Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran Menuju Sertifikasi dengan Model GMD

Oleh : Dra. Elyusra, M. Pd.*

*Dosen Pengampu Mata Kuliah Kesusastraan dan Pembelajaran BSI di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Pemilik akun blogĀ https://adabundaguru.wordpress.com

 

ABSTRAK

Pemerintah mengadakan sertifikasi dan uji kompetensi ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan. Bagian daripadanya adalah untuk peningkatan proses dan hasil pembelajaran di sekolah. Dalam kenyataan, sertifikasi dipersepsi secara salah oleh kalangan pendidikan, khususnya guru bahwa sertifikasi adalah tujuan. Sehingga dalam praktiknya, yang diupayakan adalah pemerolehan sertifikat profesinya bukan melaksanakan upaya-upaya peningkatan mutu pembelajaran. Akan tetapi, ada pula kalangan guru yang telah mempertunjukkan minat dan melaksanakan usaha perbaikan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakannya. Sejauh pengamatan penulis upaya tersebut belum optimal. Penyebabnya adalah pengetahuan dan wawasan yang masih terbatas tentang model yang dapat diterapkan, serta pelaksanaannya yang dilakukan secara sendiri-sendiri.

Ada beberapa model peningkatan proses dan hasil pembelajaran yang sudah dikembangkan, diantaranya PTK dan Lesson Study. Kedua model ini pelaksanaannya bersifat kolaboratif. Hal ini seiring dengan paradigma baru yang mulai dianut kalangan pendidikan, khususntya bidang pembelajaran. Pada kesempatan ini, penulis menawarkan satu model peningkatan proses dan hasil pembelajaran, yakni model GMD. Model ini merupakan cara meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan secara berkolaboratif antara Guru Pamong (GP), Mahasiswa Praktik (MP), dan Dosen Pembimbing lapangan (DPL) ketika pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan ( PPL ) oleh suatu LPTK di suatu satuan pendidikan atau sekolah. Adapun prosedurnya: 1) memilih mitra , 1) membuat perencanaan, 3) melaksanakan tindakan dan observasi 4) melaksanakan diskusi dan refleksi, 5) merencanakan pelaksanaan tahap / siklus 2, dan seterusnya.

Model GMD sangat mungkin dilaksanakan dan optimal mencapai hasil peningkatan kualitas pembelajaran, karena sistemnya tidak terlalu rumit dan alamiah. Model GMD pun kaya manfaat, diantaranya: Mengoptimalkan pencapaian tujuan Program PPL; Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah dan LPTK; Meningkatkan kerjasama profesional di antara pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah dan LPTK; Tumbuhnya pembudayaan mutu di lingkungan pendidikan; serta terlaksananya pengembangan profesional berkelanjutan.

Optimalisasi model ini akan dicapai apabila pihak LPTK dapat memasukkan program ini sebagai bagian dari program PPL. Pihak sekolah pun demikian, ada baiknya mengambil kesempatan masa pelaksanaan PPL di sekolah tersebut untuk melaksanakan upaya peningkatan proses dan hasil pembelajaran dengan Model GMD, tentunya.

Lanjutkan membaca Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran Menuju Sertifikasi dengan Model GMD

Mengembangkan Sikap Profesionalisme dengan Melaksanakan Inovasi Pembelajaran Sastra di LPTK

Oleh: Elyusra*

*Dra. Elyusra, M.Pd. pengampu mata kuliah Kesusastraan dan Perencanaan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

 

ABSTRAK

Makalah ini membahas tentang mengembangkan sikap profesionalisme dengan melaksanakan inovasi pembelajaran. Mengembangkan sikap profesionalisme dan melaksanakan inovasi pembelajaran sangat terkait dengan aspek kognitif . Oleh sebab itu, pada makalah ini diungkapkan tentang konsepsi sikap profesionalisme dan inovasi pembelajaran. Sikap profesionalisme adalah komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu. Inovasi pembelajaran berkenaan dengan berbagai aspek pembelajaran yang dijalankan dengan prinsip: analisis, sifatnya konseptual, simpel dan terfokus, dari yang kecil, dan diarahkan pada kepeloporan.Seorang inovator diingatkan untuk tidak bersikap paling pintar, jangan berbuat terlalu banyak, dan jangan memiliki harapan yang terlalu muluk.Kondisi yang memungkinkan terlaksananya inovasi adalah: berkat hasil kerja, di atas kekuatan sendiri, serta berefek ekonomi dan masyarakat. Inovasi pembelajaran sastra di LPTK hendaknya dijalankan dengan mengacu pada dokumen-dokumen normatif, dokumen alternatif, dan realitas kontekstual suatu seting pembelajaran. Sebagai refleksi, beberapa inovasi pembelajaran yang telah dilaksanakan dalam pembelajaran sastra di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu adalah: Meningkatkan fasilitasi terhadap mahasiswa yang bermasalah; Merancang pembelajaran dengan teori elaborasi; Melaksanakan penilaian autentik: menyeimbangkan penilaian proses dan hasil, mencapai standar yang tinggi, menggunakan teknik penilaian portofolio, melaporkan hasil belajar secara analitik; Menggunakan teknik mencatat peta konsep.

 

1. Pendahuluan

Di dalam Undang-Undang RI nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan; Kedudukan dosen sebagai tenaga profesional pada jenjang perguruan tinggi bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Demikian mulianya amanah yang diemban dosen. Akan tetapi, berat pula tanggung jawab yang harus dijalankan. Dengan demikian, profesionalisme dosen saat ini perlu disikapi secara cermat dan handal.

Lanjutkan membaca Mengembangkan Sikap Profesionalisme dengan Melaksanakan Inovasi Pembelajaran Sastra di LPTK

Media Pembelajaran Peta Konsep: Suatu Wawasan Konseptual

Oleh: Dra. Elyusra, M.Pd.*

*Penulis adalah dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu, pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

I. Pendahuluan

Dewasa ini usaha perbaikan pengajaran sedang gencar-gencarnya dilaksanakan pada berbagai aspeknya. Tiga isu sentralnya, yaitu: pengembangan dan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan inovasi pembelajaran. Pada dasarnya, KBK dan KTSP hadir berkat semangat berinovasi. Inovasi pembelajaran mencakup keseluruhan aspek pembelajaran, mulai dari visi, misi, kurikulum, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sebagainya. Pada berbagai tingkat satuan pendidikan persoalan KBK dan KTSP tinggal menjalani proses pematangan saja, karena setiap lembaga pendidikan telah menerima perubahan kurikulum tersebut. Setiap Lembaga pendidikan telah ber-KBK dan ber-KTSP. Dari pengamatan penulis, yang sedang berlangsung sekarang adalah gerakan berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran.

Sebagaimana hakikat inovasi, kegiatan kreativitas itu berupa pemasukan atau pengenalan hal-hal baru; pembaharuan; atau penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Pembeharuan tersebut, dapat berupa gagasan, metode, atau alat ( KBBI, 2001:435 ). Inovasi pembelajaran hendaknya berlangsung secara terus-menerus, dengan meperhatikan sejumlah prinsip, yaitu: 1) atas dasar analisis, 2) bersifat konseptual, 3) bersifat simpel dan terfokus, 4) dimulai dengan yang kecil, dan 5) diarahkan pada kepemimpinan atau kepeloporan ( Drucker dalam Tilaar, 1999: 356 ).

Lanjutkan membaca Media Pembelajaran Peta Konsep: Suatu Wawasan Konseptual

Strategi E-CM-CL untuk Peningkatan Kualitas Proses dan Hasil Belajar pada Mata Kuliah Teori Sastra di LPTK

Oleh: Dra. Elyusra, M.Pd.*

*Pengampu mata kuliah Perencanaan Pembelajaran BSI dan Kesusastraan di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu, pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

 

I. Pendahuluan

Mata kuliah Teori Sastra merupakan mata kuliah yang ditujukan membina kompetensi mahasiswa dalam hal memahami teori kesusastraan yang mencakup hakikat sastra, unsur-unsur atau lapis normanya, jenis (genre) sastra, dan kriteria untuk membedakan jenis sastra.Mata kuliah ini berkategori tipe struktur konseptual. Konsep-konsep tersebut merupakan konsep abstrak.

Dalam mengasuh mata kuliah Teori Sastra peneliti menemukan bahwa beberapa prinsip pembelajaran yang diperlukan sebagai penunjang keberhasilan perkuliahan tidak berjalan secara optimal. Sebagian besar mahasiswa tidak memiliki handout atau buku-buku referensi. Selama proses perkuliahan berlangsung, mahasiswa hanya mencatat materi perkuliahan dari presentasi dosen. Di samping itu, aktivitas mahasiswa untuk bertanya dan mengajukan pendapat sangat rendah. Jika dosen mengajukan pertanyaan, tidak terlihat kemauan dan kemampuan mahasiswa untuk memberikan respon dengan cepat.

Kondisi lain yang sangat mengkhawatirkan pula, yaitu pemahaman konsep mahasiswa sangat rendah terhadap materi perkuliahan dan mahasiswa sering pula miskonsepsi. Apabila diajukan pertanyaan setelah mempelajari suatu konsep, mahasiswa menyatakan belum paham. Pertanyaan yang diajukan pada saat apersepsi, dijawab mahasiswa dengan membacakan buku catatannya. Dalam menjawab pertanyaan waktu ujian (ujian tengah semester dan ujian akhir semester), jawaban yang diberikan mahasiswa seringkali ngawur atau miskonsepsi. Misalnya, jawaban mahasiswa terhadap pertanyaan pengertian kesatuan dalam keragaman sebagai kaidah sastra adalah walaupun terdapat berbagai macam suku bangsa, agama, dan budaya di nusantara tetapi semuanya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan. Padahal pengertian konsep tersebut adalah suatu karya sastra dibangun oleh berbagai unsur namun masing-masing unsur tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Bahkan makna suatu unsur sangat ditentukan eleh keberadaan unsur lain. Misalnya, novel dibangun oleh unsur tema, penokohan, alur, dan sebagainya. Tema bermakna dalam kaitannya dengan unsur lain. Banyak pula mahasiswa yang mempertukarkan definisi suatu konsep dengan definisi konsep yang lain, misalnya definisi sastra dengan definisi teori sastra.

Lanjutkan membaca Strategi E-CM-CL untuk Peningkatan Kualitas Proses dan Hasil Belajar pada Mata Kuliah Teori Sastra di LPTK

Masa Orientasi Siswa, Sebuah Fenomena

Masa Orientasi Siswa (MOS) adala suatu kegiatan untuk mengantar siswa ke jenjang pendidikan baru yang menjembatani siswa baru mengenali berbagai kekhususan dari jenjang pendidikan barunya, baik berupa lingkungan fisik, lingkungan sosial, maupun isi dan cara belajar yang berbeda dengan lingkungan pendidikan sebelumnya. MOS dilaksanakan berdasarkan surat Dirjen Dikdasmen No. 5181/C/MN/1998 tanggal 12 Juni 1998 perihal kegiatan hari-hari pertama siswa baru SMP atau SMA. MOS dilaksanakan secara mandiri oleh pihak sekolah, tanpa campur tangan pihak lain.

Salah satu sekolah yakni SMK Kehutanan Samarinda, mengemukakan tujuan MOS mereka yaitu mendapatkan kesan positif dan menyenangkan tentang lingkungan sekolahnya yang baru. Sekolah lainnya juga melaksanakan MOS dengan tujuan umum yang tidak jauh dari itu.

Pada praktiknya di lapangan, MOS berlangsung dengan menyenangkan apabila diamati oleh pihak sekolah, seperti kepada sekolah dan wakil-wakilnya. Akan tetapi, setelah pihak sekolah berlalu, kegiatan mulai berubah menjadi ajang perpeloncoan dan balas dendam senior kepada junior.

Beberapa kasus dalam MOS rata-rata merupakan kekerasan fisik seperti tinjuan, pukulan, serta hukuman fisik yang melelahkan. Tetapi ada juga kegiatan yang bertujuan untuk membuat siswa malu, seperti dijemur tanpa baju, disuruh berlari dengan celana pendek, bernyanyi di tengah lapangan seorang diri, dan lain sebagainya. Mulai dari yang hanya menyebabkan luka goresan, sampai yang mengakibatkan cidera fisik dan psikologi yang berat. Tak jarang, siswa yang telah mengalami cidera psikologi

Siti Masruroh, seorang pemerhati pendidikan yang juga merupakan Kabid PPTK Dinas Pendidikan Pekalongan, Jawa Tengah, menerangkan bahwa seharusnya MOS itu menciptakan kesan pertama yang menyenangkan, agar tercipta image dan memunculkan kecintaan dan motivasi yang tinggi serta kebanggaan para siswa pada sekolah yang menjadi rumah kedua bagi mereka.

MOS yang atraktif, informatif, dan komunikatif tentu sangat diinginkan oleh siswa baru. Tetapi, ini tergantung pihak sekolah, ingin menyelenggarakan MOS yang atraktif, informatif, dan komunikatif, atau melaksanakan MOS yang penuh dengan senioritas dan balas dendam.

MOS sangat perlu dilakukan, karena segudang manfaat dan mudahnya proses pelaksanaan. Dalam waktu singkat, seorang siswa baru dapat mengenal sekolahnya berikut guru-guru dan kakak-kakak tingkatnya. MOS sangat perlu dilaksanakan, jika atraktif, informatif, dan komunikatif. Jika tidak, MOS tidak boleh dilaksanakan karena segudang manfaat tadi berubah menjadi bencana yang mengancam fisik dan jiwa sang siswa baru.