Kontrak Perkuliahan Berinovasi, Memotivasi dan Islami

Oleh: Dra. Elyusra, M.Pd.*

*Dosen Pengampu Mata Kuliah Kesusastraan dan Pembelajaran BSI di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Pemilik akun blog  https://adabundaguru.wordpress.com

1. Pendahuluan

Dinyatakan pada pasal 27 UU RI No. 14 Th. 2005 tentang Undang-undang Guru dan dan Dosen bahwa salah satu beban kerja dosen yaitu merencanakan pembelajaran. Merancang Kontrak Perkuliahan atau Kontrak Pembelajaran ( KP ) adalah kegiatan yang harus dilakukan dosen setelah selesai menyusun Rancangan Mutu Perkuliahan Semester (RMPS) yang disejalankan dengan penyusunan rancangan evaluasi. Kegiatan setelah ini adalah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP) dan merancang media pembelajaran.

Pada dasarnya yang dimaksud dengan kontrak perkuliahan atau kontrak pembelajaran adalah rancangan perkuliahan yang disepakati bersama oleh mahasiswa dan dosen (Suciati, 1997b:12-5). Sebagaimana halnya suatu kesepakatan tentu pelaksanaannya dilaksanakan sebelum semester atau di awal semester, tepatnya pada pertemuan atau perkuliahan pertama. Adapun kesepakatan itu mencakup seluruh aspek pembelajaran yang akan dilaksanakan dan diberlakukan selama satu semester, seperti kompetensi yang akan dicapai, literatur yang akan digunakan, tugas yang harus dipenuhi mahasiswa dan sistem penilaian yang akan diberlakukan.

Dosen yang profesional harus tanggap terhadap kebutuhan mahasiswa dan memberikan pelayanan terhadapnya. Sebagaimana dikatakan oleh Rektor Universitas Semarang, Ari Soegito MM., “Seorang dosen tidak perlu mimpi dan merasa paling hebat dan berkualitas kalau belum memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada peserta didik. Mau tidak mampu dosen harus mampu menyusun rancangan pengajaran,….” Dalam hal ini, satu diantaranya adalah membuat dan melaksanakan kontrak perkuliahan.

Lanjutkan membaca Kontrak Perkuliahan Berinovasi, Memotivasi dan Islami

Iklan

Model Reflektif dalam Pengembangan Profesional Berkelanjutan: Refleksi Pengalaman Praktis Mendesain Kontrak Perkuliahan

Oleh : Dra. Elyusra, M. Pd.*

*Dosen Pengampu Mata Kuliah Kesusastraan dan Pembelajaran BSI di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

ABSTRAK

Tuntutan peningkatan profesioanalitas dosen dewasa ini semakin tinggi. Untuk itu, dosen dihadapkan pada persoalan melaksanakan pengembangan profesionalnya secara berkelanjutan. Dari berbagai model pengembangan profesional yang dikembangkan, model reflektif merupakan alternatif yang perlu dicobakan.Model reflektif, yaitu pendekatan yang berbasis pada dosen, berupa aktivitas menjadi peneliti, seperti membaca, bertukar pendapat, melakukan observasi, melakukan analisis kritis, dan merefleksikan pengalaman praktis mereka sekaligus meningkatkannya. Suatu contoh hasilnya adalah desain Kontrak Perkuliahan yang inovasi, memotivasi, dan islami yang penulis kembangkan berikut ini.

Dalam pelaksanaannya, model ini dapat mendatangkan hasil yang optimal karena kemampuan belajar mandiri yang telah melekat pada pribadi dosen tersebut. Adapun faktor-faktor lain, seperti: pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan; kompetensi yang akan ditingkatkan dapat sesuai dengan tugas yang diemban dosen; tidak melalui prosedur yang berbelit, melelahkan, bahkan sering menyebabkan patah arang. Disamping itu, ada sejumlah faktor penghambat yang perlu disiasati, seperti:1) dosen tidak memiliki motivasi untuk meningkatkan profesionalnya; 2) dosen tidak terampil mengatur waktu; 3) dosen tidak merasakan kekurangan dirinya; dan 4) dosen tidak mau mengikhlaskan sebagian penghasilannya untuk biaya pengembangan profesional itu, bahkan enggan mengeluarkan tunjangan profesi yang telah diperolehnya .

Pengembangan profesional berkelanjutan dengan model reflektif hanya menuntut kesadaran dari dosen akan profesinya. Oleh sebab itu, sangat disarankan kepada para dosen untuk membina kompetensi tersebut.

Kata kunci: Model reflektif, pengembangan profesional berkelanjutan, kontrak perkuliahan inovatif, memotivasi, dan islami

Lanjutkan membaca Model Reflektif dalam Pengembangan Profesional Berkelanjutan: Refleksi Pengalaman Praktis Mendesain Kontrak Perkuliahan

Model Elaborasi dan Peta Konsep pada Perkuliahan Teori Sastra Suatu Inovasi Pembelajaran di LPTK

Oleh : Dra. Elyusra, M. Pd.*

*Dosen Pengampu Mata Kuliah Kesusastraan dan Pembelajaran BSI di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

 

1. Pendahuluan

Dunia pendidikan sekarang dituntut untuk senantiasa melakukan inovasi dalam pembelajaran, pada berbagai aspeknya, mulai dari visi, misi, tujuan, program, layanan, metode, teknologi, proses, sampai evaluasi. Bagi seorang dosen pemilihan model pembelajaran hendaknya dilakukan secara cermat, agar pilihan itu tepat atau relevan dengan berbagai aspek pembelajaran yang lain, efisien dan menarik. Lebih dari itu, banyak pakar yang menyatakan bahwa sebaik apa pun materi pelajaran yang dipersiapkan tanpa diiringi dengan model pembelajaran yang tepat pembelajaran tidak akan mendatangkan hasil yang maksimal. Kecermatan pilihan itu semakin penting jika kondisi yang dihadapi kurang kondusif, seperti halnya pembelajaran teori sastra bagi mahasiswa semester awal di LPTK.

Pengalaman belajar sastra yang telah dilalui oleh mahasiswa baru atau mahasiswa semester satu di LPTK selama menempuh pendidikan di SLTP dan SMA sudah banyak, namun pada kenyataannya mahasiswa kurang menguasai konsep –konsep sastra, seperti istilah-istilah teknis sastra. Sewaktu di SLTP dan SMA mahasiswa semester awal tadi telah memperoleh pengalaman belajar mengungkapkan aspek estetis sebuah puisi, seperti pola persajakan, menyatakan pendapat tentang tampilan puisi dan variasi bunyi konsonan dan bunyi vocal yang digunakan penyair . Akan tetapi, ketika duduk di LPTK mahasiswa tadi tidak kenal dengan istilah unsur mental dan unsur fisik puisi. tidak mengetahui bahwa penggunaan bunyi vocal dan konsonan tadi disebut dengan asonansi dan aliterasi dan tampilan puisi di atas kertas yang mempesona mereka itu disebut dengan istilah tifografi, bahkan dari pengalaman penulis ada mahasiswa yang menyamakan tifografi dengan biografi. Kejadiannya pun di waktu ujian tengah semester.

Lanjutkan membaca Model Elaborasi dan Peta Konsep pada Perkuliahan Teori Sastra Suatu Inovasi Pembelajaran di LPTK

Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran Menuju Sertifikasi dengan Model GMD

Oleh : Dra. Elyusra, M. Pd.*

*Dosen Pengampu Mata Kuliah Kesusastraan dan Pembelajaran BSI di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

 

ABSTRAK

Pemerintah mengadakan sertifikasi dan uji kompetensi ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan. Bagian daripadanya adalah untuk peningkatan proses dan hasil pembelajaran di sekolah. Dalam kenyataan, sertifikasi dipersepsi secara salah oleh kalangan pendidikan, khususnya guru bahwa sertifikasi adalah tujuan. Sehingga dalam praktiknya, yang diupayakan adalah pemerolehan sertifikat profesinya bukan melaksanakan upaya-upaya peningkatan mutu pembelajaran. Akan tetapi, ada pula kalangan guru yang telah mempertunjukkan minat dan melaksanakan usaha perbaikan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakannya. Sejauh pengamatan penulis upaya tersebut belum optimal. Penyebabnya adalah pengetahuan dan wawasan yang masih terbatas tentang model yang dapat diterapkan, serta pelaksanaannya yang dilakukan secara sendiri-sendiri.

Ada beberapa model peningkatan proses dan hasil pembelajaran yang sudah dikembangkan, diantaranya PTK dan Lesson Study. Kedua model ini pelaksanaannya bersifat kolaboratif. Hal ini seiring dengan paradigma baru yang mulai dianut kalangan pendidikan, khususntya bidang pembelajaran. Pada kesempatan ini, penulis menawarkan satu model peningkatan proses dan hasil pembelajaran, yakni model GMD. Model ini merupakan cara meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan secara berkolaboratif antara Guru Pamong (GP), Mahasiswa Praktik (MP), dan Dosen Pembimbing lapangan (DPL) ketika pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan ( PPL ) oleh suatu LPTK di suatu satuan pendidikan atau sekolah. Adapun prosedurnya: 1) memilih mitra , 1) membuat perencanaan, 3) melaksanakan tindakan dan observasi 4) melaksanakan diskusi dan refleksi, 5) merencanakan pelaksanaan tahap / siklus 2, dan seterusnya.

Model GMD sangat mungkin dilaksanakan dan optimal mencapai hasil peningkatan kualitas pembelajaran, karena sistemnya tidak terlalu rumit dan alamiah. Model GMD pun kaya manfaat, diantaranya: Mengoptimalkan pencapaian tujuan Program PPL; Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah dan LPTK; Meningkatkan kerjasama profesional di antara pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah dan LPTK; Tumbuhnya pembudayaan mutu di lingkungan pendidikan; serta terlaksananya pengembangan profesional berkelanjutan.

Optimalisasi model ini akan dicapai apabila pihak LPTK dapat memasukkan program ini sebagai bagian dari program PPL. Pihak sekolah pun demikian, ada baiknya mengambil kesempatan masa pelaksanaan PPL di sekolah tersebut untuk melaksanakan upaya peningkatan proses dan hasil pembelajaran dengan Model GMD, tentunya.

Lanjutkan membaca Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran Menuju Sertifikasi dengan Model GMD

Mengembangkan Sikap Profesionalisme dengan Melaksanakan Inovasi Pembelajaran Sastra di LPTK

Oleh: Elyusra*

*Dra. Elyusra, M.Pd. pengampu mata kuliah Kesusastraan dan Perencanaan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

 

ABSTRAK

Makalah ini membahas tentang mengembangkan sikap profesionalisme dengan melaksanakan inovasi pembelajaran. Mengembangkan sikap profesionalisme dan melaksanakan inovasi pembelajaran sangat terkait dengan aspek kognitif . Oleh sebab itu, pada makalah ini diungkapkan tentang konsepsi sikap profesionalisme dan inovasi pembelajaran. Sikap profesionalisme adalah komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu. Inovasi pembelajaran berkenaan dengan berbagai aspek pembelajaran yang dijalankan dengan prinsip: analisis, sifatnya konseptual, simpel dan terfokus, dari yang kecil, dan diarahkan pada kepeloporan.Seorang inovator diingatkan untuk tidak bersikap paling pintar, jangan berbuat terlalu banyak, dan jangan memiliki harapan yang terlalu muluk.Kondisi yang memungkinkan terlaksananya inovasi adalah: berkat hasil kerja, di atas kekuatan sendiri, serta berefek ekonomi dan masyarakat. Inovasi pembelajaran sastra di LPTK hendaknya dijalankan dengan mengacu pada dokumen-dokumen normatif, dokumen alternatif, dan realitas kontekstual suatu seting pembelajaran. Sebagai refleksi, beberapa inovasi pembelajaran yang telah dilaksanakan dalam pembelajaran sastra di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu adalah: Meningkatkan fasilitasi terhadap mahasiswa yang bermasalah; Merancang pembelajaran dengan teori elaborasi; Melaksanakan penilaian autentik: menyeimbangkan penilaian proses dan hasil, mencapai standar yang tinggi, menggunakan teknik penilaian portofolio, melaporkan hasil belajar secara analitik; Menggunakan teknik mencatat peta konsep.

 

1. Pendahuluan

Di dalam Undang-Undang RI nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan; Kedudukan dosen sebagai tenaga profesional pada jenjang perguruan tinggi bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Demikian mulianya amanah yang diemban dosen. Akan tetapi, berat pula tanggung jawab yang harus dijalankan. Dengan demikian, profesionalisme dosen saat ini perlu disikapi secara cermat dan handal.

Lanjutkan membaca Mengembangkan Sikap Profesionalisme dengan Melaksanakan Inovasi Pembelajaran Sastra di LPTK

Media Pembelajaran Peta Konsep: Suatu Wawasan Konseptual

Oleh: Dra. Elyusra, M.Pd.*

*Penulis adalah dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu, pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

I. Pendahuluan

Dewasa ini usaha perbaikan pengajaran sedang gencar-gencarnya dilaksanakan pada berbagai aspeknya. Tiga isu sentralnya, yaitu: pengembangan dan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan inovasi pembelajaran. Pada dasarnya, KBK dan KTSP hadir berkat semangat berinovasi. Inovasi pembelajaran mencakup keseluruhan aspek pembelajaran, mulai dari visi, misi, kurikulum, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sebagainya. Pada berbagai tingkat satuan pendidikan persoalan KBK dan KTSP tinggal menjalani proses pematangan saja, karena setiap lembaga pendidikan telah menerima perubahan kurikulum tersebut. Setiap Lembaga pendidikan telah ber-KBK dan ber-KTSP. Dari pengamatan penulis, yang sedang berlangsung sekarang adalah gerakan berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran.

Sebagaimana hakikat inovasi, kegiatan kreativitas itu berupa pemasukan atau pengenalan hal-hal baru; pembaharuan; atau penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Pembeharuan tersebut, dapat berupa gagasan, metode, atau alat ( KBBI, 2001:435 ). Inovasi pembelajaran hendaknya berlangsung secara terus-menerus, dengan meperhatikan sejumlah prinsip, yaitu: 1) atas dasar analisis, 2) bersifat konseptual, 3) bersifat simpel dan terfokus, 4) dimulai dengan yang kecil, dan 5) diarahkan pada kepemimpinan atau kepeloporan ( Drucker dalam Tilaar, 1999: 356 ).

Lanjutkan membaca Media Pembelajaran Peta Konsep: Suatu Wawasan Konseptual

Strategi E-CM-CL untuk Peningkatan Kualitas Proses dan Hasil Belajar pada Mata Kuliah Teori Sastra di LPTK

Oleh: Dra. Elyusra, M.Pd.*

*Pengampu mata kuliah Perencanaan Pembelajaran BSI dan Kesusastraan di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu, pemilik akun blog https://adabundaguru.wordpress.com

 

I. Pendahuluan

Mata kuliah Teori Sastra merupakan mata kuliah yang ditujukan membina kompetensi mahasiswa dalam hal memahami teori kesusastraan yang mencakup hakikat sastra, unsur-unsur atau lapis normanya, jenis (genre) sastra, dan kriteria untuk membedakan jenis sastra.Mata kuliah ini berkategori tipe struktur konseptual. Konsep-konsep tersebut merupakan konsep abstrak.

Dalam mengasuh mata kuliah Teori Sastra peneliti menemukan bahwa beberapa prinsip pembelajaran yang diperlukan sebagai penunjang keberhasilan perkuliahan tidak berjalan secara optimal. Sebagian besar mahasiswa tidak memiliki handout atau buku-buku referensi. Selama proses perkuliahan berlangsung, mahasiswa hanya mencatat materi perkuliahan dari presentasi dosen. Di samping itu, aktivitas mahasiswa untuk bertanya dan mengajukan pendapat sangat rendah. Jika dosen mengajukan pertanyaan, tidak terlihat kemauan dan kemampuan mahasiswa untuk memberikan respon dengan cepat.

Kondisi lain yang sangat mengkhawatirkan pula, yaitu pemahaman konsep mahasiswa sangat rendah terhadap materi perkuliahan dan mahasiswa sering pula miskonsepsi. Apabila diajukan pertanyaan setelah mempelajari suatu konsep, mahasiswa menyatakan belum paham. Pertanyaan yang diajukan pada saat apersepsi, dijawab mahasiswa dengan membacakan buku catatannya. Dalam menjawab pertanyaan waktu ujian (ujian tengah semester dan ujian akhir semester), jawaban yang diberikan mahasiswa seringkali ngawur atau miskonsepsi. Misalnya, jawaban mahasiswa terhadap pertanyaan pengertian kesatuan dalam keragaman sebagai kaidah sastra adalah walaupun terdapat berbagai macam suku bangsa, agama, dan budaya di nusantara tetapi semuanya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan. Padahal pengertian konsep tersebut adalah suatu karya sastra dibangun oleh berbagai unsur namun masing-masing unsur tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Bahkan makna suatu unsur sangat ditentukan eleh keberadaan unsur lain. Misalnya, novel dibangun oleh unsur tema, penokohan, alur, dan sebagainya. Tema bermakna dalam kaitannya dengan unsur lain. Banyak pula mahasiswa yang mempertukarkan definisi suatu konsep dengan definisi konsep yang lain, misalnya definisi sastra dengan definisi teori sastra.

Lanjutkan membaca Strategi E-CM-CL untuk Peningkatan Kualitas Proses dan Hasil Belajar pada Mata Kuliah Teori Sastra di LPTK