarna putih, kemudian membuangnya ketempat kantong sampah, bergabung dengan bekas siangan kangkung dan kacang panjang tadi. Dalam pikiranku mungkin bunga yang mekar itu sudah kurang segar atau sudah tua sehingga keras. Itu sebabnya bunda tidak menggunakannya. Tiba- tiba bunda meminta bantuanku.

“Ihsan, Tolong buang sampah ini ke tempat pembakaran sampah di belakang! Buka pintu ini. Ambil kunci gemboknya di sana.” Aku langsung menuruti perintah bunda, membuka gembok pada pintu dapur, mengambil bungkusan sampah dan menuju tempat pembuangan sampah di belakang dapur. Bungkusan sampah tadi aku buka ikatannya, dan isinya kutumpahkan dengan jarak yang agak jauh. Menumpahkan isi kantong sampah merupakan ajaran bunda pula. Kata bunda agar proses pembusukan cepat berlangsung karena sampah kena sengatan matahari dan guyuran air hujan. Dengan demikian, tidak terjadi penumpukan sampah. Jarak menumpahkan sampah yang agak jauh dilakukan agar ketika mengambil tanah di tempat pembakaran ini mudah dilakukan. Pada saat- saat senggangnya bunda mengambil tanah untuk bertanam atau untuk menambah tanah pada pot kembang atau tanaman buah.

Tak jauh dari tempat pembakaran sampah ada beberapa pohon pepaya yang batangnya sudah tinggi yang sedang berbunga banyak. Aku dengar ada bunyi loncatan di atas pohon. Reflek aku mengalihkan pandangan ke arah datangnya bunyi loncatan tadi. Ternyata benar dugaanku, dua ekor tupai yang meloncat dari pohon kelapa sudah sampai di atas tangkai- tangkai bunga pepaya. Rasa heran menyelinap ke dalam pikiranku. Pepaya ini tidak berbuah. Apa yang dilakukan tupai- tupai ini pada kembang pepaya? Apakah tupai senang memakan kembang pepaya?

Kulihat tupai- tupai itu sangat sibuk memegang tangkai- tangkai kembang pepaya dan mendekatkannya ke mulut, kemudian seperti mengecupnya. Kudekati pohon secara perlahan untuk mendapatkan posisi yang baik untuk mengamati tupai. Hati- hati aku melangkah tanpa menimbulkan bunyi. Aku tahu persis bahwa tupai- tupai itu sangat sensitif dengan bunyi- bunyian yang ditimbulkan orang yang memperhatikannya, apalagi mendekatinya. Dengan pengetahuan ini aku jadi berhasil. Dengan berdiri di belakang rumpun batang daun suji aku dapat leluasa mengamati tingkah- laku tupai itu. Tupai- tupai tadi masih terlihat sangat sibuk. Hal ini disebabkan gerakan- gerakan kecilnya yang sangat cepat. Tangkai kembang pepaya didekatkannya ke mulut, kemudian ia melakukan gerakan seperti memilih- milih. Kufokuskan pengamatanku. Apakah benar ada yang dipilih dan memilih yang mana? Beberapa saat kemudian aku melihat beberapa kembang pepaya yang mekar yang berwarna hampir putih berjatuhan. Apakah kembang yang mekar itu jatuh karena tidak kuat lagi menempel di tangkainya? Kuamati lagi, ternyata tupai- tupai itu mengecup sesuatu yang ada pada kembang pepaya yang mekar tadi. Sesekali ia memetik kembang yang mekar, mengecupnya, kemudian melepaskannya. Aku semakin tertarik untuk mengamatinya. Cukup lama aku menyaksikan tingkah- laku tupai itu. Sekarang aku tahu, tupai- tupai itu memang mengecup air yang ada pada kembang pepaya yang mekar. Secara teliti ia melakukannya pada hampir semua bagian tangkai kembang. Tiba- tiba kedua ekor tupai itu tertegun dan dalam sekejap meloncat ke pohon kelapa dan melompat lagi ke pohon yang lainnya kemudian menghilang dari pandangannku.

Aku masih berdiri tertegun di belakang rumpun daun suji, tiba- tiba panggilan bunda kudengar. Aku segera beranjak dan masuk ke dapur. Kembali memasang gembok pintu.

Aku mencuci tangan pada kran air yang ada pada bak pencucian piring. Bunda masih berdiri di depan kompor merebus sayur- sayur bahan untuk urap tadi. Pada wadah sayuran yang sudah masak sudah ada toge dan kacang panjang. Bunda membuka panci rebusan sayur. Bunda mengankat kangkung yang sudah matang, warna hijaunya sangat menarik. Berarti tingkat kematangannya sangat pas. Tidak overcook. Ini istilah yang kudapat dari menonton acara “Chef Junior Indonesia” beberapa hari yang lalu.

Tiba- tiba pikiranku kembali pada kecupan- kecupan tupai pada kembang pepaya tadi melihat bunda memasukkan kembang pepaya ke dalam air perebus sayur. Kuperhatikan kembang pepaya yang dimasak bunda, semuanya kuncup, tidak ada yang mekar. Pada hal waktu menyiangi tadi ada kembangnya yang mekar, tetapi dibuang bunda. Tupai- tupai tadi mengecup kembang yang mekar. Aku tak bisa menjelaskan jalan pikiranku lagi. Tiba- tiba ada dorongan yang kuat pada diriku untuk bertanya pada bunda.

“Bunda, … kembang pepaya yang sudah mekar tidak enak ya Bunda? Kok tadi bunda buang?”

“Yah… enak pahitnya sama saja. Yang tidak enak, ya makan bekas.”

“Kok makan bekas, Bunda?”

“Iya, makan bekas kecupan tupai. Kembang- kembang pepaya yang sudah mekar itu ada air di kelopak bunganya dan air itu disukai tupai. Tuh lihat!”

Bunda mengarahkan telunjuknya ke jendela kaca di depan meja kompor. Kuikuti. Ternyata dua ekor tupai sedang sibuk mengecup- ngecup kembang pepaya pada pohon yang tadi. Mereka mengecup- ngecup kembang pepaya yang mekar yang masih tersisa.

“Yah tak enak lah memakan kembang pepaya bekas kecupan tupai,” kata bunda.

“Tapi kan dicuci Bunda?” tanyaku.

“Iya, tapi waktu makan jadi ingat dan terbayang lalu tak tertelan, ayo?”

“Bunda, air pada kelopak kembang pepaya itu rasanya manis Bunda?, kembang pepayanya kan pahit?”

“Belum sempat dicicipi tuh! Mungkin. Mungkin manis atau biasa saja. Mungkin pula harum atau wangi.” Ya sudah, siapkan meja makannya. Urapnya sudah hampir jadi. Nasi di magic com-nya sudah matang. Ini ayam goreng bumbu laos.

Sangat nikmat rasanya makan nasi hangat dan ayam goreng bumbu laos masakan bunda. Kembali pikiranku pada kembang pepaya. Apa rasa air pada kelopak kembang pepaya? Apakah rasanya pahit, tawar, harum, atau tidak? Nanti akan kubuktikan, janjiku. Mungkin sesudah makan ini saja, biar misteri ini cepat terungkap. Cie… cie… misteri ni ye? Misteri bunda membuang kembang pepaya yang mekar sudah terungkap. Berarti, aku harus mulai misi kedua. Misteri rasa air pada kelopak kembang pepaya mekar. Apakah baiknya kutanya kepada Mbah Googlee saja? Kalau dicari pada kamus sepertinya ngak ada. Bagaimana ya?

“Urapnya dimakan!”

Tiba- tiba bunda membuyarkan pikiranku. Dengan segera aku memilih toge, beberapa potong kacang panjang, dan kangkung serta mentimun yang ada pada racikan urap bunda. Walaupun daun dan kembang pepaya tidak kuambil tetap saja urap ini pahit, karena sudah dicampur bunda.

“Belajar dari sekarang makan yang pahit- pahit, pasti ada manfaatnya. Kalau tidak mana mungkin Tuhan menciptakannya”, kata bunga.

“Ya Bunda”, jawabku sambil mengambil beberapa potong daum pepaya. Rasa pahit di lidahku membuat aku berpikir kembali tentang rasa air pada kelopak kembang pepaya. Apa ya, rasanya? Atau, apakah wangi?. Atau, ….

Segera aku akhiri makanku dan aku bersiap- siap untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan tadi.

***

Bengkulu, 17 April 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s