TUJUAN PEMBELAJARAN SASTRA DI FKIP

TUJUAN PEMBELAJARAN SASTRA DI FKIP

Elyusra

A. Pendahuluan

Pembelajaran merupakan suatu program yang dijalankan dengan melibatkan banyak aspek. Aspek tersebut diantaranya berupa tujuan yang hendak dicapai, materi pembelajaran, alat dan media pembelajaran, serta sistem evaluasi yang diterapkan. Tujuan adalah aspek yang sangat penting dalam satu program pembelajaran. Hal ini disebabkan dua hal, yakni tujuan pembelajaran adalah aspek yang hendak diwujudkan atau aspek yang harus dicapai dan kedua tujuan pembelajaran akan mengarahkan pemilihan dan penetapan berbagai aspek pembelajaran yang lain.

Aspek tujuan pembelajaran pada dekade terakhir ini cukup banyak dibahas. Pembahasan itu diantaranya berkenaan dengan ranah atau domain apa saja yang akan ditetapkan untuk suatu mata pelajaran atau mata kuliah, bagaimana pembobotannya, bagaimana cara menilai tujuan pembelajaran pada aspek sikap, dan sebagainya. Pihak pelaku dan pemerhati sastra senantiasa menyuarakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran sastra. Dapat dirasakan bahwa ada satu suara yang menyatakan bahwa tujuan pembelajaran sastra itu adalah tercapainya apresiasi sastra pada diri peserta didik. Disamping itu, ada pandangan bahwa pencapaian tujuan pada ranah pengetahuan adalah hal yang kurang penting. Masih banyak pihak pengajar yang hanya fokus pada pencapaian tujuan pembelajaran pada ranah pengetahuan saja, yakni pada tataran mengetahui dan memahami.

Tujuan pembelajaran sastra yang ditetapkan akan sejalan dengan pangangan terhadap sastra itu sendiri. Pandangan yang sangat awal sekali dikemukakan oleh Horace (dalam Ismawati 2013: 3 ) bahwa sastra adalah dulce et utile, yakni sesuatu yang indah dan bermakna. Selain itu, perlu pula diperhatikan taksonomi tujuan pembelajaran yang sudah dikembangkan para ahli seperti taksonomi ranah kognitif Bloom serta taksonomi revisinya yang dikemukakan oleh Anderson dan Krathwohl (2001: 28). Dan tak kalah pentingnya pula memperhatikan perkembangan bidang ilmu sastra itu sendiri dan kebutuhan yang dituntut dalam kehidupan di masyarakat. Dengan acuan ini seorang pengajar dapat memilih, menetapkan, dan mengembangkan tujuan- tujuan pembelajaran sastra yang diampunya.

Sehubungan dengan pemikiran di atas, relevan pula ditinjau perubahan tujuan pembelajaran di tingkat pendidikan menengah, di SMP dan SMA. Perubahan pada semua mata pelajaran adalah pada aspek materi yang harus mencakup tiga kompetensi, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Perubahan pada mata pelajaran bahasa Indonesia, tentu termasuk pembelajaran sastra, diantaranya: 1) siswa dibiasakan membaca dan memahami makna teks serta meringkas dan menyajikan ulang dengan bahasa sendiri. 2) siswa dibiasakan menyusun teks yang sistematis, logis, dan efektif melalui latihan- latihan penyusunan teks, 3) siswa dikenalkan dengan aturan- aturan teks yang sesuai sehingga tidak rancu dalam proses penyusunan teks (Kemendiknas 2013).

Mengacu pada pernyataan Suyono bahwa peserta didik hendaknya dibimbing untuk menyelesaikan studi, mempersiapkan diri melanjutkan studi, memasuki dunia pekerjaan, dan belajar sepanjang hayat di tengah masyarakat (dalam Soyono 2009). Dengan demikian, mahasiswa yang sudah dapat menyelesaikan studinya di jenjang sarjana dapat melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana atau S2, dapat menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik, yakni mengajar sastra di sekolah dan melakukan pekerjaan- pekerjaan lain yang relevan, serta tetap belajar sepanjang hayat. Dengan demikian, dalam memilih dan menetapkan tujuan pembelajaran sastra di FKIP hendaknya pengampu mata kuliah sastra memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai tentang tujuan pembelajaran sastra agar dapat memilih, menetapkan, serta mengembangkan tujuan yang relevan untuk dicapai dalam mata kuliah sastra yang diampunya.

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dinyatakan bahwa permasalahan yang akan dijawab dalam tulisan ini adalah apa sajakah tujuan pembelajaran sastra yang seharusnya dicapai di FKIP? Jawaban dari masalah ini adalah berupa pendeskripsian secara memadai tentang tujuan pembelajaran sastra pada berbagai ranah/ domain tujuan pembelajaran. Pemaparan selanjutnya dalam bentuk kompetensi yang harus ditatapkan dalam pembelajaran yang terdiri atas standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi.

Penulisan artikel ini dilakukan dengan memilih rancangan penelitian kajian pustaka. Dalam hal ini peneliti melakukan penelusuran terhadap berbagai literatur yang memuat konsepsi, prinsip- prinsip sastra, kajian- kajian kritis yang berkenaan dengan tujuan pembelajaran sastra, dan hal- hal lain yang relevan dengan topik yang akan dibahas. Hasil penelusuran/ kajian pustaka dikumpulkan dalam satu tabel kerja untuk melaksanakan analisis data selanjutnya yakni berupa pengklasifikasian berbagai data tujuan pembelajaran sastra yang telah terkumpul. Hasil klasifikasi data dideskripsikan secara memadai.

2. Pembahasan

2.1 Karya Sastra

Kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta; akar kata sas-, dalam kata kerja turunan berarti ‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, atau instruksi. Akhiran –tra biasanya menunjukkan alat, sarana. Maka, dari itu sastra dapat berarti ‘alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran’. Awalan su- berarti ‘baik, indah’ sehingga susastra dapat dibandingkan dengan belles-lettres (Teuuw 1984: 23). Selain arti etimologis di atas, arti yang dikandung oleh kata sastra dapat pula dipahami dari pengertian yang diutarakan dengan dasar beberapa pandangan berikut. Bagi sebagian orang, sastra dinilai sebagai kreasi seni yang mengandung nilai- nilai luhur, nilai moral, yang berguna untuk mendidik umat. Sebagian orang yang lain, menilai sastra sebagai kreasi seni yang didorong oleh gejolak batin yang bersifat individual (Semi, 2008: 2). Pandangan yang sangat awal sekali dikemukakan oleh Horace (dalam Ismawati 2013: 3 ) bahwa sastra adalah dulce et utile, yakni sesuatu yang indah dan bermakna. Lebih jauh lagi, dinyatakan Semi (2008: 2) sastra dapat dipandang sebagai suatu objek yang memiliki dua fungsi pokok, yaitu menyampaikan ide, teori, emosi, sistem berpikir, dan pengalaman keindahan manusia. Selain itu, sastra berfungsi pula untuk menampung ide, teori, emosi, sistem berpikir, dan pengalaman keindahan manusia.

Menurut Klarer (2004: 3), genre merujuk pada salah satu bentuk dari tiga kesusastraan klasik seperti epic, drama atau poetry. Kemudian,  untuk menggantikan epic karena kemiripannya dengan poetry maka prose diperkenalkan untuk karya-karya seperti novel dan short story.  Namun, berikutnya Klarer membuat suatu pengklasifikasian terhadap genre yang disebutya major genres yaitu fiction, poetry, drama, dan film. Klarer menambahkan Bildungsroman (novel of education), epistolary novel, historical novel, satirical novel, utopian novel, gothic novel dan detective novel pada jenis novel yang sebelumnya telah disebut Kirszner-Mandell.

Istilah prosa fiksi atau cukup disebut karya atau fiksi, biasa juga diistilahkan dengan prosa cerita, prosa narasi, narasi, atau cerita berplot. Pengertian prosa fiksi tersebut adalah kisahan, atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita (Aminuddin, 2010: 66). Termasuk ke dalam jenis prosa cerita adalah novel, novelet, dan cerita pendek. Novel, menurut Kirszner dan Mandell (1997: 39) merupakan hasil dari penggabungan berbagai bentuk prosa tersebut. Short story menjadi salah satu bentuk narasi yang berkembang namun berbeda dengan novel karena memiliki panjang dan lingkup bahasan yang terbatas dengan lebih kurang dua belas halaman. Kirszner dan Mandell (1997: 40) mengenalkan bahwa terdapat juga bentuk narasi short short story yang terdiri dari lebih kurang lima halaman seperti karya Luisa Valenzuela yang berjudul “All About Suicide”. Sementara itu yang memiliki narasi lebih banyak dari dua belas halaman disebutnya sebagai novella misalnya “The Metamorphosis” karya Frantz Kafka (1997: 40).

Jenis sastra yang kedua adalah puisi. Cukup banyak pengertian yang dikemukakan tentang puisi. Suatu pengertian ada kecenderungan mendasarkan diri pada peninjauan aspek tertentu dari karya puisi. Dengan demikian, suatu batasan tidak menggambarkan secara penuh objek puisi sebagai karya sastra. Dari berbagai batasan puisi yang ada, Waluyo (1987: 25) mendata beberapa hal yang dapat mengungkapkan pengertian puisi, yaitu: (a) dalam puisi terjadi pengkonsentrasian atau pemadatan segala unsur kekuatan bahasa; (b) dalam penyusunannya, unsur- unsur bahasa iotu dirapikan, diperbagus, diatur sebaik- baiknya dengan memperhatikan irama dan bunyi; (c) puisi adalah ungkapan pikiran perasaan dan pikiran penyair yang berdasrkan mood atau pengalaman jiwa dan bersifat imajinatif; (d)

Jenis sastra berikutnya adalah drama. Drama adalah cerita atau tiruan prilaku manusia yang dipentaskan (Semi, 1984: 156). Drama dapat ditulis dalam bentuk prosa maupun puisi serta memiliki dua sisi yakni sebagai seni yang dapat dinikmati dengan pembacaan dan sekaligus dengan penontonan.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa ada perdedaan antara drama dengan puisi. Kendatipun demikian, dari aspek isi dan struktur drama mempunyai persamaan pula dengan dua jenis karya sastra yang lain tadi, yaitu: (1) sama- sama menggunakan medium bahasa yang indah, bergaya, dan memikat; (2) sama-sama berbicara tentang nilai- nilai kemanusiaan yang dapat memberi faedah kepada pembaca maupun penonton; (3) sama- sama mementingkan nilai keindahan dan kemenarikan sehingga dalam penciptaannya harus memperhatikan azas keseimbangan , keutuhan dan keselarasan.

Selain memiliki kesamaan dengan prosa fiksi dan puisi, drama mempunyai beberapa kharanteristik. Adapun kharakteristik drama secara singkat dapat dinyatakan sebagai berikut: (1) drama mempunyai tiga dimensi, yakni dimensi sastra, gerakan, dan ujaran; (2) drama memberikan pengaruh emosional yang lebih kuat, dibandingkan dengan puisi dan fiksi; (3) drama yang dipentaskan lebih lama diingat; (4) drama memiliki konsentrasi dan intensitas; (5) drama terbatas dalam wilayah penceritaan dan tempat; (6) drama memiliki keterbatasan dari segi kepantasan; (7) drama dibatasi oleh keterbatasan intelegensi penonton; (8) drama memiliki jumlah episode yang terbatas; (9) drama memiliki keterbatasan bentuk yaitu melulu percakapan.

Jenis sastra yang terakhir adalah film. Dalam urainnya tentang ragam drama ditinjau dari aspek konteks dan tempat pentas Endraswara (2011: 142) menyatakan bahwa film termasuk salah satu jenis drama disamping drama televisi. Terlepas dari ekspresi makna yang berbeda, drama dan film seringkali diletakkan di bawah seni pertunjukan karena penggunaan aktornya. Dari perspektif formalis- strukturalis bagaimana pun, film terlihat lebih dekat dengan novel dari pada drama karena menggunakan karakter tetap (yaitu direkam) (Klerer 2004:135).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, film adalah lakon ( cerita) atau gambar hidup (Depdiknas, 2001: 316). Selanjutnya, menurut sumarno (1996: 27) film adalah media ekspresif artistik yaitu alat bagi seniman film untuk mengutarakan ide, gagasan, lewat wawasan keindahan.

2.2 Pembelajaran Sastra

Istilah pembelajaran merupakan padanan dari kata instruction dalam bahasa Inggris, yang berarti proses membuat orang belajar. Tujuannya ialah membantu orang belajar, atau memanipulasi (merekayasa) lingkungan sehingga memberi kemudahan bagi orang yang belajar. Gagne dan Briggs (1979) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu rangkaian events (kejadian, peristiwa, kondisi, dan sebagainya) yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi peserta didik (pebelajar), sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah. Degeng (dalam Uno 2008: 83) juga menyatakan bahwa pembelajaran atau pengajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa.

Dinyatakan pula bahwa dalam pengertian pembelajaran menurut Degeng (dalam Uno 2008) di atas, secara implisit terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Selanjutnya Winkel (Depdiknas, 2008) menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian- kejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik. Gagne (Depdiknas 2008: 3-4) menyatakan, pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan membuat berhasil guna. Oleh karena itu, menurut Miarso (Depdiknas 2008) pembelajaran perlu dirancang, ditetapkan tujuannya sebelum dilaksanakan, dan dikendalikan pelaksanaannya.

Dinyatakan oleh Rohman (2010: 16-17) bahwa “pengajaran sastra adalah proses interaksional untuk membangun pengetahuan tentang sastra.” Dinyatakan lebih lanjut bahwa dalam bentuk pakem, pengetahuan sastra adalah ilmu sastra. Dinyatakan Wellek dan Warren (1989: 38) ia merupakan salah satu studi sastra, yang mencakup: teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Ketiga bidang studi sastra ini saling punya hubungan. Pradopo (2001: 38) menjelaskan Teori sastra adalah bidang studi sastra yang berhubungan dengan teori kesusastraan, seperti studi tentang pengertian kesusastraan, unrsur- unsur atau lapis- lapis normanya, jenis atau genre sastra, dan kriteria yang dapat membedakannya. Sejarah sastra adalah studi sastra yang membicarakan lahirnya kesusastraan Indonesia modern, sejarah jenis sastra, periode-periode sastra, dan sebagainya. Kritik sastra adalah studi sastra yang berusaha menyelidiki karya sastra dengan langsung, menganalisis, menginterpretasi, memberi komentar, dan memberikan penilaian.

Yang menjadi persoalan dasar pengajaran sastra menurut Rohman (2010: 16-17) adalah bagaimana menyusun ilmu sastra melalui pengajaran. Dalam bentuk bagan, pengajaran sastra digambarkan sebagai berikut:

Ilmu sastra ß–à Desain ß–à Praktik ß–à Evaluasi

Rohman (2012: 19 & 23) menyatakan bahwa pengajaran sastra merupakan sebuah model interaksi yang membicarakan karya sastra dan ilmu sastra. Esensi pengajaran sastra adalah pemaknaan terhadap karya sastra, dimulai dari membaca, memahami, dan berakhir dengan memaknai. Pengajaran prosa fiksi tentu dimaksudkan sebagai pengajaran yang membekali mahasiswa dengan pengetahuan prosa fiksi dalam berbagai tatarannya. Karya sastra sebagai karya seni menghendaki pembelajaran pada aspek afektif dan psikomotor. Lebih jauh diungkapkan oleh Chambers dan Gregory (2006: 37) pembelajaran sastra memiliki banyak disiplin spesifik dan tujuan kognitif, tetapi tujuan yang paling umum, dasar, tujuan- tujuan pengembangan. Melalui pendidikan, diinginkan siswa tumbuh secara intelektual, matang secara pribadi, untuk mengembangkan sosial dan menjadi lebih maju secara emosional.  Perspektif ini cocok terutama bagi siswa muda, orang dewasa, bahkan yang baru menempuh pendidikan tinggi, atau orang-orang yang kembali ke sekolah setelah bertahun-tahun jauh dari sekolah.

Sejalan dengan Chambers dan Gregory dinyatakan Hidayat (Stanton, 2012) bahwa pembelajaran sastra sejalan dengan tujuan karya sastra sebagai karya seni yang bertujuan memberikan kesenangan sekaligus pencerahan. Jadi, sifatnya emosional sekaligus intelektual. Pembelajaran sastra dijadikan wahana untuk mengembangkan kemampuan ekspresi diri, kemampuan membangun argumen dan berkomunikasi, mengembangkan gaya komunikasi. Dikemukakan pula oleh Sayuti (2012: 2), bahwa:

“Pendidikan sastra dan seni- budaya … adalah pendidikan yang berorientasi pada tumbuh kembangnya kesadaran budaya. Ujung akhir yang dicapai adalah situasi ketika perasaan cinta kepada segala sesuatu yang maknawi dan berjiwa kehidupan tumbuh dan bersemi dalam diri (situasi biofilik), dan bukan sebaliknya, situasi nekrofilik yang selalu memberhalakan benda- benda yang tidak berjiwa kehidupan”.

2.3 Tujuan pembelajaran sastra

Pada uraian pengertian pengajaran sastra di atas secara implisit dinyatakan bahwa tujuan pengajaran sastra adalah untuk membangun pengetahuan tentang sastra. Dinyatakan, “persoalan pengetahuan sastra sebagai tujuan akhir pengajaran sastra secara kongruen adalah persoalan- persoalan konsepsi, hipotesis,dan aspek- aspek yang terkait dengan sastra (Rohman, 2012: 16-17). Dinyatakan pula oleh Chambers & Gregory ( 2006:37) bahwa tujuan pembelajaran sastra adalah analisis, interpretasi, dan penilaian. Singkatnya, studi sastra adalah hermeneutik, intertekstual, partisipatif, sarat nilai, tergantung pada konteks dan relatif tidak ada batas. Pembelajaran sastra memiliki banyak disiplin spesifik dan tujuan kognitif, tetapi tujuan yang paling umum, dasar, tujuan- tujuan pengembangan. Melalui pendidikan, diinginkan siswa tumbuh secara intelektual, matang secara pribadi, untuk mengembangkan sosial dan menjadi lebih maju secara emosional.  Peserta didik belajar menginformasikan teori, sesuai interpretasi dan penilaian, dengan terlibat dengan teks primer dan sekunder yang diproduksi oleh para pendahulu mereka, dengan membuat pertanyaan sendiri dan memproduksi teks-teks mereka sendiri, sehingga mereka terlibat dalam proses kritis. Dengan demikian, pendidikan semacam ini menawarkan wawasan ke dalam budaya masa lalu dan cara-cara melalui wacana, masa lalu dan sekarang, masyarakat belajar bernegosiasi dan berbagi makna- wawasan yang dapat meningkatkan dan bahkan mengubah pemahaman masyarakat dari diri mereka sendiri, masyarakat mereka.

3. Pembahasan

Berbagai pendapat tentang tujuan pembelajaran sastra yang diperoleh yang dikemukakan pada bagian hasil di atas, telah memberikan indikasi bahwa pembelajaran sastra tersebut mencakup berbagai domain tujuan pembelajaran, yakni pada domain kognitif/ pengetahuan, afektif/ sikap, dan motorik/ psikomotor. Tujuan pada masing- masing domain mencakup beberapa aspek dan masih dapat dikembangkan kedalam beberapa subaspek lagi. Berikut ini pendeskripsian tujuan-tujuan pembelajaran sastra yang semestinya ditetapkan dalam pembelajaran sastra di FKIP.

3.1 Tujuan menguasai pengetahuan sastra/ kognitif

Bloom, dkk. (dalam Suciati 1997: 10-17) membagi tujuan kognitif ke dalam enam katagori. Keenam katagori ini diasumsikan bersifat hirarki, yang berarti tujuan pada level yang tinggi dapat dicapai hanya apabila tujuan level yang lebih rendah telah dikuasai. Keenam tujuan tingkat pengetahuan itu adalah: (1) pengetahuan/ pengenalan, (2) pemahaman, (3) penerapan, (4) analisis, (5) sintesis dan (6) evaluasi.

Anderson and Krathwohl (2001: 28) melaksanakan revisi yang merupakan upaya menginovasi taksonomi Bloom yang sudah sangat lama dipergunakan dalam dunia pendidikan. Mereka menyatakan dimensi proses kognitif terdiri atas: remember, understand, apply, analyze, evaluate, dan create. Maksud dari enam dimensi kognitif tersebut : 1) Mengingat berarti untuk mendapatkan kembali pengetahuan relevan dari memori jangka panjang; 2) Memahami didefinisikan sebagai membangun makna dari pesan instruksional, baik secara lisan, tertulis, dan komunikasi grafik; 3) Menerapkan berarti membawa keluar atau menggunakan prosedur pada situasi tertentu; 4) Menganalisis adalah memecah materi menjadi bagian-bagian penyusunnya dan memisahkan bagian-bagian yang terkait satu sama lain serta struktur keseluruhan tujuan; 5) mengevaluasi berarti membuat pertimbangan berdasarkan kriteria dan atau standar tertentu; 6) Menciptakan berarti meletakkan elemen-elemen bersama menjadi bentuk, kesatuan yang utuh, atau untuk membuat sebuah produk original.

Adapun maksud keempat dimensi pengetahuan sebagai berikut: 1) Factual Knowledge adalah pengetahuan tentang melainkan, memisahkan elemen konten; termasuk ilmu terminologi dan ilmu tentang detil spesifik dan elemen-elemen. 2) Conceptual knowledge adalah ilmu yang lebih kompleks “bentuk pengetahuan terorganisir”, termasuk ilmu tentang klasifikasi dan kategori, prinsip dan generalisasi, dan teori, model, dan struktur; 3) Procedural knowledge adalah ilmu tentang cara melakukan sesuatu. Ini mencakup ilmu tentang skill dan algoritma, teknik dan metode, sebagaimana ilmu tentang kriteria yang digunakan untuk menentukan dan/ atau membenarkan “waktu melakukan sesuatu” dengan domain dan disiplin tertentu; 4) Metacognitive knowledge adalah ilmu tentang kognisi secara umum serta kesadaran dan pengetahuan tentang kognisi sendiri. meliputi pengetahuan strategis, pengetahuan tentang tugas kognitif, termasuk pengetahuan kontekstual dan kondisional; dan pengetahuan-diri. Tentu saja, aspek tertentu pengetahuan metakognitif tidak sama dengan pengetahuan yang didefinisikan oleh para ahli. (Anderson and Krathwohl, 2001: 28).

Adapun tabel taksonomi tersebut sebagai digambarkan Anderson and Krathwohl ( 2001: 28) berikut:

TABEL 1: TABEL TAKSONOMI

 

THE COGNITIVE DIMENTION

THE COGNITIVE PROCESS DIMENSION

1

REMEMBER

2

UNDERSTAND

3

APPLY

4

ANALYZE

5

EVALUATE

6

CREATE

A.

FACTUAL KNOWLEDGE

 

 

 

 

 

 

 

B.

CONCEPTUAL KNOWLEDGE

 

 

 

 

 

 

 

C. PROCEDURAL KNOWLEDGE

 

 

 

 

 

 

 

D.

META-COGNITIVE KNOWLEDGE

 

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi ranah kognitif lain, yakni tujuan pengajaran dalam dua dimensi sebagaimana yang dikembangkan Merill (1983:285) dalam model pengajaran Component Display Theori-nya (CDT). Klasifikasi tujuan menurut dua dimensi itu adalah: (1) jenis materi (fakta, konsep, prinsip, dan prosedur); dan (2) tingkat pelaksanaan yang diinginkan dalam materi tersebut (mengingat, menggunakan, dan menemukan).

Kategori pelaksanaan meliputi tujuan: mengingat, menggunakan, dan menemukan. Mengingat adalah pelaksanaan yang mengharuskan mahasiswa menelusuri ingatannya untuk memproduksi atau mengidentifikasi suatu item informasi yang telah disimpan sebelumnya. Menggunakan adalah pelaksanaan yang mengharuskan mahasiswa menerapkan suatu abstraksi dalam kasus tertentu. Menemukan adalah pelaksanaan yang mengharuskan mahasiswa menyimpulkan atau menemukan suatu abstraksi baru.

Kategori materi terdiri atas empat macam materi, yakni berupa fakta, konsep, prosedur, dan prinsip. Fakta adalah bagian–bagian informasi yang saling berkaitan secara sembarangan seperti nama diri, tanggal atau kejadian, nama sebuah tempat atau simbol yang digunakan untuk menyebutkan benda atau kejadian tertentu. Konsep adalah kelompok benda atau simbol yang semuanya memiliki sejumlah karakteristik yang sama dan yang diidentifikasi menurut nama yang sama. Sebagian besar kata dalam suatu bahasa mengidentifikasi konsep. Prosedur adalah rangkaian berurutan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan, memecahkan suatu kelas soal tertentu atau menghasilkan suatu produk. Prinsip adalah penjelasan atau perkiraan mengenai mengapa suatu terjadi di dunia. Prinsip adalah hubungan sebab–akibat atau hubungan korelasional yang digunakan untuk menafsirkan kejadian atau keadaan. Klasifikasi pelaksanaan materi menghasilkan sepuluh macam klasifikasi dua dimensi, yaitu: (1) mengingat fakta, (2) mengingat konsep, (3) menggunakan konsep, (4) menemukan konsep, (5) mengingat prosedur, (6) menggunakan prosedur, (7) menemukan prosedur, (8) mengingat prinsip, (9) menggunakan prinsip, dan (10) menemukan prinsip (Merrill, 1983: 285- 289).

Berdasarkan penjelasan di atas, tujuan menguasai pengetahuan sastra dimaksudkan sebagai tujuan pencapaian kemampuan mengingat fakta sastra, mengingat konsep sastra, mengingat prosedur sastra, dan mengingat prinsip sastra.

2) Tujuan menganalisis karya sastra

Secara singkat dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan menganalisis karya sastra adalah upaya merebut arti dan melihat mekanisme sebuah karya (Amazaki, 1990: 199-120). Kegiatan analisis karya fiksi dalam hal ini tampil dengan mencoba menerangkan, misalnya, peranan masing- masing unsur, kaitan unsur yang satu dengan unsur yang lain, memberikan alasan atas kelebihan dan kelemahan suatu unsur yang ada, yang ingin diungkapkan dalam fiksi tersebut, dan sebagainya (Nurgiyantoro, 1995: 32). Penganalisisan karya sastra bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang sama-sama menghasilkan makna keseluruhan (Teeuw, 1984: 135).

Dengan demikian, tujuan menganalisis karya sastra yakni berupa kompetensi menguraikan atau mendeskripsikan karya sastra atas berbagai unsur pembangunnya, menguraikan hubungan suatu unsur dengan unsur yang lain, serta menguraikan hubungan suatu unsur karya sastra dengan makna keseluruhannya. Pendeskripsian hal- hal di atas dikemukakan secara cermat, teliti, mendetil, dan mendalam.

3) Tujuan Hermeneotik/ Menginterpretasi / Menafsir karya sastra

Dalam sastra, hermeneotika disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Secara etimologi hermeneotika berasa dari kata hermeneuein, bahasa Yunani, yang berarti menafsirkan atau menginterpretasikan. Penafsiran disampaikan lewat media bahasa. Karya sastra perlu ditafsirkan sebab di satu pihak karya sastra terdiri atas bahasa, di pihak lain, di dalam bahasa sangat banyak makna yang tersembunyi, atau dengan sengaja disembunyikan (Ratna, 2009: 45). Dinyatakan Abrams (dalam Pradopo, 2001: 39 & 76) interpretasi adalah penjelasan makna karya sastra atau penjernihan arti bahasa. Demikian juga dengan Atmazaki (1998: 121) yang menyatakan bahwa interpretasi adalah upaya memberi makna terhadap karya sastra. Dalam arti sempit, interpretasi dapat dilakukan dengan tiga sarana: analisis, parafrase, komentar. Dalam arti luas, dalam bentuk menyatakan jenis karya sastra, mengungkapkan segi kebahasaaan, jalinan unsur/ struktur, efek pemakaian sarana literer (Pradopo, 2001: 76).

Berdasarkan konsepsi dan cakupan kerja pada tahapan interpretasi karya sastra di atas, tujuan menginterpretasi karya sastra yang akan dicapai adalah berupa kemampuan memparafrase, memberikan komentar, menyatakan jenis karya yang dikaji, mengungkapkan segi kebahasaaan, jalinan unsur/ struktur, efek pemakaian sarana literer.

4) Tujuan Intertekstual

Interteks diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks lain. Teks secara etimologis (tekstus, bahasa Latin) berarti tenunan, anyaman, penggabungan, susunan, dan jalinan (Ratna 2009: 172). Dengan demikian, setiap teks sastra merupakan mosaik kutipan- kutipan, penyerapan, dan transformasi teks- teks lain. Masalah intertekstualitas lebih kepada bagaimana kita memperoleh makna sebuah karya secara penuh dalam kontrasnya dengan karya lain yang menjadi latarnya (Pradopo 2001). Prinsip intertekstualitas yang utama adalah prinsip memahami dan memberikan makna karya yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 1995:54). Tujuan kajian interteks adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap suatu karya. Penulisan dan atau pemunculan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan itu. Melalui pendekatan intertekstualitas, kita dapat memperjelas makna karya sastra, memudahkan pemahaman makna teks, memudahkan pemahaman dan posisi kesejarahan, serta menemukan norma- norma dan konvensi sebuah periode sastra (Pradopo, 1995: 178).

Pemaknaan karya sastra secara interteks dijalankan berdasarkan sejumlah prinsip. Kristeva (dalam Teuuw, 1984: 145- 146) menyatakan:

Prinsip ini berarti bahwa setiap teks sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks- teks lain; tidak ada sebuah teks pun yang sungguh- sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks- teks lain sebagai contoh, teladan, kerangka; tidak dalam arti bahwa teks baru hanya meneladan teks lain atau mematuhi kerangka yang telah diberikan lebih dahulu; tetapi dalam arti bahwa dalam penyimpangan dan transformasi pun model teks yang sudah ada memainkan peranan yang penting; pemberontakan dan penyimpangan mengandaikan adanya sesuatu yang dapat diberontaki atau disimpangi. Dan pemahaman teks baru memerlukan latar belakang pengetahuan tentang teks- teks yang mendahuluinya.

Berdasarkan penjelasan di atas, tujuan intertekstual yang akan diwujudkan dalam pembelajaran sastra adalah dapat dimilikinya kompetensi mengungkapkan keterhubungan suatu teks sastra dengan teks- teks lainnya dalam rangka pemaknaan suatu karya sastra.

5) Tujuan Mengevaluasi/ menilai karya sastra

Yang dimaksud dengan menilai karya sastra adalah menyatakan kualitas karya. Dalam kegiatan ini termasuk mengemukakan tentang kekuatan dan kelemahan karya sastra. Penilaian hendaknya dilakukan berdasarkan hakikat sastra suatu karya seni.

Menyatakan kualitas suatu karya hendaknya berdasarkan suatu kriteria tertentu. Diantara kriteria- kriteria yang dapat digunakan adalah: a) kriteria estetika, b) kriteria struktur ( intrinsik dan ekstrinsik), c) kriteria struktur lapis makna (neveau anorganik, vegetatif, animal, humanis, metafisika/ transedental), dan d) kriteria struktur lapis bunyi (Fananie, 2000: 73- 107)

Dalam penilaian yang sempurna akan diperoleh penganalisisan karya sastra berdasarkan teori sastra dan mengalisis keseluruhan bagian karya. Penilaian hendaknya dinyatakan secara objektif, dan dikuti pertimbangan baik buruk karya tersebut, serta menunjukkan hal-hal baru yang ada pada karya. Disamping itu, hendaknya pula dilakukan dengan metode ilmu sastra tertentu (Pradopo, 1994: 29). Didalam menilai karya sastra hendaknya tidak sembarangan. Suatu karya sastra jika gagal hendaknya dinyatakan dengan memberikan alasan- alasan dan bukti- bukti (Baribin, 1989: 83).

6) Tujuan partisipatif

Tujuan partisipasi menunjukkan keterlibatkan seseorang dalam aktivitas bersastra. Ellie Chambers & Marshall Gregory (2006: 37) menyatakan bahwa tujuan belajar ini berupa peserta didik belajar menginformasikan teori, terlibat dengan teks primer dan sekunder yang diproduksi oleh para pendahulu mereka, membuat pertanyaan sendiri, dan memproduksi teks-teks mereka sendiri. Dinyatakan pula bahwa peserta didik dalam pencapaian tujuan belajar tersebut terlibat dalam proses kritis.

Berdasarkan penjelasan di atas, beberapa tujuan pembelajaran sastra yang merupakan tujuan partisipatif di FKIP yang dapat berupa mempresentasikan teori- teori sastra yang sudah mereka pelajari dalam diskusi kelas. Partisipasi dalam diskusi kelas dapat berupa berpartisipasi aktif sebagai penyaji dan peserta diskusi. Bentuk partisipasi lain menanggapi penampilan teman mereka, misalnya dalam membacakan suatu karya sastra sesuai dengan interpretasi dan penilaian mereka. Keterlibatan mereka dalam aktivitas belajar ini berlangsung sebagai suatu proses kritis. Hal lain lagi, mahasiswa juga dituntut untuk menunjukkan kinerja mereka berupa keterlibatannya dengan teks sastra primer dan sekunder, membaca karya sastra dan pengetahuan sastra. Pencapaian tujuan pembelajaran ini ditunjukkan oleh mahasiswa dalam bentuk laporan ringkasan bacaan dan hasil analisis, dan sebagainya.

7) Tujuan memiliki nilai-nilai ( emosional, sosial)

Sebagaimana telah diutarakan di atas, tujuan yang paling umum atau mendasar dari pembelajaran sastra adalah tujuan- tujuan pengembangan. Melalui pembelajaran diharapkan peserta didik tumbuh secara intelektual, matang secara pribadi, mengembangkan keterampian sosial, dan menjadi lebih maju secara emosional. Tujuan aspek afektif yang lain adalah partisipasi atau keterlibatan peserta didik, seperti terlibat dengan teks primer dan sekunder dalam proses kritis, sarat dengan nilai- nilai . ( Chambers & Gregory, 2006: 37).

Kontinum afektif merupakan rentangan antara pengarahan dosen dalam kegiatan belajar mengajar dengan pengarahan diri sendiri oleh mahasiswa dalam mencari konteks tambahan yang berhubungan dengan topik yang sedang dipelajarinya. Dalam hal ini berupa kecendrungan yang diperlihatkan peserta didik (Wardani, 1981: 8).

Menurut Waluyo ( 1994: 60) dalam pengajaran sastra aspek apresiasi perlu diberi porsi yang lebih banyak. Aspek apresiasi merupakan salah satu dari empat aspek afektif, yang terdiri dari: minat, apresiasi, sikap dan nilai. Apresiasi meliputi sebagian dari penerimaan, yakni kemampuan mengontrol dan menyeleksi perhatian, kemampuan merespon (seluruhnya), dan sebagian dari pemberian nilai dan pemilihan nilai. Selanjutnya, perhatian dan kemampuan merespons termasuk ke dalam aspek minat, sedangkan pemberian dan pemilihan nilai berhubungan erat dengan sikap (Waluyo, 1994: 60).. Dengan demikian, dalam pembelajaran ranah afektif dosen hendaknya menaruh perhatian penuh pada upaya mempengaruhi dua karakteristik afektif mahasiswa ini.

Slameto (1995:180-182) mengemukakan tiga cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada suatu subyek yang baru. Ketiga cara tersebut: (i) dengan menggunakan minat-minat mahasiswa yang telah ada, (ii) Janner & Janner menyarankan agar para pengajar juga berusaha membentuk minat-minat baru pada diri mahasiswa, dan (iii) apabila usaha-usaha di atas tidak berhasil pengajar dapat memakai insentif.

Sikap mengandung tiga komponen, yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen tingkah laku. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengubah sikap: (a) dengan menggunakan komponen kognitif dari sikap yang bersangkutan, (b) dengan cara mengadakan kontak langsung dengan objek sikap, dan (c) dengan memaksa orang me- nampilkan tingkah laku baru yang tidak konsisten dengan sikap-sikap yang sudah ada.

8) Tujuan Memproduksi teks sastra

Tujuan memproduksi teks sastra adalah kompetensi yang harus dicapai mahasiswa berupa menghasilkan karya sastra. Dalam mata kuliah Prosa Fiksi, bentuk- bentuk teks sastra alternatif yang dapat diciptakan mahasiswa adalah cerita pendek, novelet, atau novel. Dalam mata kuliah Drama tujuan ini berupa kompetensi mahasiswa mencipta naskah drama.

9) Tujuan aspek motorik/ psikomotor

Aktivitas bersastra tidak hanya dapat dilakukan secara mental, tetapi juga secara fisik. Kompetensi psikomotor menekankan pada keterampilan neoro- mascular, yaitu keterampilan yang bersangkutan dengan gerakan otot. Secara skematis, Taksonomi tersebut dikembangkan oleh Harrow dan juga disusun secara hirarkhis dalam lima tingkat, mencakup tingkat meniru sebagai yang paling sederhana dan naturalisasi sebagai yang paling kompleks. Kelima tingkatan tersebut mencakup: meniru (immitation), manipulasi (manipulation), ketepatan gerakan (precision), artikulasi (articulation), dan naturalisasi (naturalization) (Suciati, 2001: 34- 38).

Maksud dari tingkatan- tingkatan tersebut secara singkat adalah sebagai berikut: 1) meniru (immitation) berupa keterampilan meniru suatu perilaku yang dilihatnya; 2) manipulasi (manipulation) adalah keterampilan melakukan suatu periaku tanpa bantuan visual, sebagaimana pada tingkat meniru. Peserta didik diberi petunjuk berupa tulisan atau instruksi verbal dan diharapkan melakukan tindakan (perilaku) yang diminta; 3) ketepatan gerakan (precision) adalah kemampuan melakukan suatu perilaku tanpa menggunakan contoh visual maupun petunjuk tertulis, dan melakukannya dengan lancar, tepat, seimbang dan akurat. Dalam melakukan perilaku tersebut, kecil kemungkinan terjadi kesalahan karena seseorang yang berada pada tingkatan ini telah mahir melakukannya; 4) artikulasi (articulation) adalah tingkat keterampilan yang berupa serangkaian gerakan dengan akurat, urutan yang benar, dan ketepatan yang tepat; 5) naturalisasi (naturalization) adalah kemampuan melakukan gerakan secara spontan atau otomatis. Seseorang melakukan gerakan tersebut tanpa berpikir lagi cara melakukannya dan urutannya. ) (Suciati, 2001: 34- 38).

Dalam proses pembelajaran, aspek kompetensi kognitif dan afektif saling berinteraksi dalam diri seorang mahasiswa. Sikap yang apriori terhadap suatu konsep atau prosedur kerja dapat menjadi hambatan bagi tercapainya tujuan kognitif. Sebaliknya, untuk mengubah suatu sikap atau mengadopsi suatu nilai, mahasiswa juga memerlukan pemahaman yang sifatnya kognitif. Dalam proses pembelajaran tertentu aspek kognitif dan afektif merupakan dua sisi mata uang yang perlu ada (Suciati, 2001: 38).

10) Tujuan aspek strategi kognitif/ Metakognitif

Strategi kognitif (cognitive strategy) merupakan kemampuan atau strategi pribadi untuk berpikir, mengingat, dan belajar. Kemampuan atau membantu mahasiswa untuk mengatur atau mengontrol proses berpikir dalam dirinya sendiri. Depoter, dkk. (2000: 64) menyebutnya sebagai keterampilan belajar untuk belajar). Ia mengatakan bahwa pelajaran apa pun pembelajaran lebih cepat dan lebih efektif jika mereka menguasai keterampilan itu. Kelima keterampilan penting tersebut adalah: konsentrasi terfokus, cara mencatat, organisasi dan persiapan tes, membaca cepat, dan teknik mengingat.

West, Farmer, dan Wolff (dalam Pannen, 1997:3–23, 3-24) menjelaskan ada empat keluarga besar strategi kognitif, yaitu Chunking, Spartial, Bridging, dan Multipurpose. Adapun maksud dari keempat itu adalah sebagai berikut :

(1) Chunking, merupakan strategi mengorganisasikan sesuatu secara sistematis melalui proses mengurutkan (order), mengklasifikasi, (classify), dan menyusun (arrange). Chunking dapat membantu seseorang untuk mengelola data yang sangat banyak atau proses yang sangat kompleks.

(2) Spartial, merupakan strategi untuk menunjukkan hubungan antara hal satu dengan hal lain. Strategi kognitif yang termasuk dalam Spartial adalah Frames ( Tabel ) dan Concept Meps (Peta Kognitif)

(3) Bridging, merupakan strategi untuk menjembatani pemahaman seseorang melalui metafor, anologi, dan advance organizer merupakan kerangka dalam bentuk abstaksi atau ringkasan tentang konsep–konsep dasar dari materi yang harus dipelajari. Advance Organizer ini hanya dapat dibuat oleh dosen untuk me-mudahkan mahasiswa belajar. Mahasiswa tidak mungkin diminta untuk membuat advance organizer pada awal perkuliahan.

(4) Multipurpose, merupakan strategi kognitif yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain rehearsial, imagery, dan mnemonics (jembatan keledai). Rehearsial merupakan cara untuk mereview materi, bertanya, mengantisipasi pertanyaan dan materi. Rehearsial hanya dapat dilakukan oleh mahasiswa, dosen diharapkan dapat memberikan waktu agar mahasiswa dapat melakukan. Imagery (membayangkan) merupakan proses visualisasi suatu konsep, kejadian, maupun prinsip. Mnemonics atau jembatan keledai merupakan alat bantu mengingat, misalnya singkatan.

Pada dasarnya, bentuk–bentuk keterampilan belajar ini sebagian besar telah termasuk ke dalam klasifikasi West, dkk. dan De Poter,dkk., di atas. Hanya ada beberapa tambahan. Berdasarkan tiga pendapat di atas dapat dikatakan bahwa cukup banyak ragam keterampilan belajar untuk belajar atau metakognitif yang dapat dilatihkan atau diajarkan kepada mahasiswa dalam rangka memudahkan dan mempercepat proses pembelajaran. Chambers & Gregory (2006: 47) menegaskan bahwa proses ini harus diajarkan, eksplisit, komprehensif dan dengan cara yang dimengerti, menarik. Degeng (1989) juga menegaskan bahwa strategi kognitif diajarkan secara terintegrasi dengan penyajian pelajaran.

Berdasarkan berbagai tujuan pembelajaran sastra yang telah dirinci di atas, berikut ini dapat dikemukakan standar kompetensi dan kompetensi dasar pembelajaran sastra di FKIP, khususnya pada mata kuliah Apresiasi dan kajian Prosa Fiksi.

TABEL 2:

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR

MATA KULIAH APRESIASI DAN KAJIAN PROSA FIKSI DI FKIP

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Menguasai pengetahuan sastra 1.1 Mengingat fakta, konsep, prinsip- prinsip, dan prosedur dalam sastra

1.2 Melakukan proses menikmati : membaca atau mendengarkan karya sastra Menganalisis, menginterpretasi, mengungkapkan hubungan interteks, dan mengevaluasi/ menilai karya sastra dan mengungkapkannya baik secara lisan dan tulisan dalam bentuk teks kajian sastra

1.3 Menulis tanggapan (menganalisis, menginterpretasi, mengungkapkan hubungan interteks, dan mengevaluasi/ menilai )karya sastra yang dikliping

1.4 Memproduksi/ mencipta karya sastra dengan memperhatikan pengembangan unsur cerita, pemanfaatan bahasa, dan kematangan intelektual.

2. Mengembangkan kemampuan strategi kognitif 2.1 Meringkas bahan pembelajaran dengan mengembangkan kemampuan mengklasifikasi dan kreativitas dalam bentuk teknik mencatat peta konsep

2.2 Menulis makalah pengetahuan sastra dengan kelengkapan sub- subtopik dan penjelasan yang mencukupi serta menerapkan sistem penulisan ilmiah

3. Mengembangkan sikap/ afektif dalam sastra 3.1 Berpartisipasi aktif dalam membicarakan karya prosa fiksi dan membahas pengetahuan prosa fiksi serta mengembangkan nilai sosial dan emosional dalam pembelajaran prosa fiksi/ diskusi kelas

3.2 Berkolaborasi memberikan masukan/ saran kepada teman dalam proses penulisan kreatif maupun ilmiah, serta pertunjukan sastra yang ditampilkan teman

3.3 Menghargai hasil karya sastra dengan cara memiliki dua karya sastra prosa, menikmatinya, serta menunjukkan proses analisis struktur intrinsiknya

4. Memiliki keterampilan psikomotorik dalam sastra 4.1 Membacakan cerpen atau mendongeng di depan audien dengan teknik vokal, ekpresi, penghayatan karakter tokoh, dan kemampuan komunikatif yang baik.

4.2 Membuat kliping karya prosa fiksi dengan memperhatikan kelengkapan bahan, teknik kliping, dan kreativitas.

3. Penutup

Berdasarkan pembahasan sebagaimana telah diutarakan di atas, bahwa tujuan pembelajaran sastra mencakup berbagai aspek tujuan pembelajaran pada berbagai taksonomi yang dikembangkan para ahli. Dengan demikian, pemilihan dan penetapkan tujuan yang akan dicapai hendaknya berpedoman pada taksonomi tersebut dengan beberapa pertimbangan, seperti kerelevanan dengan peserta didik, dan taraf kepentingannya.

Keragaman penetapan tujuan perlu menjadi pertimbangan mengingat pencapaian suatu aspek tujuan pembelajaran mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran pada aspek yang lain. Misalnya, pencapaian aspek kognitif menentukan pencapaian aspek afektif. Para ahli menyatakan bahwa aspek kognitif dan afektif ibarat dua sisi mata uang yang perlu ada.

Daftar Referensi

Aminuddin. 2010. Pengantar Apresiasi Karya Satra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Anderson, Lorin W. and Krathwohl David R.. 2001. A Taxonomi for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomi of Educational Objectives. ed.. New York: Longmen.

Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra Teori dan Terapan. Padang: Angkasa Raya

Chambers, Ellie dan Gregory, Marshall. 2006. Teaching & Learning English Literatur. London: I Olivar’s Yard

Degeng, I Nyoman Sodana. 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variable. Jakarta : Depdikbud.

Depdiknas. 2008. Perangkat Pembelajaran KTSP SMA. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.

Endraswara, Suwardi. 2011. Metode Pembelajaran Drama. Yogyakarta: CAPS.

Gagne, Robert M. & Leslie J Briggs. 1979.Principles of instructional design. New York: Rinehart and Winston.

Kirszner, Laurie G dan Stephen R. Mandell.1997. Literature: Reading, Reacting, Writing. Florida: Harcourt Brace College Publishers.

Klarer, Mario. 2004. An Introduction to Literary Studies (Second Edition). London dan New York: Routledge

Merrill, M.D. 1983. “Component Display Theory” dalam C.M. Reigeluth (Ed). Instructional– Design Theories and Models: An Overview of Their Current Status. Hillsdale, N.J : Lawrence Erlbaum Associates.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_____. 2001. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

Ratna, Nyoman Khuta. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rohman, Saifur. 2012. Pengantar Metodologi Pengajaran Sastra. Jogjakarta: Ar- Ruzz Media.

Sayuti, A. Suminto . ”Pendidikan Sastra dan Seni Budaya di Era Global: Bagaimana Seharusnya?” , dalam Prosiding Seminar Nasional. diedit oleh Didi Yulistio dan Bustanuddin Lubis. Bengkulu: FKIP Universitas Bengkulu ,26- 27 September 2012.

Semi, M. Atar. 2008. Stilistika Sastra. Padang: UNP Press.

____ .1988. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.

Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Stanton, Robert. 2012. Teori Fiksi Robert Stanton. Terjemahan Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suciati. 1997. Taksonomi Tujuan Instruksional. Jakarta: Depdikbud.

_____. 2001. Taksonomi Tujuan Instruksional . Jakarta: Depdikbud.

Sumarno, Marselli. 1996. Dasar- dasar Apresiasi film. Jakarta: Grasindo.

Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

_____. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: Firma

Uno, Hamzah. 2008.Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar- Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Waluyo, Herman J. 1994. Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Wardani, I.G.A.K.. 1981. Pengajaran Sastra. Jakarta: Departemen P dan K.

Wellek, Rene dan Werren, Austin. 1989. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: Gramedia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s