Resepsi Sastra: Sumber-sumber Penelitian

(Artikel ini telah diterbitkan pada jurnal LATERALISASI, Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, Volume V, Nomor 01, Maret 2017, hlm. 69-79. Berkas asli dapat diunduh disini)

Elyusra
FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Abstrak: Permasalahan yang dibahas dalam artikel ini berkenaan dengan sumber-sumber penelitian resepsi sastra. Berdasarkan hasil pembahasan dapat dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan resepsi sastra adalah suatu metode dalam penelitian sastra yang memberikan perhatian kepada pembaca, karena sastra ditulis untuk pembaca. Pembaca menentukan makna karya dan memberikan reaksi-reaksi dalam rentangan dari penafsiran, penilaian, sampai pada konkretisasi atau penciptaan bentuk-bentuk baru. Sumber-sumber penelitian resepsi sastra dapat berupa: 1) resensi, 2) laporan penelitian, 3) buku, 4) catatan harian, 5) artikel, 6) salinan, 7) terjemahan, 8) saduran, 9) karya-karya transformasi, 10) karya atau penggalan karya dalam buku pelajaran, 11) angket-angket penerimaan pembaca, 12) jurnal baca warga sekolah dalam program GLS, 13) portofolio peserta didik, 14) iklan dan papan nama usaha, 15) internet, 16) media sosial, 17) bidang industri kreatif. Sumber-sumber penelitian resepsi yang
dikemukan di atas, masih dapat berkembang/ mengalami perubahan sebagaimana pembaca teks dan latar belakangnya.
Kata kunci: resepsi sastra, sumber-sumber penelitian resepsi sastra

PENDAHULUAN

Karya sastra sebagai suatu produk seni yang dihasilkan oleh seorang pengarang tentu diharapkan dapat mengundang perhatian atau daya tarik pembaca. Hal ini dikenal dengan istilah resepsi, yang berasal dari bahasa Latin, yaitu resipere yang berarti penerimaan atau penyambutan pembaca.  Hal itu dimungkinkan karena karya sastra memuat berbagai hal yang dapat memenuhi hasrat, keinginan atau kebutuhan pembaca. Sebagai suatu produk seni, karya sastra sudah tentu dapat memenuhi kebutuhan pembaca akan hiburan yang disajikan pengarang melalui berbagai unsur pembangunnya. Gejala yang dapat diamati sebagai tanda penerimaan pembaca seperti pembaca yang tersenyum-senyum ketika membaca, menunjukkan air muka senang, tertawa terbahak-bahak, bahkan tergila-gila dengan karya itu. Pada sisi lain, karya sastra juga dapat menginspirasi diri pembaca, melalui aspek ajaran yang dihadirkan oleh pengarang. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang filusuf Yunani Horatius (dalam Pradopo,2000:85; Endraswara,2011:116), bahwa karya sastra berfungsi dulce et utile, indah  dan berguna. Horatius sejalan dengan Poe (Wellek dan Warren,1989:24-25) yang menyatakan fungsi sastra itu dedactic-heresy, yaitu mengajarkan sesuatu dan menghibur.

Kondisi sebaliknya juga dapat terjadi. Ada pembaca yang merasa jengkel, sedih, menyatakan karya sastra yang dibacanya tidak menghibur, terlalu liar untuk direbut maknanya, “lebai”, bahkan ide pengarang bertentangan dengan idealismenya. Akan tetapi, apa pun kondisinya, semua itu adalah wujud resepsi, reaksi, penyambutan, tanggapan, atau penerimaan terhadap suatu karya sastra oleh pembacanya. Dikatakan Endraswara (2011:119) bahwa resepsi sastra dapat berupa reaksi positif dan negatif.

Laporan respon suatu karya sastra tidak hanya dipublikasikan melalui media massa cetak, tetapi juga melalui media massa elektronik. Respon berupa penciptaan karya baru tampil dalam ragam yang cukup banyak, seperti penciptaan karya sastra baru, pembuatan film, sinetron. dan sebagainya. Kalangan pembaca yang bergerak di bidang enterpreneuship ada pula yang merespon suatu karya sastra dengan menggunakan judul suatu novel menjadi nama usahanya. Selain itu, ada pula orang tua yang memberi nama putra atau putrinya dengan nama yang sama dengan nama tokoh cerita dalam sebuah novel yang diresponnya.

Artikel ini ditujukan untuk membahas konsep atau definisi resepsi sastra dan macam-macam sumber data penelitian yang dapat digunakan dalam penelitian resepsi sastra.  Dalam pembahasan akan dikemukan contoh-contoh kasus respon pembaca yang dikhususkan pula pada respon pembaca terhadap karya fiksi.

Pendekatan yang digunakan untuk dapat mencapai tujuan penulisan artikel ini adalah pendekatan fenomenologi. Dijelaskan Endraswara (2013:122) bahwa pendekatan fenomenologi yang digunakan dalam penelitian resepsi sastra dilakukan dengan mencermati gejala yang tampak pada si pembaca teks sastra. Dalam penulisan artikel ini ragam respon pembaca itu dicermati melalui gejala-gejala yang tampak sebagai reaksi pembaca yang sudah dipublikasikan. Jadi, berupa pengamatan di lapangan dan kepustakaan, bukan eksperimental. Gejala-gejala respon pembaca tersebut dicermati dari bahan-bahan dokumentasi yang tersedia, baik yang berupa media cetak maupun media elektronik, dalam hal ini internet. Sebagai kajian awal, pengamatan gejala respon pembaca ini dilakukan dengan metode sinkronik, yakni pengamatan gejala yang muncul pada ruang, waktu, dan  golongan sosial budaya tertentu.

Dinyatakan Ratna (2009:72) teori-teori postrukturalisme sebagian besar bertumpu pada kompetensi pembaca. Pradopo (dalam Emzir dan Rohman, 2016: 193) menginformasikan bahwa dalam beberapa dekade terakhir teori-teori  poststrukturalisme memberikan perhatian yang serius kepada pembaca. Akan tetapi, resepsi sastra sebagai suatu penelitian yang mewadahi penelitian pragmatik, dinyatakan Endraswara (2013a:116) “Penelitian pragmatik sastra memang masih jarang dilakukan, tidak seperti halnya bidang pragmatik bahasa yang telah banyak dikenal luas”. Pada kesempatan lain dikatakan pula, bahwa pada penulisan skripsi, hanya beberapa judul saja yang mencoba menerapkan resepsi sastra. Dibanding kritik-kritik yang lain, kritik sastra reseptif memang masih perlu mendapat perhatian saksama (Endraswara, 2013b:93). Keprihatinan Endraswara ini dikemukakan kembali, dengan menyatakan “Masih jarang penelitian resepsi sinkronis yang dilakukan oleh ilmuwan sastra maupun para mahasiswa sastra (Endraswara, 2013b:106). Usaha penginvetarisasian kekayaan ragam respon pembaca ini perlu dilakukan. Hal ini mengingat penelitian dengan orientasi aspek pembaca sastra belum mampu mengundang perhatian banyak peneliti. Dengan demikian, diharapkan tulisan ini mampu memancing minat pembaca terhadap kajian sastra yang berorientasi kepada pembaca.

 

PEMBAHASAN

Resepsi Sastra

Karya sastra akan berarti bagi pembaca apabila terjadi pemaknaan terhadap karya tersebut. Akan tetapi, seorang pengarang tidak menyediakan makna bagi karya yang diciptanya. Pembacalah yang harus aktif memburu, mengejar, merebut, dan memberikan makna itu. Apalah arti suatu teks sastra tanpa makna. Selain diam dalam kebisuan, ia tak berfaedah pula bagi pembacanya. Dapat dipahami besarnya peran pembaca, tanpanya sastra kehilangan makna.  Dengan dasar pandangan inilah timbul pergeseran perhatian terhadap teks sastra kepada pembaca sebagai pemberi makna karya sastra.

Secara etimologi resepsi sastra berasal dari kata recipere (Latin), dan reception (Inggris), yang diartikan sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca. Dalam bahasa Jerman, “rezeptionathetik” dimaksudkan sebagai teori penerimaan/ estetika penerimaan. Arti-arti lain yang diberikan pada istilah ini adalah reaksi, tanggapan-tanggapan, dan respon pembaca terhadap teks, karya sastra.

Perhatian pembaca terhadap karya sastra didasarkan pada suatu keyakinan bahwa karya sastra dipandang memiliki energi khusus bagi pembacanya (Endraswara, 2013:94). Energi khusus yang dimiliki suatu teks sastra adalah energi yang muncul dari berbagai unsur teks tersebut, yakni unsur-unsur pembangun karya sastra yang digarap atau diolah oleh pengarang. Pengolahan atas unsur-unsur pembangun ini ada yang dilakukan secara maksimal dan ada pula dalam kadar yang biasa-biasa saja. Hasil pengolahan pengarang akan menimbulkan efek-efek tertentu, baik efek terhadap unsur cerita yang lain, maupun efek terhadap pembaca. Efek yang menyentuh pembaca akan menimbulkan reaksi, tanggapan, penerimaan atau sambutan.

Estetika resepsi atau estetika tanggapan, yaitu estetika (ilmu keindahan) yang didasarkan pada tanggapan-tanggapan pembaca terhadap karya sastra. Sebagai suatu metode dalam penelitian sastra, estetika resepsi mendasarkan diri pada pandangan bahwa suatu karya sastra sejak ia terbit selalu mendapat resepsi atau tanggapan-tanggapan dari pembaca. Dengan mengamati tanggapan-tanggapan pembaca ini, makna historis karya sastra akan ditentukan dan nilai estetikanya akan terungkap (Pradopo,1995:206,209). Dalam arti luas, resepsi didefinisikan sebagai pengolahan teks, cara-cara pemberian makna terhadap karya, sehingga dapat memberikan respon terhadapnya (Ratna, 2009:164-165). Endraswara (2013:104-105) menambahakan tanggapan pembaca dapat berupa interpretasi, konkritisasi, maupun kritik terhadap karya yang dibaca.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa resepsi sastra adalah suatu metode dalam penelitian sastra yang memberikan perhatian kepada pembaca, karena sastra ditulis untuk pembaca. Pembaca menentukan makna karya dan memberikan reaksi-reaksi dalam rentangan dari penafsiran, penilaian, sampai pada konkretisasi atau penciptaan bentuk-bentuk baru.

 

Sumber-sumber Penelitian Resepsi Sastra

Karya sastra yang sudah dimaknai oleh pembacanya akan menimbulkan gejala-gejala tertentu sebagai reaksi, respon, tanggapan, atau penerimaan. Dikemukakan Emzir dan Rohman (2016:193) tanggapan dapat dibedakan atas tanggapan aktif dan pasif.  Tanggapan yang bersifat pasif adalah berupa kondisi atau keadaan pembaca yang telah menikmati atau membaca suatu karya sastra dapat memahami karya tersebut. Sedangkan tanggapan yang bersifat aktif adalah tanggapan dalam wujud realisasi dari karya sastra yang sudah dinikmati atau dibaca seseorang.

Ciri-ciri penerimaan adalah reaksi pembaca terhadap teks, baik langsung maupun tidak langsung. Akan tetapi, resepsi dalam teori kontemporer,  tidak terbatas sebagai reaksi, tetapi sudah disertai dengan penafsiran, bahkan penafsiran yang sangat rinci. Sebuah resensi di surat kabar adalah penerimaan. Bentuk lain resepsi misalnya laporan-laporan, catatan harian, salinan, terjemahan, dan saduran, termasuk pula transformasi, seperti sebuah cerpen ditranformasi menjadi novel (Ratna, 2009:167). Ditambahkan Endraswara (2013:96) bentuk resepsi berupa artikel, penelitian, dan angket-angket. Pada bagian lain dikatakan pula penelitian resepsi diakronis yang melihat bentuk fisik teks yang muncul sesudahnya dapat dilakukan melalui hasil intertekstual, penyalinan, penyaduran, maupun penerjemahan (Endraswara, 2013:106).

Jauh sebelum pernyataan Ratna di atas, Lexemburg, dkk.(1986:79) sudah menyatakan bahwa oleh  pembaca teks dikonkretkan, dijadikan sebuah teks sesuai penghayatan dan pengertiannya. Usaha konkretisasi menghasilkan laporan-laporan. Adapun sumber-sumber terpenting bagi penelitian resepsi ialah:

a) laporan resepsi dari pembaca nonprofesional: catatan dalam buku, catatan harian, catatan di pinggir buku, laporan dalam otobiografi; b) laporan profesional, c) terjemahan dan saduran, d) saduran di dalam medium lain, misalnya film yang berdasarkan sebuah novel, e) resepsi produktif: unsur-unsur dari sebuah karya sastra diolah dalam sebuah karya baru, f) resensi, g) pengolahan dalam buku-buku sejarah sastra, ensiklopedi, dan sebagainya, h) dimuatnya sebuah fragmen dalam sebuah bunga rampai, buku teks untuk sekolah, daftar bacaan wajib bagi pelajar dan mahasiswa) laporan mengenai angket, penelitian sosiologik dan psikologik (Lexemburg, dkk.,1986:79-80).

Sumber-sumber penelitian resepsi terhadap karya sastra dapat dijelaskan sebagai berikut.

1.    Resensi

Resensi mengenai karya sastra termasuk kritik sastra. Dijelaskan  Suratno, dkk. (2010:57) resensi mengenai karya sastra ada yang dipublikasikan di majalah dan surat kabar umum. Resensi sebagai bentuk resepsi sastra ini berupa penyampaian secara terbatas perihal “semacam” bimbingan dari orang yang dianggap mengetahui lebih banyak mengenai suatu buku. Penulis ragam resensi ini adalah sastrawan, kaum akademik, dan pengamat sastra. Bahasa yang digunakan biasanya ragam semi ilmiah populer. Dengan demikian, yang lebih menonjol dalam resepsi macam ini adalah deskripsi ringkas dan penilaian. Sejalan dengan ini, Lexemburg (1986:83)  menyatakan fungsi yang dijalankan oleh suatu resensi bermacam-macam: informasi, keterangan, anjuran positif atau negatif. Hanya sedikit dijumpai sajian informasi yang sistematik yang dapat diandalkan  mengenai terbitan karya sastra baru.

Selain resensi ragam populer seperti di atas, ditemukan juga resensi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah. Sebagai konsekuensinya, tentu ragam resensi ini berupa ragam ilmiah. Diantara jurnal yang memuat resensi dengan ragam ini adalah jurnal Humaniora yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Salah satu resensi dapat dikemukakan di sini adalah resensi yang ditulis oleh Nuriadi, berjudul “Distopia” yang merupakan resensi terhadap suatu Antologi Puisi Anugrah Seni dan Sastra I Fakultas Ilmu Budaya UGM, Terbitan Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Melalui resensi semacam ini dapat digali tanggapan-tanggapan atau penerimaan pembaca terhadap karya.

Sebuah resensi yang ditulis sudah mengindikasikan adanya sambutan pembaca, dalam hal ini adalah sambutan penulis resensi, terhadap karya sastra yang diresensi. Kemungkinan sambutan atau tanggapan beragam, dapat positif dan dapat negatif. Setelah proses pembacaan, penulis resensi sudah dapat mengidentifikasi fungsi-fungsi yang dapat dipenuhi karya itu terhadap pembacanya dan ingin dibagikan kepada pembaca yang lain. Dikatakan Samad (dalam Yudiono, 2009:77-78) bahwa “dalam meresensi buku sastra, orang harus dapat menyimak nilai kehidupan yang termuat dalam karya itu”. Aspek karya yang direspon dapat mencakup nilai-nilai literernya, atau nilai-nilai kehidupan yang digambarkan pengarang, atau kedua-duanya.

2.    Laporan Penelitian

Laporan-laporan penelitian yang biasa ditulis oleh kalangan akademik merupakan ragam respon pembaca tersendiri. Penelitian dalam hal ini dapat berupa penelitian wajib: skripsi, tesis, disertasi dan penelitian biasa yang berupa penelitian yang dilakukan dosen untuk memenuhi BKD (Beban Kerja Dosen). Dalam melakukan penelitian terhadap karya yang direspon, pembaca dapat mengaplikasikan berbagai teori sastra, mulai dari teori kritik struktural, stilistika, interteks, psikologi, feminis, ekologi, tentu saja termasuk teori kritik resepsi. Pada ragam respon ini akan ditemui uraian rinci berkenaan dengan struktur karya serta keterhubungan karya dengan berbagai faktor di luar karya, termasuk aspek pembaca. Ratna (2009:167) menyatakan, resepsi dalam teori kontemporer tidak terbatas sebagai reaksi, tetapi sudah disertai dengan penafsiran, bahkan penafsiran yang sangat rinci.

Laporan penelitian dapat dipandang sebagai ragam resepsi multidimensi. Maksudnya, data respon pembaca yang dapat diungkap dari laporan penelitian terdiri dari beberapa macam respon dari kategori pembaca yang berbeda. Sebagai contoh dapat dikemukan laporan penelitian dengan judul  “Resepsi Novel-novel Mutakhir Berlatar Eropa dan Implementasinya dalam Pembelajaran Pluralisme”, yang dilakukan oleh suatu tim, diketuai Dian Swandayani, S.S., M.Hum., dengan tiga orang anggota tim, yaitu: Dr. Wiyatmi, M.Hum., Ari Nurhayati, S.S., M.Hum., dan Dr. Nurhadi, S.Pd., M.Hum., yang merupakan kelompok dosen di Universitas Negeri Yogyakarta. Laporan penelitian ini ditulis pada tahun 2013 sebagai pertanggungjawaban atas bantuan dana penelitian yang diperoleh (http://eprints.uny.ac.id/24599/1/Laporan%20Akhir%20Stratnas%20DS-CD.docx).

Dari hasil penelitian di atas dapat diungkap ada empat kategori pembaca yang merespon novel-novel mutakhir berlatar Eropa, yaitu: 1) kategori pembaca sebagai tim peneliti, 2) mahasiswa yang menjadi subjek penelitian,  3) para penulis resensi di media-media Indonesia, dan 4) para redaktur media-media Indonesia. Cuplikan respon media, dalam hal ini diwakili oleh penulis resensi,  terhadap salah satu novel tersebut sebagai berikut.

Dalam tulisannya tentang novel The Historian ini, Seno Joko Suyono menyatakan kalau novel ini merupakan tafsir menarik oleh Elizabeth Kostova. “Kita tak tahu seberapa jauh persentase fakta di situ. Semenjak novel-novel Umberto Eco dan Jose Louis Borges, memang muncul tren ”novel” yang menggabungkan fiksi dan sejarah. Novel Kostova yang menggarap dunia Ottoman makin memperkaya hal itu.”

Lebih lanjut Seno memuji kelebihan novel ini yang bakal diangkat menjadi film, sebuah kelumrahan atas kesuksesan novel-novel tertentu yang diangkat ke layar lebar.Novelnya itu bakal diangkat ke layar perak oleh Douglas Wick, produser film Memoirs of a Geisha dan Gladiator. Dapat kita bayangkan film itu pasti kolosal. Membaca novel ini terasa unsur wacana yang bertolak dari riset lebih dominan daripada menampilkan situasi-situasi yang hidup. Itu terutama pada halaman-halaman saat sang sejarawan berdiskusi dengan para profesor dari Universitas Bukarest, Akademi Keilmuan Bulgaria, British Library, sampai Universitas Istanbul. Meski demikian, Seno Joko Suyono meninggalkan satu catatan kelemahan yang dimiliki novel ini, terutama pada ending ceritanya. Dalam artikel tersebut, dia menyatakan akhir novel The Historian agak mengganggu….

Contoh di atas merupakan penelitian biasa yang dilakukan dosen dalam rangka memenuhi BKD. Satu contoh penelitian wajib berupa skripsi yang dilakukan mahasiswa penulis, Andesten, sebagai reaksinya terhadap novel Madre karya Dewi Lestari adalah dengan melakukan kritik resepsi dengan metode eksperimental. Melalui penelitiannya yang berjudul “Respon Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Semester VIII.B FKIP UMB Angkatan 2010 terhadap Karakter Tansen dalam Novel Madre Karya Dewi Lestari” dapat diketahui respon pembaca, yakni mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

3.    Buku

Buku-buku yang ditulis sebagai respon terhadap suatu karya sastra perkembangannya cukup pesat akhir-akhir ini. Cukup banyak buku ditulis  yang dapat dipandang sebagai wujud respon terhadap karya Andrea Hirata. Buku yang ditulis  Sirimonok (2008) kaya akan data respon pembaca. Dalam bukunya, Nurhadi tidak hanya mengungkapkan respon pribadinya terhadap karya Andrea Hirata, tetapi juga respon-respon pembaca yang lain. Buku sebagai wujud respon multidimensi ini sejalan dengan ragam respon laporan penelitian di atas. Dari judul buku Nurhadi, LASKAR PEMIMPI Andrea Hirata Pembacanya dan Modernisasi Indonesia, sudah memberikan informasi adanya dua pembaca, yakni Nurhadi dan pembaca-pembaca yang lain. Kutipan berikut adalah bagian tanggapan Nurhadi dan tanggapan pembaca lain yang dikutip Nurhadi:

Pertengahan tahun 2006 silam, saya membaca Laskar Pelangi di Biblioholic, kafe baca seorang teman. Tak sampai seratus halaman. Saya memutuskan untuk menghentikannya, karena beberapa cacat yang kurang bisa saya terima. Singkatnya buku ini tidak bisa membujuk saya untuk percaya dan terus membaca (Nurhadi, 2008:vi).

Surabaya, 14 Februari 2008, pukul 06:51. Seorang bernama febrianto,…. Dia baru saja menamatkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Di alinea ketiga ia mengetik, “Novel ini menceritakan perjuangan ‘prajurit-prajurit cilik kehidupan’ dengan segala kepolosan ketulusan dan kebebasan jiwa anak-anak yang penuh warna. Semangat jenius Lintang, jiwa artistik nyleneh ala Mahar, kepatuhan A Kiong pada sang pujangga klenik, hingga cinta pertama Ikal yang hampir membuatku menangis, memberi pengalaman baru buatku (Nurhadi, 2008:1).

4.         Catatan Harian

Catatan harian seseorang dewasa ini tidak lagi disimpan di laci dan dikunci, tetapi ada yang dipublikasikan. Catatan harian seseorang dapat dibaca pada situs jejaring sosial,  seperti  contoh berikut:

 

Catatan Harian Gita | contoh cerpen karangan Anak bangsa ☼

☼ Catatan Harian Gita | contoh cerpen karangan Anak bangsa ☼

06 Februari 2003
Dear diary…
Aku bosan dengan novel dan kumpulan cerpen yang sering dihadiakan bang Aldi. Isinya monoton. Tema-tema yang diangkat pasti tidak jauh dari tokoh utamanya yang anak Rohis, cewek-cewek, eh akhwat yang mencoba istiqomah berbusana muslimah, kesedihan sang tokoh utama karena orang tuanya meninggal dan dia terpaksa menjadi gelandangan atau gembel, orang-orang yang segera insyaf dari dosa dan maksiat yang dilakukannya setelah mendengar adzan atau orang mengaji, dan masih banyak lagi tema-tema membosankan lainnya.

Mengapa yach para pengarang novel dan cerpen itu selalu menggambarkan tokoh utamanya sebagai seseorang yang tampan atau cantik, pintar di sekolah, aktiv di organisasi – utamanya Rohis –, jago basket atau karate, gape ngomong English and so on and so on. Sungguh, they are too good to be true. Atau aku aja yang ngiri kali yach? He he he …

 

5. Artikel

Artikel sebagai suatu genre dapat dibedakan atas artikel hasil penelitian dan artikel konseptual. Artikel biasanya ditulis dengan format dan tata tulis yang dipersyaratkan suatu jurnal yang dituju. Jenis artikel yang berpeluang digunakan sebagai sumber data penelitian resepsi sastra adalah artikel hasil penelitian. Atmazaki (2007:168-169) menjelaskan bahwa artikel hasil penelitian merupakan hasil kerja penulisan baru yang dipersiapkan dengan lengkap, kompak, dan ringkas. Bagian yang paling penting disiapkan  dalam artikel hasil penelitian adalah temuan penelitian, pembahasan hasil temuan, dan kesimpulan. Dewasa ini, artikel juga dipilih sebagai bentuk tulisan yang dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah, biasanya dengan jumlah halaman yang lebih sedikit, sehingga sangat singkat. Artikel-artikel di atas dapat menjadi sumber penelitian resepsi yang memuat kaya data. Isinya dengan cakupan yang sama dengan laporan penelitian, tetapi untuk lampiran data awal/mentah tidak dapat diperoleh, demikian juga penjelasan-penjelasan yang rinci.

Beberapa artikel yang memuat data respon pembaca dapat ditemukan dalam jurnal-jurnal yang dikelola dan diterbitkan oleh  fakultas, jurusan, dan program studi pendidikan bahasa (dan nonpendidikan), fakultas, jurusan, dan program studi bahasa (seperti Program Studi Bahasa Indonesia),  fakultas, jurusan, dan program studi sastra, fakultas, jurusan ilmu budaya. Diantara jurnal-jurnal tersebut, seperti: “LATERA” (FBS Universitas Negeri Yogyakarta), HUMANIORA (Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajag Mada), JOURNAL Japanologi (Universitas Airlangga), BASASTRA (FKIP Universitas Sebelas Maret).

Contoh-contoh artikel yang memuat data respon pembaca tersebut diantaranya artikel yang berjudul: ”Horison Harapan Pembaca Kalangan Mahasiswa Sastra Jepang Universitas Airlangga terhadap Novel Saga No Gabai Baachan Karya Shimada Yoshichi” ditulis oleh Lestari Ningsih, dalam Japanologi, Vol.1, No.2 Maret-Agustus 2013. Contoh artikel yang disajikan dalam pertemuan ilmiah adalah 1) “Peran Pantun Mulang-Mulangkan dalam Pemertahanan Nilai-Nilai pada Masyarakat Melayu Sambas Kalimantan Barat Gunta Wirawan (STKIP Singkawang)”, disajikan pada Seminar Nasional  Memperkukuh Peran APROBSI dalam Mewujudkan Kemitraan dan Pemberdayaan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia yang Mandiri; 2) Respon Novel Anak Islami terhadap Degradasi Akhlak Generasi Muda, ditulis oleh Winda Dwi Hudhana, disajikan dalam Musyawarah dan Seminar Nasional III AJPBS, tahun 2014.

6.         Salinan

Salinan adalah naskah hasil penyalinan terhadap suatu naskah, tulisan tangan, yang diteliti oleh filologi atau tekstologi. Seorang penyalin naskah seringkali membuat penyimpangan dari teks yang diteladani dan hal ini bukanlah karena faktor kebetulan atau sebagai suatu keteledoran. Dalam suatu penyimpangan yang terjadi pada proses penyalinan terwujud semacan resepsi penyalin selaku pembaca. Penyalin memberi tanggapan dalam salinannya, misalnya dengan menyesuaikan aslinya dengan norma bahasa atau sastra, budaya, atau norma-norma lain yang sedang berlaku saat penyalinan dilakukan (Teeuw, 1984:216).

7.         Terjemahan

Terjemahan adalah pengalihbahasaan suatu karya atau teks ke dalam bahasa lain, dapat dipandang sebagai resepsi yang sekaligus dapat dipandang sebagai suatu kreasi dan inovasi. Penerjemahan dapat dipandang sebagai suatu tahapan esensial dalam penerimaan norma-norma baru (Teeuw,1984:217). Terjemahan sebagai suatu ragam resensi dapat dilakukan terhadap karya-karya lama, maupun karya-karya baru. Yang cukup fenomenal adalah terjemahan novel Harry Poter.

8.         Saduran

Saduran adalah hasil penggarapan sebuah teks oleh seorang penulis yang disesuaikan dengan norma-norma baru, dengan perubahan yang membuktikan pergeseran horison harapan pembawa, dengan penyesuaian dengan jenis-jenis sastra baru, dengan pencocokan dengan tahap bahasa yang baru, dan sebagainya (Teuuw,1984:215). Contoh resepsi dalam ragam ini adalah drama Putri Bungsu karya Wisran Hadi, yang merupakan saduran dari mitos-mitos Minangkabau.

Saduran novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman el Shirazy ditemui pula dalam bentuk cerpen dengan judul Cinta dan Iman, ditulis Mertia Isti Annisa. Dengan pendekatan interteks, dapat dinyatakan cerpen ini sebagai respon pembaca. Mertia memulai cerpennya dengan kalimat-kalimat berikut:

“Fahri …… jika suatu hari mata ini tak lagi dapat memandangmu, maka jadilah cahaya untukku. Fahri ….. jika suatu hari nanti kaki ini tak lagi dapat mengejarmu, maka jadilah tongkat untukku. Fahri ….. jika suatu hari cintamu pudar untukku, maka jadilah asap yang berlalu. Tinggalkan aku (Annisa,2008).

Terhadap novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, ditemukan resepsinya  berupa  karya buku dengan genre yang hampir sama, berupa cerita anak atau novel anak. Saniya Millatina, seorang siswi kelas VIII SMP memberikan respon terhadap karya Andrea ini dengan menulis sebuah novel  anak dengan judul Lampu Minyak Lintang yang diterbitkan oleh penerbit Bintang Belia (Millatina, 2012). Nini Larasati juga seorang siswi kelas VIII SMP, memberikan responnya dalam bentuk novel anak dengan judul Ikal dan Kapur Aling yang juga diterbitkan oleh penerbit Bintang Belia (Larasati, 2012).  Respon-respon “cantik” ini sangat membahagiakan. Disamping respon berupa pernyataan kelemahan-kelemahan sruktur cerita karya Andrea Hirata, seperti ditemukannya beberapa cacat  yang kurang berterima sehingga tidak dapat dinikmati (Sirimorok, 2008:vi), ternyata karya tersebut memiliki kualitas yang baik dari aspek  pembaca. Kategori pembaca dari kalangan siswa SMP ini dan ragam responnya bahkan dapat memberikan gejala baru dalam kesusastraan Indonesia.

9.         Karya-karya Transformasi

Bentuk-bentuk transformasi dari suatu karya sastra yang direspon dewasa ini cukup melimpah. Dalam kenyataan, transformasi suatu karya tampil dalam wujud yang beragam. Dikemukakan Ratna (2009:167) misalnya, sebuah cerpen ditransformasi ke dalam bentuk novel, drama, film, lukisan, dan sebagainya. Contoh bentuk resepsi ini cukup banyak.

Film adaptasi merupakan salah satu ragam respon pembaca. Karya-karya novel yang fenomenal banyak yang ditransformasi ke dalam film layar lebar, baik dengan judul yang sama, maupun dengan perubahan. Diantara Film-film tersebut adalah Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, Negeri Lima Menara, Madre, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Moga Bunda Disayang Allah. Menurut Suaka (2014:205) karya-karya novel itu “dialihwacanakan menjadi cerita film”. Pada gejala ini terkandung informasi yang sangat kaya tentang respon pembaca. Berbagai tahapan proses kreatif melibatkan pembaca sastra dan demikian juga pada tahap produk sudah jadi. Dipilihnya suatu novel untuk dialihwacanakan ke dalam film sudah merupakan suatu respon pembaca. Penulis skenario dalam proses kreatifnya memiliki respon tersendiri terhadap karya novel. Sutradara yang mengarahkan pemeran juga punya respon tersendiri, demikian selanjutnya. Penonton film akan merespon pula film adaptasi dari novel tadi.

10.     Karya atau Penggalan Karya dalam Buku Pelajaran

Salah satu pendekatan mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam implementasi Kurikulum 2013 saat ini adalah pendekatan pedagogi genre. Dengan pendekatan ini, penyusunan buku siswa dilakukan dengan menggunakan model-model atau contoh-contoh teks bagi siswa, baik dalam tahap pemodelan teks, menganalisis teks, maupun dalam memproduksi teks.  Teks-teks sastra yang termuat dalam buku siswa sudah merupakan data respon pembaca, dalam hal ini respon penyusun buku. Teks-teks sastra yang termuat dalam buku siswa ini dapat dinyatakan disambut baik oleh pembaca, dalam hal ini penyusun buku. Dapat dinyatakan bahwa teks-teks sastra, fragmen, penggalan, atau cuplikannya adalah karya sastra yang baik, yang relevan dengan kategori pembaca siswa suatu tingkat pendidikan.

Teks-teks sastra yang dimuat dalam buku siswa untuk kelas X SMA/MA , misalnya, berarti relevan dengan perkembangan jiwa, kemampuan bahasa, serta latar beakang sosial budaya siswa. Teks-teks yang sudah direspon baik  dimaksud seperti: “Cara Keledai Membaca Buku”, “Surat Cinta Tukang Buah dan Tukang sayur” (anekdot); “Hikayat Indera Bangsawan”, “Hikayat Bunga Kemuning”, “Hikayat Bayan Budiman”, “Hikayat si Miskin” (hikayat); “Tukang Pijat Keliling” (cerpen). Dari judul karya dapat diketahui karya-karya tersebut berupa karya sastra lama dan karya sastra baru (Kemendikbud, 2016).

Mahsun (2014:23-27) menyatakan diantara teks genre sastra, dalam jenis teks tunggal,  yang dipelajari di sekolah adalah teks cerita ulang, naratif, anekdot, dan eksemplum. Teks eksemplum memiliki tujuan sosial menilai perilaku atau karakter dalam cerita. Pesan dalam teks tidak terkait dengan tokoh utama, tetapi terkait dengan pihak partisipan yang mendengar atau membaca cerita.

11.     Angket-angket Penerimaan Pembaca

Angket sebagai sumber penelitian resepsi sebetulnya sudah disinggung pada pembahasan beberapa sumber di atas. Pada sumber berupa laporan penelitian, baik penelitian wajib, maupun penelitian biasa, digunakan angket sebagai instrumen untuk menjaring data respon pembaca. Jadi, angket instrumen penelitian adalah sumber yang menyediakan resepsi pembaca.

Penelitian terhadap respon terhadap teks-teks sastra yang dimuat dalam buku siswa di atas perlu dilakukan. Kepada siswa sebagai pembaca teks-teks tersebut perlu digali informasi tentang interpretasi, penerimaan, dan penilaian mereka. Penelitian ini dapat dilaksanakan dengan metode sinkronik dengan menyebarkan angket kepada siswa setelah siswa mempelajari teks tersebut. Penelitian resepsi ini dapat dikatakan sebagai strategi dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran, terutama pada aspek bahan ajar/ buku ajar.

12.     Jurnal Baca Warga Sekolah dalam Program GLS (Gerakan Literasi Sekolah)

Ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, yang dilaksanakan dengan kegiatan “Menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan program pemerintah melalui Kemendikbud. Selain untuk meningkatkan minat baca, kegitan GLS diharapkan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan siswa dalam membaca dan menulis. Kegiatan ini dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, dinyatakan sebagai program untuk mengembangakan kemampuan awal siswa dalam “Membangun Budaya Membaca”. Sasaran yang diharapkan setelah peserta didik menyelesaikan pendidikan pada jenjang SMA/MA/SMK/MAK telah membaca sekurang-kurangnya 18 judul buku. Setengah dari buku-buku yang dibaca siswa harus merupakan karya sastra (Kemendikbud, 2016:14).

Pada tahap I, Tahap Pembiasaan, siswa dan dapat pula warga sekolah yang lain, ditugaskan melaporkan kegiatan membacanya pada sebuah jurnal.  Pada jurnal yang ditulis warga sekolah inilah akan termuat respon-respon pembaca tersebut. Pada tahap Tahap II, Tahap Pengembangan,:

“1. Ada berbagai kegiatan tindak lanjut dalam bentuk menghasilkan tanggapan secara lisan maupun tulisan”. 2. Peserta didik memiliki portofolio yang berisi kumpulan jurnal tanggapan membaca…. 6. Jurnal tanggapan membaca peserta didik dipajang di kelas dan /atau koridor sekolah (Dirjen Pendasmen, 2016:29).

Pada tahap III, Tahap Pembelajaran, ada berbagai tagihan:

“5. Ada berbagai kegiatan tindak lanjut dalam bentuk menghasilkan tanggapan secara lisan maupun tulisan (tagihan akademik). Jurnal tanggapan membaca peserta didik dipajang di kelas dan /atau koridor sekolah (Dirjen Pendasmen, 2016:30).

Siswa sebagai warga sekolah tidak hanya membaca buku atas pilihannya sendiri, tatapi siswa dan guru juga dapat menyepakati karya sastra yang akan dibaca. Dengan penetapan buku bacaan seperti ini peluang jurnal laporan membaca siswa sebagai sumber penelitian resepsi sastra semakin besar. Jurnal ini akan menyediakan data tentang  resepsi pembaca terhadap suatu karya. Bahkan hal ini dapat dijadikan sumber penelitian yang bersifat diakronis. Karya sastra yang ada pada koleksi perpustakaan sekolah yang ditetapkan sebagai karya yang harus dibaca siswa dapat diketahui sejarah resepsinya.

13.     Portofolio Peserta Didik di Suatu Satuan Pendidikan

Penulis mengajar mata kuliah Kritik Sastra. Salah satu tugas mahasiswa adalah menulis kritik kreatif (Elyusra, 2016). Yang dimaksud dengan kritik kreatif dalam mata kuliah ini mengacu kepada pendapat Atmazaki (1990:76) yang mengatakan  resepsi kreatif dapat berupa penciptaan karya sastra baru yang merupakan tanggapan terhadap karya sastra sebelumnya sehingga terlihat hubungan intertekstualitas di dalamnya. Portofolio mahasiswa dalam hal ini berupa satu judul cerpen, atau naskah drama satu babak, atau tiga judul puisi baru yang mahasiswa ciptakan berdasarkan karya sastra yang mereka kritik. Karya sastra yang mereka kritik dapat berupa sebuah novel, atau buku kumpulan puisi, atau naskah drama. Karya sastra yang dikritik ini disepakati dalam kontrak perkuliahan. Dengan demikian, dokumen yang ada berupa karya sastra baru yang dicipta berdasarkan sebuah karya sastra. Peneliti dapat menyatakan bahwa ini adalah data-data “cantik”, yakni hasil pengolahan suatu teks, yang bernilai sebagai data penyambutan  pembaca.

Sebagai contoh dapat penulis kemukakan penggalan resepsi kreatif yang dibuat mahasiswa sebagai kritiknya terhadap novelet Mahkota Cinta karya Habiburahman el Shirazy .

KISAH SEORANG ANAK RANTAU

(Karya Luli Despita)

Kisah ini bermula perjalanan panjang Wisnu dalam mencari jati diri, kehidupan, dan cinta. Wisnu memulai perjalanan dari Curup, tempat lahirnya, menuju Kota Bengkulu….

Dokumen pembelajaran berupa portofolio peserta didik ini dapat menjadi sumber penelitian resepsi. Secara kasat mata terlihat bahwa tokoh cerita mendapat respon dari pembaca. Pembaca merespon struktur pada aspek permasalahan, tokoh, latar tempat, dan alur.

Karya resepsi kreatif ini dibuat oleh lebih kurang tiga puluh orang mahasiswa. Dokumen inilah nanti yang dianalisis untuk memperoleh gambaran respon mahasiswa terhadap novelet Mahkota Cinta karya Habiburahman el Shirazy. Data respon berkemungkinan berupa kategori pembaca berdasarkan latar belakang sosial budayanya, genre karya baru yang diciptakan, struktur karya yang ditanggapi, serta bentuk respon positif dan negatif yang diberikan pembaca.

Selain mahasiswa di perguruan tinggi, baik FKIP maupun yang non-FKIP, portofolio peserta didik di tingkat sekolah menengah, bahkan di sekolah dasar dapat pula dijadikan sumber penelitian resepsi sastra.

14.     Iklan dan Papan Nama Usaha

Fenomena baru sumber penelitian resepsi sastra adalah  iklan di internet yang ada pada jejaring sosial, seperti iklan ransel berikut. Pada bagian depan ransel tertulis “Laskar Pelangi”. Informasi ini menyediakan data respon terhadap novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Data lainnya dapat ditelusuri dengan teknik wawancara dengan pemilik usaha ransel tersebut, baik dilakukan dengan tatap muka, melalui telepon, atau melalui surat/email.

Papan nama usaha juga dapat dijadikan sumber untuk memperoleh data resepsi pembaca. Misalnya, papan nama usaha di bidang komputer berikut:

img1

Gambar 1. Tampak Muka Toko Laskar Pelangi Komputer

img2

Gambar 2. Ransel Laskar Pelangi

 

Penjaringan data selanjutnya dapat dilakukan dengan metode yang sama seperti yang dilakukan terhadap pengusaha ransel di atas

 

15.     Internet

Internet adalah sumber informasi yang sangat kaya. Internet diumpakan sebagai suatu perpustakaan yang sangat besar. “Perpustakaan” tersebut merupakan gabungan perpustakaan yang ada di dunia yang saling terhubung dalam satu jaringan, yaitu jaringan internet. Selain itu, jenis informasi yang tersedia di internet pun beragam, selain yang berupa teks, ada pula dalam bentuk file-file gambar, suara, atau video (Setianto,2008:2-5). Yang perlu dikuasai adalah mengetahui sumber-sumber informasi yang ada di internet. Setianto (2008:8) menyatakan sumber-sumber tersebut diantaranya website, web directory, portal, blog, forum, dan mailing list.

Kalau ditinjau satu per satu sumber informasi tersebut, maka akan didapati kemungkinan yang sangat luas akan ketersediaan respon pembaca terhadap teks sastra. Misalnya, website sebagai sumber informasi terdiri atas beberapa jenis. Kalau dicermati dari nama-nama jenis website tersebut, secara kasat mata kita sudah dapat menduga adanya ketersediaan respon-respon pembaca sastra di website tersebut.Misalnya, jenis-jenis website seperti website pribadi, disebut juga weblog atau blog, website komunitas atau kelompok, website atau situs berita, website hiburan, website pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Blog atau weblog adalah website yang berisi artikel atau tulisan pribadi yang disusun secara kronologis. Dalam blog akan dijumpai tulisan-tulisan tentang pendapat pribadi, uneg-uneg, atau tulisan lain yang bersifat informal (Setianto,2008:17). Dengan kharakteristik yang demikian, dijumpainya data respon, tanggapan, atau penerimaan pembaca pada sebuah blog yang dimiliki seseorang yang baru saja membaca sebuah karya sastra tentu peluangnya sangat besar, apalagi kalau pemilik blog adalah seorang apresiator sastra pula.

Contoh penggalan-penggalan respon pembaca yang bersumber dari sebuah blog ini sudah penulis utarakan pada bagian sumber berupa buku di atas, sebagaimana yang dikutip oleh Nurhady. Sebaiknya data respon pembaca yang dikumpulkan juga diikuti dengan identitas lengkap pembaca dan situs tempat informasi itu diperoleh.

 

16.     Media Sosial

Salah satu media sosial yang populer dewasa ini adalah facebook. Secara umum tidak ditemukan status yang berisi respon pembaca. Akan tetapi, ada data khusus yang penulis temukan, yakni banyak pemilik facebook yang menggunakan judul sebuah novel sebagai nama facebook-nya. Hal ini dapat menjadi “kunci” atau sumber awal untuk kajian respon pembaca terhadap suatu karya sastra. Misalnya, facebook yang diberi nama dengan nama sebuah judul novel berikut:

img3

Gambar 3. Lambang Organisasi Laskar Pelangi

17.  Bidang Industri Kreatif

Bidang industri kreatif  dewasa ini banyak mendapat perhatian agar dapat berkembang dengan baik. Dalam usaha tersebut dijumpai adanya respon-respon pembaca, dalam hal ini pelaku usaha industri kreatif,  yang merespon teks-teks sastra, terutama karya sastra yang mendapat predikat best seller. Bidang industri kreatif ini mencakup pertelevisian, media massa cetak, usaha garmen, makanan, perfilman, dan lain-lain. Memang bidang industri kreatif ini ada tumpang tindih dengan sumber-sumber penelitian resepsi yang dikemukakan di atas, seperti dengan sumber karya-karya transformasi. Akan tetapi, respon berupa gejala/peristiwa Andrea Hirata, pengarang novel Laskar Pelangi, yang diundang untuk hadir pada acara bergengsi seperti Kick Andy, tentu belum termasuk.

Data-data respon pembaca tidak saja dapat dijaring dari pelaku bidang usaha ini, yakni pemilik usaha industri kreatif, tetapi juga pangsa pasarnya atau konsumennya. Misalnya, di bidang usaha penjualan pakaian, ada pakaian yang didesain dengan gambar/ foto seorang tokoh cerita dari sebuah novel. Sumber data penelitian resepsi dapat digali dari pemilik usaha dan pembeli/konsumen.

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian resepsi sastra adalah bidang yang perlu mendapat perhatian. Selain dinyatakan sebagai bidang yang belum banyak ditekuni peneliti sastra, ternyata bidang ini memiliki potensi untuk berkembang. Salah satu aspek penelitian yang harus kuat untuk dapat mengembangkan penelitian resepsi sastra di masa yang akan datang adalah diketahuinya sumber-sumber penelitian tersebut. Sumber-sumber penelitian resepsi ini punya kedudukan penting, sebagai syarat diperolehnya data yang terpercaya. Dengan dipenuhinya persyaratan ini, maka proses analisis data dan penafsiran data dapat berjalan dengan baik. Beberapa macam sumber penelitian resepsi sastra yang dapat digunakan adalah: 1) resensi, 2) laporan penelitian, 3) buku, 4) catatan harian, 5) artikel, 6) salinan, 7) terjemahan, 8) saduran,  9) karya-karya transformasi, 10) karya atau penggalan karya dalam buku pelajaran, 11) angket-angket penerimaan pembaca, 12) jurnal baca warga sekolah dalam program GLS, 13) portofolio peserta didik, 14) iklan di internet dan papan nama usaha, 15) internet, 16) media sosial, 17) bidang industri kreatif. Sumber-sumber penelitian resepsi yang dikemukan di atas, masih dapat berkembang/ mengalami perubahan sebagaimana pembaca teks dan latar belakangnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Andesten. 2014. Respon Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Semester VIII.B FKIP UMB Angkatan 2010 terhadap Karakter Tansen dalam Novel Madre karya Dewi Lestari.(Skripsi) Bengkulu: Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Atmazaki, 1990. Ilmu Sastra, Teori dan Terapan. Padang:Angkasa Raya Padang.

Atmazaki. 2007. Kiat-kiat Mengarang dan Menyunting. Padang:Citra Budaya Indonesia.

Direktirat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 2016. Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta: Direktirat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Elyusra. 2016. Kontrak Perkuliahan Mata Kuliah Kritik Sastra, FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Tidak Diterbitkan.

Emzir dan Rohman. 2016. Teori dan Pengajaran Sastra. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Endraswara, Suwardi. 2016. Sastra Ekologis, Teori dan Praktik Pengkajian. Yogyakarta:CAPS.

____.2013a. Metodologi Kritik Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

____.2013b. Teori Kritik sastra. Yogyakarta: CAPS.

____. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: FBS Universitas Negeri Yogyakarta.

Hudhana, Winda Dwi. 2014. “Respon Novel Anak Islami Terhadap Degradasi Akhlak Generasi Muda”, dalam Sastra, Prosiding Musyawarah dan Seminar Nasional ke-3 AJPBSI,24-25 Oktober 2014. http://bastind.fkip.uns.ac.id/wp-content/ uploads/2015/04/4.-Setting_AJPBSI_ Sastra.pdf. Diunduh 22 Maret 2016.

Jabrohim ( Ed.). 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.

Kemendikbud. 2016.  Pedoman Mata Pelajaran SMA, MA, SMK, MAK, Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Kemendikbud.
Kemendikbud. 2016. Bahasa Indonesia, SMA,MA,SMK,MAK Kelas X. Jakarta: Kemendikbud.

Larasati, Dini. 2012. Ikal dan Kapur Aling. Yogyakarta:Penerbit Bintang Belia.

Lexemburg, dkk.. 1986. Pengantar Ilmu Sastra, terjemaham Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.

Mahsun. 2014. Teks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013. Jakarta: Raja Grasindo Persada.

Millatina, Saniya. 2012. Lampu Minyak Lintang. Yogyakarta:Penerbit Bintang Belia.

Ningsih, Lestari. 2013. ”Horison Harapan Pembaca Kalangan Mahasiswa Sastra Jepang Universitas Airlangga terhadap Novel Saga No Gabai Baachan Karya Shimada Yoshichi”  dalam Japanologi, Vol.1, No.2 Maret-Agustus. hlm. 203-214.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

___. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Setianto, Eko H.. 2008. Brosing Aja di Internet. Jakarta: Kompas Media.

Sirimonok, Nurhady.2008. Laskar Pemimpi; Andrea Hirata Pembacanya dan Modernisasi Indonesia. Yogyakarta: INSISTPress.

Suaka, Nyoman. 2014. Analisis Sastra, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Suratno, Pardi, dkk.. 2010. Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Elmatera Publishing.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Terjemahan Novel Harry Potter. 2017. https://ms.wikipedia.org/wiki/Terjemahan_Novel_Harry_Potter

Wellek & Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Terj. Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

Wiyatmi, dkk.. 2013. Resepsi Novel-novel Mutakhir Berlatar Eropa dan Implementasinya dalam Pembelajaran Pluralisme,.(http://eprints.uny.ac.id/24599/1/Laporan%20Akhir%20Stratnas%20DS-CD.docx)

Yudiono, 2009. Pengkajian Kritik Sastra Indonesia. Jakarta:Grasindo.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Arsip Tugas Terstruktur Mata Kuliah Kritik Sastra. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s